Ad Placeholder Image

3 Masalah Kesehatan Mental Akibat Afasia

Ditinjau oleh  dr. Rizal Fadli   09 November 2021
3 Masalah Kesehatan Mental Akibat Afasia3 Masalah Kesehatan Mental Akibat Afasia

“Afasia menjadi salah satu kondisi yang dipicu oleh kerusakan pada otak. Kondisi ini ditandai dengan gangguan berkomunikasi, yang memengaruhi kemampuan berbicara, menulis, dan memahami kata-kata yang dibaca serta didengar. Jika dibiarkan, afasia dapat memicu masalah kesehatan mental.”

Halodoc, Jakarta – Otak menjadi salah satu organ vital manusia. Fungsinya sendiri sangat penting, mulai dari mengatur pikiran, ucapan, perasaan, penglihatan, pendengaran, gerakan, ingatan, hingga kerja organ dalam tubuh. Jika otak mengalami kerusakan, fungsinya otomatis akan terganggu.

Salah satu kondisi yang terjadi akibat adanya kerusakan otak adalah afasia, yang ditandai dengan penurunan kemampuan berkomunikasi. Hal tersebut berdampak pada penurunan kesehatan mental, dan memicu sejumlah gangguan, seperti depresi, kecemasan, dan isolasi.

Baca juga: 4 Gangguan Mental yang Terjadi Tanpa Disadari

Afasia, Gangguan Komunikasi Akibat Kerusakan pada Otak

Sebelum mengetahui masalah kesehatan mental apa saja yang disebabkan oleh afasia, sebaiknya ketahui arti dari afasia itu sendiri. Afasia adalah kondisi saat seseorang mengalami gangguan dalam berkomunikasi akibat kerusakan pada otak. Gangguan tersebut mencakup kemampuan bicara, berbahasa, menulis, dan membaca. 

Gejalanya sendiri dapat muncul secara bertahap akibat pertumbuhan dan perkembangan penyakit pada otak. Tingkat keparahan kondisinya pun beragam. Jika terjadi dalam intensitas ringan, penyakit biasanya hanya memengaruhi satu aspek berkomunikasi saja, seperti:

  • Ketidakmampuan menyebutkan nama objek atau benda.
  • Ketidakmampuan menggabungkan kata menjadi kalimat.
  • Ketidakmampuan membaca tulisan.

Afasia juga dapat terjadi dalam intensitas parah. Kondisi tersebut membuat pengidapnya kehilangan kemampuan berkomunikasi sama sekali. Meski dapat terjadi pada siapa pun, afasia umum dialami oleh lansia di atas 65 tahun, dan pengidap penyakit stroke serta sistem saraf.

Baca juga: Ini Ciri-Ciri Seseorang Mengalami Gangguan Kesehatan Mental

Gangguan Kesehatan Mental Akibat Afasia

Terputusnya komunikasi dengan orang-orang terdekat otomatis berdampak pada kehidupan sehari-hari, termasuk hubungan pribadi dan pekerjaan. Jika kondisi tersebut tidak diatasi dengan baik, afasia dapat menyebabkan munculnya masalah kesehatan mental, seperti isolasi sosial, gangguan kecemasan sosial, dan depresi.

1. Isolasi Sosial

Isolasi sosial adalah kondisi saat seseorang mengalami penurunan atau kehilangan kemampuan berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Kondisi ini umumnya dialami oleh orang dewasa yang berusia di atas 50 tahun. Jika tidak diatasi dengan langkah yang tepat, isolasi sosial dapat memicu sejumlah kondisi berikut:

  • Meningkatkan risiko kematian dini akibat bunuh diri.
  • Meningkatkan risiko obesitas akibat tidak aktif secara fisik.
  • Meningkatkan risiko demensia sebanyak 50 persen.
  • Meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
  • Meningkatkan risiko depresi akibat hubungan sosial yang buruk.

2. Gangguan Kecemasan Sosial

Gangguan kecemasan sosial atau social anxiety disorder ditandai dengan rasa takut dan cemas diberi penilaian buruk, dianggap remeh, atau tidak diterima di berbagai situasi sosial. Kondisi ini didasari dengan ketakutan akan diperhatikan, dinilai oleh publik, atau takut mempermalukan diri sendiri di depan umum.

Keadaan tersebut otomatis membuat kamu tidak bisa menikmati hidup selayaknya orang normal. Jika tidak diatasi dengan langkah yang tepat, gangguan kecemasan sosial dapat memicu sejumlah kondisi berikut:

  • Merasa tidak percaya diri.
  • Tidak mampu mengambil keputusan dalam berbagai situasi.
  • Terlalu sering mengkritik diri sendiri.
  • Terlalu sensitif terhadap kritik apa pun dari orang lain.
  • Tidak memiliki kemampuan bersosialisasi.
  • Sering menyendiri dan tidak mampu membangun hubungan baik dengan orang lain.
  • Tidak memiliki pencapaian apa pun.
  • Terjerumus ke dalam penyalahgunaan alkohol atau narkotika.
  • Melakukan percobaan bunuh diri.

3. Depresi

Depresi adalah kondisi umum dan serius yang mempengaruhi perasaan seseorang secara negatif. Depresi juga memengaruhi pola pikir dan tindakan seseorang, sehingga muncul perasaan sedih atau kehilangan minat akan hal yang disukai sebelumnya. Beruntungnya, kondisi ini dapat diobati jika cepat terdeteksi. 

Jika tidak diatasi dengan langkah yang tepat, depresi dapat memicu sejumlah kondisi berikut:

  • Peningkatan berat badan yang memicu penyakit jantung dan diabetes.
  • Badan pegal-pegal tanpa sebab.
  • Terjerumus ke dalam penyalahgunaan alkohol atau narkotika.
  • Mengidap gangguan panik.
  • Mengidap fobia sosial.
  • Mengalami konflik keluarga.
  • Mengalami kesulitan dalam hubungan pribadi.
  • Mengalami masalah pekerjaan.

Baca juga: 3 Jenis Gangguan Jiwa Berat dan Cara Mengatasinya

Jika kamu atau orang terdekat mengalami sejumlah tanda gangguan mental akibat afasia, cobalah untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan psikiater atau psikolog. Seperti yang telah diketahui bersama, afasia dapat mengganggu bahkan menurunkan kualitas hidup pengidapnya.

Untuk mencegah terjadinya sejumlah kondisi tersebut, kamu dapat menerapkan pola hidup sehat guna menjaga kesehatan otak. Langkah tersebut dapat ditunjang dengan konsumsi suplemen atau multivitamin. Silahkan cek kebutuhan suplemen atau multivitamin yang dibutuhkan di sini lewat aplikasi Halodoc.

This image has an empty alt attribute; its file name is HD-RANS-Banner-Web-Artikel_Spouse.jpg

Referensi:

NHS UK. Diakses pada 2021. Aphasia.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Aphasia
CDC. Diakses pada 2021. Loneliness and Social Isolation Linked to Serious Health Conditions.
Healthline. Diakses pada 2021. Social Anxiety Disorder.
American Psychiatric Association. Diakses pada 2021. What Is Depression?