Menahan Kencing Berjam-jam, Benarkah Kandung Kemih Bisa Pecah?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Menahan Kencing Berjam-jam, Benarkah Kandung Kemih Bisa Pecah?

Halodoc, Jakarta - Sebuah kejadian nahas dialami oleh Li Hua, remaja 25 tahun di Tiongkok. Karena perbincangannya dengan teman-teman, saat minum-minum bersama sangat seru, ia enggan beranjak menuju toilet ketika timbul rasa ingin buang air kecil dan menahannya hingga berjam-jam. Setelah malam itu, Li Hua mengalami sakit perut hebat dan tidak bisa buang air kecil meski sangat menginginkannya. Setelah memeriksakan diri ke dokter, diketahui mengalami kandung kemih pecah (ruptur kandung kemih). 

Pecahnya kandung kemih Li Hua diketahui mengarah pada perdarahan dan peritonitis, yaitu kondisi peradangan pada lapisan tipis di dinding bagian dalam perut, yang berfungsi untuk melindungi organ-organ dalam perut. Li Hua pun harus menjalani operasi darurat untuk mengalirkan urine yang telah mengisi perutnya, dan melakukan prosedur invasif untuk memperbaiki kandung kemihnya yang pecah.

Baca Juga: Ini Bedanya Infeksi Saluran Kemih dan Batu Kandung Kemih

Mengapa Kandung Kemih Bisa Pecah?

Meski sangat jarang terjadi, pecahnya kandung kemih gara-gara menahan kencing berjam-jam bukanlah hal yang mustahil. Kebiasaan menahan buang air kecil lebih sering menyebabkan infeksi saluran kemih, ketimbang pecahnya kandung kemih. Lalu, mengapa kandung kemih seseorang bisa pecah karena menahan buang air kecil?

Begini, pada orang dewasa, kandung kemih umumnya bisa menampung sekitar 500 mililiter urine, atau setara dengan 2 cangkir. Ketika kapasitasnya mulai penuh, kandung kemih akan mengirim sinyal ke otak untuk segera pergi ke toilet. Saat proses ini terjadi, salah satu bagian dalam kandung kemih yang bernama sphincter silindris akan menutup agar urine tidak bocor ke luar. 

Nah, jika kandung kemih sudah terlampau penuh dan hasrat untuk buang air kecil mulai tidak tertahankan, kemungkinan umum yang terjadi adalah sphincter silindris tidak kuat menutup saluran kemih. Biasanya sebelum kandung kemih pecah, kemungkinan seseorang sudah lebih dahulu mengompol. 

Baca Juga: Kenali Faktor Risiko Munculnya Gumpalan Darah di Urin

Namun pada beberapa kasus, seperti pada orang yang pernah menjalani operasi kanker, terapi radiasi pada kandung kemih, atau pengangkatan kandung kemih yang kemudian diganti baru, situasi tersebut lebih memungkinkan kandung kemih untuk pecah. 

Oleh karena itu, jika kamu memiliki kebiasaan menahan buang air kecil, sebaiknya hentikan, deh. Sebab, ada berbagai risiko penyakit terkait kandung kemih dan saluran kemih yang akan mengintai. Jangan lupa juga untuk selalu menjalani pola hidup sehat dan minum air putih yang cukup. Kalau sakit, jangan ragu untuk diskusikan gejala dengan dokter di aplikasi Halodoc, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter bisa dilakukan kapan dan di mana saja, lewat fitur Chat atau Voice/Video Call.

Penanganan yang Bisa Dilakukan untuk Kandung Kemih Pecah

Selain kebiasaan menahan kencing berjam-jam, kandung kemih juga bisa pecah karena berbagai hal, seperti trauma atau cedera pada bagian bawah perut. Pada kasus pecahnya kandung kemih yang cukup parah atau robekannya terlalu luas, sehingga mengakibatkan urine keluar ke lapisan rongga perut, hal ini perlu ditangani dengan tindakan operasi.

Baca Juga: Wanita Harus Tahu, Ini 4 Gejala Kanker Kandung Kemih

Tindakan operasi yang dilakukan dapat berupa penjahitan kembali bagian yang robek, serta pemasangan kateter drainase (selang kencing) untuk mengalirkan urine selama 10–14 hari pasca operasi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi tekanan selama masa pemulihan, sehingga luka jahitan dapat menutup dengan baik. 

Namun, seperti tindakan medis lainnya, operasi penanganan kandung kemih pecah juga tak luput dari risiko komplikasi dan efek samping berikut ini:

  • Rembesan urine pada dinding bekas luka yang dapat bersifat sementara ataupun permanen.

  • Timbul celah pada bekas luka jahitan atau luka jahitan tidak menutup dengan sempurna.

  • Perdarahan.

  • Infeksi yang dapat menimbulkan nanah dalam rongga panggul.

  • Infeksi saluran kemih.

  • Kapasitas kandung kemih menurun.

  • Sering buang air kemih (beser).

Kemungkinan terjadinya risiko-risiko tersebut tergantung pada tingkat keparahan kondisi, riwayat penyakit sebelumnya, adanya cedera lain, teknik operasi, perawatan pasca operasi, dan kepatuhan minum obat. Tentunya dokter yang menangani akan berusaha untuk meminimalisir komplikasi yang mungkin terjadi, misalnya dengan pemberian antibiotik dan obat-obatan lain yang optimal, serta perawatan pasca operasi yang menunjang. 

Referensi:
National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine. Diakses pada 2019. Bladder Rupture.
Urology Care Foundation. Diakses pada 2019. What is Bladder Trauma?