21 January 2019

Apakah Epilepsi Bisa Menular Lewat Air Liur?

epilepsi, saraf, penularan ayan, air liur

Halodoc, Jakarta - Mungkin kamu masih bertanya-tanya dan khawatir, apakah benar penyakit epilepsi atau ayan dapat ditularkan melalui air liur. Kini kamu tidak perlu khawatir, karena air liur yang dikeluarkan pengidap epilepsi tidak akan menularkan penyakit.

Ya, epilepsi bahkan bukanlah penyakit yang menular. Mungkin karena gejala-gejala klasik yang diperlihatkan pengidap epilepsi membuat seseorang enggan untuk menolong pengidap epilepsi yang mengeluarkan air liur.

Baca juga: Hapus Stigma Kenali Mitos dan Fakta Epilepsi

Gejala yang muncul ditemukan pada pengidap epilepsi biasanya berbentuk bangkitan atau kejang yang berulang, lidah tergigit, ngompol, serta muka kebiruan (pucat). Pada beberapa pengidap, ia akan mengeluarkan air liur yang tidak dapat mereka kontrol.

Air liur yang keluar dari mulut pengidap epilepsi disebut-sebut dapat menularkan penyakit ini. Akibat stigma inilah, banyak orang yang tidak mau menolong pengidap epilepsi yang sedang kumat dan mengeluarkan air liur yang berbusa.

Biasanya, kamu akan menghindar karena takut terkena air liur orang yang epilepsinya kambuh. Epilepsi ini merupakan gangguan mendadak dan sesaat pada sistem saraf otak dan terjadinya berulang-ulang di tempat yang sama. Penyakit ini dikenal juga dengan ayan, sawan, atau celeng.

Baca juga: Epilepsi Bisa Sembuh atau Selalu Kambuh?

Gangguan atau penyakit kronik yang menyerang 1 dari setiap 2.000 penduduk Indonesia ini sebenarnya tidak semenakutkan itu. Pengidap epilepsi bisa hidup normal seperti orang-orang lainnya. Namun, kondisi ini akan memunculkan serangan yang tiba-tiba seperti kejang berkali-kali di tempat yang sama. Kekambuhan ini hanya terjadi dalam waktu yang singkat.

Penyakit ini pun dapat diobati, sehingga kekambuhan dapat dikontrol. Serangan epilepsi 50 persen terjadi sebelum berusia 18 tahun. Wanita (pengidap epilepsi) memiliki lebih banyak masalah daripada laki-laki. Seperti serangan yang berhubungan dengan siklus haid, melahirkan, dan menyusui.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, kejang epilepsi merupakan kejang yang dapat terjadi berulang kali tanpa sebab tertentu. Namun, tergantung dari bagian otak mana yang diserang, dapat berbentuk kejang keseluruhan atau kejang sedikit. Akibatnya, untuk beberapa kasus tertentu, sulit sekali untuk membedakan mana penyakit kejiwaan dan penyakit epilepsi.

Baca juga: Bisakah Epilepsi Disembuhkan dengan Operasi?

Setiap orang yang epilepsi memiliki gangguan yang berbeda-beda tergantung dari bagian otak yang diserang. Jadi, untuk kasus tertentu, ada pengidap epilepsi yang terus mengeluarkan liur walaupun ketika kamu tanya dia akan meresponnya dan itu tidak jelas menular.

Untuk itu, kamu perlu waspadai beberapa faktor yang membuat seseorang lebih berisiko mengalami epilepsi:

  • Usia. Setelah usia seseorang mencapai 35 tahun ke atas, tingkat kasus baru epilepsi yang mulai muncul pun meningkat. Kondisi ini dapat disebabkan oleh stroke, tumor otak, atau penyakit alzheimer, yang semua dapat menyebabkan epilepsi.

  • Jenis kelamin. Dalam banyak hal, penyebab epilepsi berbeda bagi wanita daripada pria. Perbedaan timbul karena perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki. Selain itu, perbedaan muncul karena peran sosial yang berbeda dari masing-masing jenis kelamin pada pengidap epilepsi.

  • Faktor genetik. Jika kamu memiliki orangtua atau saudara yang mengidap epilepsi, faktor tersebut dapat menjadi penyebab epilepsi menurun pada diri kamu.

  • Trauma pada otak. Kerusakan atau cedera otak terjadi ketika sel-sel otak yang dikenal sebagai neuron menjadi hancur. Kerusakan saraf pada otak tersebut dapat menimbulkan epilepsi pada pengidapnya.

  • Kondisi medis tertentu. Infeksi pada sistem saraf dapat mengakibatkan aktivitas kejang. Ini termasuk infeksi pada otak dan cairan tulang belakang atau penyakit meningitis, infeksi otak atau ensefalitis, dan virus yang memengaruhi imun manusia (HIV), serta infeksi saraf dari imun manusia terkait yang dapat menjadi penyebab epilepsi.

Itulah sejumlah informasi terkait penyakit epilepsi. Jika kamu masih memiliki pertanyaan mengenai gangguan epilepsi, kamu dapat menanyakannya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat kamu terima dengan praktis dengan download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga!