• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 4 Faktor yang Tingkatkan Risiko Alami Gangguan Muskuloskeletal

4 Faktor yang Tingkatkan Risiko Alami Gangguan Muskuloskeletal

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Gangguan muskuloskeletal bisa menyerang siapa saja. Namun, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko penyakit ini. Sebelumnya perlu diketahui, gangguan muskuloskeletal merupakan penyakit yang bisa mengganggu fungsi sendi, ligamen, otot, saraf, tendon, serta tulang belakang. Gejala khas dari kondisi ini adalah rasa nyeri atau sakit pada area yang diserang. 

Secara umum, kondisi ini bisa disebabkan oleh beberapa hal. Gangguan muskuloskeletal bisa dipicu oleh faktor usia, pekerjaan, tingkat aktivitas, serta gaya hidup. Atlet disebut lebih sering berisiko mengalami gangguan muskuloskeletal. Selain itu, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko penyakit ini, mulai dari penggunaan otot dan sendi secara paksa, hingga gerakan yang dilakukan berulang. 

Baca juga: Apa Tanda dan Gejala Gangguan Muskuloskeletal?

Penyebab dan Faktor Risiko Gangguan Muskuloskeletal

Jaringan otot bisa rusak akibat kelelahan dengan kegiatan sehari-hari. Cedera atau trauma di suatu bagian yang disebabkan oleh gerakan tiba-tiba, kecelakaan mobil, dan jatuh juga dapat menyebabkan nyeri muskuloskeletal. Penyebab lain nyeri termasuk salahnya posisi tulang belakang dari postur tubuh yang buruk atau pendeknya otot dari kurangnya aktivitas.

Selain itu, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko penyakit ini, di antaranya: 

1.Penggunaan Berlebihan 

Terlalu sering menggunakan atau menyalahgunakan sekelompok otot atau tulang untuk waktu yang lama tanpa istirahat sebaiknya dihindari. Selain itu, menggunakan kekuatan untuk melakukan suatu kegiatan, seperti mengangkat, mendorong, menarik, ataupun membawa benda-benda berat secara paksa juga bisa meningkatkan risiko gangguan muskuloskeletal.

2.Gerakan Berulang 

Terbiasa melakukan gerakan atau kegiatan berulang juga bisa meningkatkan risiko terjadinya gangguan muskuloskeletal. Untuk menghindarinya, jangan melakukan tindakan sama berulang kali dengan otot atau sendi yang sama.

3. Postur Tubuh 

Risiko gangguan ini juga meningkatkan karena postur tubuh yang salah. Membungkuk atau memutar tubuh dalam waktu yang lama bisa memicu gangguan muskuloskeletal.

4.Getaran 

Mengoperasikan mesin dan peralatan yang bergetar juga bisa menjadi pemicu gangguan pada sendi atau otot. Maka dari itu, sebaiknya beristirahatlah jika merasa sudah terlalu lama melakukan atau terpapar mesin yang bergetar. 

Baca juga: Mengapa Gangguan Muskuloskeletal Terjadi?

Selain muncul rasa sakit, ada beragam gejala lain yang bisa menjadi tanda penyakit ini. Meski begitu, gejala gangguan muskuloskeletal bisa berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Gejala umum dari kondisi ini adalah rasa nyeri atau ngilu, mudah kelelahan, mengalami gangguan tidur, peradangan, pembengkakan, dan kemerahan. 

Kondisi ini juga menyebabkan pengidapnya mengalami penurunan rentang gerak, kesemutan, mati rasa atau kekakuan, serta kelemahan otot atau kekuatan cengkeraman menurun. Nyeri yang muncul sebagai tanda penyakit ini sering tidak dikenali, dan dianggap sebagai penyakit biasa. Padahal, gangguan muskuloskeletal sama sekali bukan penyakit biasa. 

Maka dari itu, dibutuhkan pemeriksaan untuk mengetahui apakah gejala yang muncul merupakan tanda gangguan muskuloskeletal atau karena penyakit lain. Penyakit ini didiagnosis melalui pemeriksaan fisik dan riwayat medis secara menyeluruh. Pemeriksaan akan dilanjutkan dengan menguji otot atau sendi, tujuannya untuk mengetahui kelemahan atau degenerasi, kerusakan saraf, pembengkakan, serta kemerahan. 

Baca juga: Bikin Susah Gerak, Ketahui 5 Jenis Kelainan Sistem Gerak

Cari tahu lebih lanjut seputar gangguan muskuloskeletal dengan bertanya pada dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter tepercaya. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi
WHO. Diakses pada 2020. Musculoskeletal conditions
Health and Safety Executive. Diakses pada 2020. Musculoskeletal disorders.
Healthline. Diakses pada 2020. Musculoskeletal Disorders