• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Afasia

Afasia

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Afasia

Pengertian Afasia

Afasia adalah gangguan yang disebabkan oleh kerusakan pada area otak yang memproduksi dan memproses bahasa. Akibatnya, orang dengan gangguan ini mengalami kesulitan berbicara, membaca, menulis dan memahami bahasa, sehingga tidak bisa berkomunikasi dengan baik.

Penurunan kemampuan berkomunikasi ini bisa berkisar dari ringan hingga sangat parah (tidak bisa berkomunikasi sama sekali). Namun, pengidap biasanya kesulitan untuk menemukan kata yang tepat dan menyusunnya menjadi kalimat yang bermakna. 

Kondisi ini bisa terjadi secara tiba-tiba setelah stroke atau cedera kepala. Namun, gangguan ini juga bisa terjadi secara bertahap akibat tumor otak.

Baca juga: Apakah Komplikasi yang Bisa Disebabkan oleh Stroke Hemoragik?

Faktor Risiko Afasia

Afasia dapat terjadi pada siapa saja, tanpa memandang usia. Namun, gangguan ini lebih dialami oleh mereka yang berusia paruh baya dan lebih tua.

Penyebab Afasia

Penyebab yang paling umum adalah kerusakan otak akibat stroke, penyumbatan, atau pecahnya pembuluh darah di otak. Selain itu, kerusakan otak akibat cedera kepala yang parah, tumor, infeksi, atau proses degeneratif juga bisa menyebabkan afasia. 

Penyakit seperti demensia juga bisa menyebabkan menurunnya fungsi sel-sel otak, sehingga mengakibatkan afasia. Pada kondisi ini, gangguan tersebut biasanya berkembang secara bertahap.

Terkadang, episode afasia juga bisa terjadi sementara. Hal itu bisa disebabkan oleh migrain, kejang, atau serangan iskemik transien (TIA). TIA terjadi ketika aliran darah diblokir sementara ke area otak.

Gejala Afasia

Afasia adalah tanda dari beberapa kondisi kesehatan lainnya, seperti stroke atau tumor otak. Berikut ini  gejala yang mungkin terjadi:

  • Berbicara dalam kalimat pendek atau tidak lengkap.
  • Berbicara dengan kalimat yang tidak bisa dimengerti atau tidak masuk akal.
  • Mengganti satu kata dengan yang lain atau satu suara dengan yang lain.
  • Mengucapkan kata-kata yang tidak bisa dikenali.
  • Tidak mengerti ucapan orang lain.
  • Menulis kalimat yang tidak bisa dimengerti atau tidak masuk akal.

Orang dengan afasia juga memiliki pola kekuatan dan kelemahan yang berbeda-beda. Berikut ini jenis-jenisnya:

  • Afasia Ekspresif

Ini disebut juga afasia broca atau afasia tidak lancar. Orang dengan jenis ini lebih bisa memahami apa yang dikatakan orang lain, daripada mengucapkan kalimat yang bisa dipahami. Pengidap kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata, seringkali berbicara dalam kalimat yang sangat pendek dan menghilangkan kata-kata. Contohnya, “Mau makan” atau “Berjalan di taman hari ini”.

  • Afasia Komprehensif

Orang dengan afasia komprehensif atau disebut juga Wernicke bisa berbicara dengan mudah dan lancar dalam kalimat yang panjang dan rumit yang tidak bisa dimengerti, atau menambahkan kata-kata yang tidak bisa dikenali, salah atau tidak perlu.

  • Afasia Global

Jenis ini ditandai dengan kemampuan memahami pembicaraan orang lain yang buruk dan kesulitan membentuk kata dan kalimat.

Diagnosis Afasia

Untuk mendiagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan neurologis, termasuk menguji kekuatan, perasaan dan refleks kamu, mendengarkan detak jantung kamu, dan pembuluh darah di leher.

Untuk memastikan diagnosis, dokter juga akan melakukan beberapa pemeriksaan berikut:

  • Tes pencitraan, seperti MRI dan CT scan. Tes ini bisa membantu dokter mengidentifikasi penyebab dan area otak yang rusak.
  • Pemeriksaan Keterampilan Berkomunikasi. Pada pemeriksaan ini, pengidap akan diminta untuk melakukan percakapan, menyebutkan nama objek, menjawab pertanyaan, dan mengikuti instruksi.

Pengobatan Afasia

Pengobatan untuk kondisi ini bertujuan untuk memperbaiki kemampuan berkomunikasi dan berbahasa, serta mengembangkan metode komunikasi lain yang diperlukan. Bila kerusakan otak yang terjadi ringan, afasia biasanya bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, pada kasus yang parah, berikut ini pengobatan afasia yang bisa dilakukan:

  • Terapi Wicara dan Bahasa

Bagi pengidap afasia, terapi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk berkomunikasi dengan memulihkan sebanyak mungkin bahasa, mengajarkan cara mengembalikan keterampilan bahasa yang hilang, dan menemukan metode komunikasi lain.

  • Obat-obatan

Beberapa jenis obat tertentu juga bisa diberikan dokter untuk mengobati afasia. Obat-obatan yang biasanya diberikan adalah obat yang bekerja untuk meningkatkan aliran darah ke otak, meningkatkan kemampuan pemulihan otak, atau membantu menggantikan bahan kimia yang habis di otak (neurotransmitter).

Baca juga: 4 Hal yang Perlu Dilakukan Saat Lakukan Terapi Wicara

Pencegahan Afasia

Afasia biasanya tidak bisa dicegah. Namun, cara terbaik untuk menghindari afasia adalah dengan mencegah penyebab kerusakan otak, seperti stroke dan menjaga kesehatan otak sebaik mungkin dengan gaya hidup sehat.

Berikut ini gaya hidup sehat untuk mencegah afasia:

  • Mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang.
  • Berolahraga setiap hari.
  • Menjaga berat badan yang sehat.
  • Mengurangi asupan alkohol.
  • Menjaga kadar gula darah, tekanan darah dan kolesterol tetap normal.
  • Berhenti merokok.
  • Tidur yang cukup.

Baca juga: 5 Makanan Sehat untuk Meningkatkan Kinerja Otak

Kapan Harus ke Dokter

Oleh karena afasia seringkali merupakan tanda masalah serius, seperti stroke, segera temui dokter bila kamu tiba-tiba mengalami:

  • Kesulitan berbicara.
  • Kurang bisa memahami ucapan.
  • Kesulitan dengan mengingat kata.
  • Masalah dengan membaca atau menulis.

Kamu juga bisa membicarakan gejala kesehatan yang kamu alami dengan dokter dengan menggunakan aplikasi Halodoc.

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Aphasia
Cleveland Clinic. Diakses pada 2021. Aphasia