• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apa Saja Pemeriksaan untuk Mendeteksi HIV?

Apa Saja Pemeriksaan untuk Mendeteksi HIV?

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta - Satu-satunya cara untuk mengetahui dengan pasti apakah seseorang memiliki HIV dengan melakukan tes. Pasalnya, kamu tidak dapat mengandalkan gejala untuk mengetahui apakah kamu mengidap HIV. Selain itu, mengetahui status HIV memberikan kamu informasi yang kuat sehingga kamu dapat mengambil langkah-langkah untuk menjaga diri dan pasangan tetap sehat.

Apabila kamu positif mengidap HIV, maka kamu dapat minum obat untuk mengobati HIV. Orang dengan HIV yang minum obat HIV setiap hari sesuai resep dapat hidup seperti biasa dan sehat dan mencegah penularannya kepada orang lain. Tanpa obat HIV (terapi antiretroviral atau ARV), virus bereplikasi dalam tubuh dan merusak sistem kekebalan tubuh. Inilah penyebab seseorang perlu melakukan pengobatan sesegera mungkin setelah tes positif.

Baca juga: Jarang Disadari, Inilah Penyebab & Gejala Terkena HIV

Lantas, Apa Saja Pemeriksaan untuk Deteksi HIV?

HIV dapat didiagnosis melalui tes darah atau air liur. Tes tersebut dapat meliputi:

1. Tes Antigen / Antibodi

Tes-tes ini biasanya melibatkan pengambilan darah dari vena. Antigen adalah zat pada virus HIV dan biasanya dapat dideteksi dalam darah pada beberapa minggu setelah terinfeksi virus HIV. Antibodi diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh saat terpapar HIV. Diperlukan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan agar antibodi terdeteksi. Kombinasi tes antigen/ antibodi memakan waktu dua hingga enam minggu setelah paparan menjadi positif.

2. Tes Antibodi

Tes-tes ini mencari antibodi terhadap HIV dalam darah atau air liur. Sebagian besar tes HIV cepat, termasuk tes mandiri yang dilakukan di rumah, adalah tes antibodi. Tes antibodi dapat dilakukan tiga hingga 12 minggu setelah kamu terpapar.

3. Tes Asam Nukleat (NATs)

Tes-tes ini mencari virus yang sebenarnya dalam darah (viral load). Mereka juga melibatkan darah yang diambil dari vena. Jika kamu mungkin telah terpapar HIV dalam beberapa minggu terakhir, dokter dapat merekomendasikan NAT. NAT akan menjadi tes pertama yang menjadi positif setelah terpapar HIV.

Baca juga: Ini yang Perlu Diketahui Sebelum Tes HIV

Jika Sudah Terpapar, Ada Tes Lain yang Perlu Dilakukan

Apabila kamu telah didiagnosis dengan HIV, penting untuk bertemu dengan dokter spesialis yang terlatih dalam mendiagnosis dan mengobati HIV. Mereka akan membantu kamu untuk menentukan beberapa hal, seperti: 

  • Perlunya pengujian tambahan atau tidak; 
  • Menentukan terapi antiretroviral (ART) HIV mana yang terbaik untuk diberikan;
  • Memantau kemajuan dan perkembangan kondisi kesehatan secara keseluruhan. 

Jika kamu menerima diagnosis HIV/AIDS, beberapa tes dapat membantu dokter menentukan stadium penyakit dan perawatan terbaik, termasuk:

  • Jumlah sel CD4. Sel T CD4 adalah sel darah putih yang secara khusus ditargetkan dan dihancurkan oleh HIV. Jika kamu tidak memiliki gejala, infeksi HIV berlanjut menjadi AIDS ketika jumlah CD4 menurun di bawah 200.

  • Viral Load (HIV RNA). Tes ini mengukur jumlah virus dalam darah. Setelah memulai pengobatan HIV, tujuannya adalah untuk memiliki viral load yang tidak terdeteksi. Ini secara signifikan mengurangi peluang seseorang untuk infeksi oportunistik dan komplikasi terkait HIV lainnya.

  • Resistansi terhadap Obat. Beberapa jenis HIV resisten terhadap pengobatan. Tes ini membantu dokter menentukan apakah bentuk spesifik virus memiliki resistensi dan memandu keputusan pengobatan nantinya.

Baca juga: Harus Tahu, HIV dan AIDS Itu Berbeda

Siapa yang Harus Melakukan Tes HIV?

Centers for Diseases Control and Prevention merekomendasikan, setiap orang di Amerika Serikat yang berusia antara 13 dan 64 tahun melakukan tes HIV setidaknya satu kali. Namun, kamu harus dites lebih sering, setidaknya setahun sekali jika berisiko lebih tinggi terkena HIV. Ketahui bahwa risiko akan semakin tinggi jika: 

  • Memiliki beberapa pasangan seksual.
  • Melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan seseorang yang atau mungkin HIV-positif, termasuk seseorang yang riwayat seksualnya tidak kamu ketahui.
  • Menyuntik obat dengan jarum, jarum suntik, atau alat lain yang digunakan orang lain terlebih dahulu.
  • Pernah atau sedang diuji untuk tuberkulosis, hepatitis, atau penyakit menular seksual apapun, termasuk sifilis, gonore, klamidia, atau herpes.
  • Pekerja seks komersiall
  • Berhubungan seks dengan seseorang yang memiliki riwayat semua ini.

Jika kamu masih ingin tahu lebih banyak mengenai berbagai hal mengenai HIV, kamu bisa diskusikan dengan dokter terlebih dahulu di Halodoc. Dokter akan selalu siaga memberikan informasi dan saran yang tepat agar kamu terhindar dari HIV. 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. HIV.
Minority HIV/AIDS Fund. Diakses pada 2020. Symptoms of HIV.
Web MD. Diakses pada 2020. HIV Testing.