• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 6 Kalimat yang Sebaiknya Tidak Diucapkan pada Anak

6 Kalimat yang Sebaiknya Tidak Diucapkan pada Anak

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Menjalani peran sebagai orangtua itu memang sulit karena terus harus belajar dan berproses setiap harinya. Setiap orangtua tentunya ingin mendidik anak dengan pola asuh yang tepat agar memiliki karakter yang mandiri dan bijaksana. Untuk itu, orangtua juga harus memerhatikan setiap kalimat yang ia ucapkan pada anaknya.

Jangan sampai, terucapkan kalimat negatif yang ditujukan pada anak dan bisa memberikan dampak bagi perkembangan anak. Banyak kalimat yang mungkin umum terdengar, baik itu kalimat yang membandingkan anak, menganggap anak tidak mampu, dan sebagainya. Satu kalimat saja dapat membentuk perspektif anak dan menjadi penilaian terhadap dirinya sendiri.

Lalu, apa saja kalimat yang sebaiknya tidak diucapkan pada anak? 

  • “Apa yang kamu lakukan itu salah. Lihat, biar ibu tunjukkan yang benar”

Pada dasarnya, orangtua tentunya akan bersedia membantu anaknya ketika ia mengalami kesulitan melakukan suatu hal. Namun, sebenarnya anak juga membutuhkan waktu untuk belajar sendiri. Membantu anak atau mengambil kendali apa yang anak kerjakan justru tidak akan membantu anak belajar. 

Kalimat ini juga memberikan pesan yang jelas pada anak bahwa, “Saya tidak bisa melakukan ini, hanya orang dewasa yang bisa melakukannya”. Padahal, hal yang perlu orangtua lakukan yaitu membangun kepercayaan diri anak terhadap apa yang dilakukannya. 

Baca Juga: Ini 7 Rahasia Anak yang Punya Rasa Percaya Diri Tinggi

  • “Kamu kenapa, sih?” atau “Apa yang salah dengan kamu, nak?”

Kalimat ini mungkin masih boleh digunakan saat nada bicara orangtua terdengar berbelas kasih. Namun, masalah dapat muncul jika kalimat terdengar marah atau kesal. Jika kalimat tersebut disampaikan dengan nada kasih sayang, maka anak akan menceritakan masalahnya.

Namun, jika orangtua menyampaikan kalimat di atas dengan nada kesal dan marah, anak justru menganggap bahwa ‘aku memang bukan anak baik’ atau ‘aku memang anak yang jahat’. Buruknya pesan yang diartikan sendiri oleh anak dapat membekas seumur hidup menjadi penilaian atas dirinya sendiri. 

  • “Kamu terlalu sensitif” atau “Kamu terlalu baper (bawa perasaan)”

Mengatakan bahwa anaknya terlalu sensitif atau baper (terbawa perasaan) adalah perilaku orangtua yang tidak penyayang dan tidak peduli. Hal itu justru mengalihkan tanggung jawab dan kesalahan dari perilaku orangtua ke ketidakmampuan anak. 

Anak kecil tidak memiliki kepercayaan diri untuk melawan pernyataan ini dan akan berasumsi bahwa dia sudah melakukan sesuatu yang salah. Anak justru akan percaya bahwa kepekaannya adalah masalah, dan pada akhirnya ia tidak akan mempercayai perasaan dan persepsinya sendiri. 

Baca juga: 4 Trik Agar Bayi Terbiasa dengan Lingkungan yang Ramai

  • “Kamu enggak pernah bisa berubah!”

Orangtua harus menghindari kata-kata seperti “selalu” dan “tidak pernah” saat berbicara pada anak, karena hal ini dapat membuat anak berpikir bahwa ia tidak memiliki harapan.

Pernyataan di atas, justru menempatkan anak dalam nilai negatif. Secara permanen, kalimat tersebut menunjukkan bahwa ia selalu dengan cara tertentu, tidak mampu, atau tidak dapat berkembang. Kata “tidak pernah” justru mengizinkan anak untuk tidak pernah berubah, yang tentu tidak orangtua inginkan. 

  • “Kamu enggak kenapa-kenapa, kok”

Ketika anak sedang kesal, marah, atau sedih, jangan terlalu cepat untuk langsung menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja. Pertama yang harus dilakukan yaitu pastikan ia tahu perasaannya itu benar. Anak yang menangis tentu karena dia tidak baik-baik saja. Tugas orangtua adalah membantunya memahami dan mengatasi emosinya, bukan mengabaikannya. 

Sebaiknya berikan anak pelukan dan akui apa yang dia rasakan dengan mengatakan sesuatu seperti, ‘pasti sakit ya, nak, jatuh dari sepeda’. Kemudian, tanyakan apakah dia mau lukanya diobati dan diberi perban. 

Baca juga: Cara Mengatasi Gerakan Tutup Mulut Balita yang Susah Makan

  • “Kamu bisa menjadi apa yang kamu inginkan”

Tentu sebagai orangtua ingin anaknya memiliki cita-cita atau tujuan yang besar dan orangtua akan mendorongnya untuk mencapai tujuan tersebut. Pada saat yang sama, kalimat di atas tidak selalu tepat untuk memberitahu anak bahwa ia dapat menjadi apa pun yang ia inginkan. 

Kalimat di atas dapat mendorong anak jadi seseorang yang terlalu ambisius. Sikap terlalu ambisius bisa berbahaya dan memiliki efek negatif mental anak. Sebaiknya, tetap diskusikan kepada anak tentang keinginannya di masa depan, dengan mempertimbangkan segala konsekuensi yang ada. Tentunya, hal tersebut membuat anak memiliki pemikiran yang lebih terbuka.

Itulah kalimat yang sebaiknya orangtua tidak ucapkan pada anak, jika ingin anak memiliki harga diri yang baik di masa depan. Kemungkinan masih banyak kalimat yang sebaiknya tidak diucapkan pada anak. Ayah dan ibu dapat berdiskusi lebih banyak pada psikolog melalui aplikasi Halodoc. Yuk, segera download aplikasi Halodoc sekarang!

Referensi:

Prevention. Diakses pada 2020. 60 Things You Should Never, Ever Say to Your Kids
Parents. Diakses pada 2020. 10 Things You Should Never Say to Your Kids