• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hati-Hati, Anemia saat Hamil Tingkatkan Risiko Stunting pada Anak

Hati-Hati, Anemia saat Hamil Tingkatkan Risiko Stunting pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Menjaga kesehatan tubuh ketika hamil menjadi kewajiban setiap calon ibu. Pasalnya, setiap kondisi yang terjadi pada ibu akan turut berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam kandungan. Jika ibu rentan terserang penyakit, janin turut merasakan dampaknya. Misalnya, ketika ibu mengalami anemia atau kurang darah selama kehamilan. 

Faktanya, di Indonesia, jumlah ibu hamil yang mengalami anemia sudah berada pada tingkatan yang bisa dikatakan memprihatinkan. Sebanyak 48,6 persen ibu hamil mengidap anemia selama kehamilannya. Bisa dikatakan, dari 10 ibu hamil, 4 hingga 5 ibu hamil atau hampir separuh dari total tersebut mengidap anemia. Ini tidak boleh dianggap remeh, karena anemia memicu berbagai masalah, termasuk risiko stunting pada anak. 

Anemia Tingkatkan Risiko Stunting pada Anak

Stunting atau pertumbuhan kerdil dikenal sebagai kondisi ketika anak memiliki tubuh yang terbilang lebih pendek dibandingkan dengan teman-teman seusianya. Kondisi ini bisa terjadi karena banyak hal, termasuk kurangnya asupan nutrisi pada saat kehamilan, faktor genetik, dan sanitasi yang kurang baik. 

Baca juga: 4 Kelainan Darah yang Perlu Diwaspadai Ibu Hamil

Penyebabnya karena kurangnya asupan nutrisi selama kehamilan, sehingga ibu perlu memerhatikan asupan makanan selama kehamilan. Pasalnya, anemia yang sering terjadi pada ibu hamil adalah anemia defisiensi besi yang disebabkan yang disebabkan kekurangan zat besi sehingga terjadi penurunan jumlah sel darah merah yang sehat. Hal ini berhubungan dengan kurangnya asupan nutrisi yang penting untuk pembentukan hemoglobin. Ibu harus tahu, ketika hamil, ibu memerlukan pasokan sel darah lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa dalam kondisi normal. 

Tidak boleh lupa, periksakan juga kondisi kehamilan setiap bulan, agar ibu bisa mengetahui apabila terjadi masalah pada janin atau kehamilan ibu. Sekarang, buat janji dengan dokter kandungan di rumah sakit terdekat tidak lagi sulit, karena ada aplikasi Halodoc yang bisa ibu pakai kapan saja. Bahkan, ibu juga bisa melakukan tanya jawab dengan dokter kandungan atau dokter spesialis lainnya melalui aplikasi ini tanpa harus pergi ke klinik. 

Baca juga: Anemia pada Ibu Hamil, Harus Dirawat di Rumah Sakit?

Bahaya Lain Anemia pada Ibu Hamil dan Janin

Selain meningkatkan risiko kelahiran anak stunting atau bertubuh kerdil, anemia pada ibu hamil punya banyak dampak negatif lain. Anemia yang berada dalam tahapan parah pada ibu hamil di trimester pertama berisiko memperlambat pertumbuhan janin, lahir sebelum waktunya alias prematur, hingga memiliki berat badan yang rendah ketika dilahirkan.

Anemia yang parah pada ibu hamil juga berisiko mengakibatkan rusaknya organ vital, seperti jantung dan otak, bahkan bisa menyebabkan kematian. Pada ibu hamil, anemia yang tidak segera mendapatkan penanganan membuat ibu berisiko mengalami kurang darah ketika melahirkan nantinya. Ibu mungkin harus mendapatkan donor darah selama proses persalinan atau mengalami depresi setelah bersalin. 

Jadi, jangan pernah sepelekan anemia yang terjadi selama kehamilan, mengingat banyaknya risiko berbahaya yang mungkin terjadi pada ibu dan sang buah hati. Kondisi anemia selama hamil lebih berisiko terjadi pada ibu yang hamil di usia muda dengan kondisi morning sickness, mengandung bayi kembar, memiliki anemia sebelum hamil, kurang asupan folat dan zat besi selama hamil, dan mengalami hamil dua kali dalam waktu yang terbilang berdekatan. 

Baca juga: Makanan Penambah Darah yang Baik untuk Ibu Hamil

Referensi: 
American Pregnancy. Diakses pada 2019. Anemia During Pregnancy.
WebMD. Diakses pada 2019. Anemia in Pregnancy.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Anemia During Pregnancy.