• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 4 Mitos dan Fakta Terkait Penyakit Cacingan

4 Mitos dan Fakta Terkait Penyakit Cacingan

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Coba tebak, kira-kira berapa banyaknya masyarakat global yang harus berhadapan dengan masalah cacingan? Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 1,5 miliar penduduk dunia terinfeksi cacing yang ditularkan melalui tanah. Sudah kebayang betapa banyaknya? Angka tersebut melebihi jumlah negara terpadat di dunia, yaitu Tiongkok (1,4 miliar penduduk). Sangat, banyak bukan? 

Kendati dikenal sebagai penyakit ‘sejuta umat’, tapi masih banyak saja disinformasi mengenai cacingan. Masih banyak mitos-mitos yang beredar mengenai penyakit ini.

Lantas, apa saja sih mitos dan fakta mengenai cacingan yang perlu diketahui? Nah, agar tak ikut tersesat, simak penjelasan selengkapnya di bawah ini. 

Baca juga: 4 Fakta tentang Taeniasis, Gangguan karena Cacing Pita

1.Cacingan Tidak Berbahaya

Sebenarnya infeksi cacing ini bisa ditangani dengan mudah, tapi andaikan sudah menyebar lain lagi ceritanya. Contohnya, pada kasus cacing gelang (Ascaris lumbricoides). Menurut Kementerian Kesehatan RI, infeksi kronis cacing gelang pada anak bisa menyebabkan kegagalan pertumbuhan akibat dari penurunan nafsu makan, terganggunya proses pencernaan, dan malabsorbsi.

Efek yang serius terjadi bila cacing menggumpal dalam usus sehingga terjadi obstruksi usus (ileus). Jika cacing dewasa masuk dan menyumbat saluran empedu dapat terjadi kolik, kolesistitis (radang kantong empedu), kolangitis (radang saluran empedu), pankreatitis dan abses hati.

Lain cacing gelang lain pula bahayanya cacing pita. Bila menyebar ke organ tubuh lainnya, taeniasis berpotensi menimbulkan masalah kesehatan yang serius.

Contohnya, infeksi cacing pita yang dibiarkan bisa memicu komplikasi gangguan pencernaan, gangguan fungsi organ, hingga gangguan pada otak dan sistem saraf pusat. Nah, jadi jangan anggap sepele penyakit cacingan, ya!

2.Anak Buncit Tandanya Cacingan

Mitos cacingan yang masih kadang dipercaya yaitu menyoal gejalanya. Sebagian awam percaya kalau anak yang memiliki perut buncit bisa saja menandai adanya masalah cacingan. Faktanya, gejala cacingan amat beragam (bergantung pada spesies dan jumlah cacing), bukan hanya menyoal perut buncit saja. 

Gejala cacingan pada anak-anak bisa berupa:

  • Gatal pada area anus atau vagina.
  • Insomnia, lekas marah, gigi bergemeretak dan gelisah.
  • Sakit perut (sesekali) dan mual.
  • Iritasi faringeal. 
  • Batuk, sakit leher, dan suara serak.
  • Konstipasi.
  • Lesu dan tidak bergairah.
  • infeksi berat dapat timbul dahak yang disertai darah.

Baca juga: Banyak Makan Tetap Kurus karena Cacingan, Benarkah?

3.Cacingan Hanya Terjadi pada Anak-Anak

Mitos cacingan lainnya yang menyangkut usia. Masih ada saja awal yang mempercayai kalau cacingan hanya menyerang anak-anak. Padahal, fakta medisnya tidak demikian, singkat kata orang dewasa juga bisa mengalami cacingan.

Sama seperti anak-anak, infeksi cacing pada orang dewasa bisa terjadi tanpa kita sadari. Gejala yang timbul juga bisa beragam, mulai dari sakit perut, mual, muntah diare, hingga penurunan berat badan. Terdapat beberapa jenis cacing yang bisa menimbulkan masalah pada orang dewasa. Contohnya cacing pita, kremi, gelang, pipih, atau tambang. 

4.Tidak Menular

Faktanya jelas, infeksi cacing justru bisa menular di mana saja. Penularannya bahkan bisa terjadi di lingkungan bersih sekalipun. Contohnya, orang dewasa atau anak-anak yang menyentuh permukaan benda yang telah terkontaminasi telur cacing, dan makan menggunakan tangan tersebut, bisa saja berpotensi terinfeksi penyakit ini. 

Baca juga: Bahaya Penularan Cacing Pita pada Manusia

Selain melalui kuku dan tangan, penyebaran infeksi cacing (kremi) juga bisa melalui pakaian dan handuk yang telah terkontaminasi. Oleh sebab itu, pastikan Si Kecil tak berbagi handuk, pakaian, atau celana dengan orang lain. 

Penularan cacingan juga bisa lho melalui hewan peliharaan. Andaikan hewan peliharaan di rumah terinfeksi cacing pita, segeralah temui dokter hewan untuk mendapat penanganan yang tepat. Selain itu, sebisa mungkin hindari kontak langsung dengan hewan selama masa pengobatannya. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah cacingan? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, kamu bisa menghubungi dokter ahli kapan saja dan di mana saja. Praktis, kan? 



Referensi:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2017). Diakses pada 2020. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2017 Tentang Penanggulangan Cacingan. 
WHO. Diakses pada 2020. Taeniasis/cysticercosis
WHO. Diakses pada 2020. Soil-transmitted helminth infections
CDC. Diakses pada 2020. Taeniasis
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Pinworm infection