• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Adakah Hubungan antara Depresi dan Gangguan Dismorfik Tubuh?

Adakah Hubungan antara Depresi dan Gangguan Dismorfik Tubuh?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Sudah sering berkaca, tetapi masih merasa kurang cantik, merasa terlalu gemuk, terlalu kurus, atau kurang memiliki bentuk wajah, hidung, bibir, atau yang indah? Jika iya, bisa jadi kamu tengah mengidap gangguan dismorfik tubuh atau yang dikenal dengan istilah Body Dysmorphic Disorder (BDD). Apakah kondisi ini bisa dipicu oleh depresi yang dialami? Berikut keterkaitan antara depresi dan Body Dysmorphic Disorder (BDD).

Baca juga: Komplikasi yang Terjadi Akibat Gangguan Dismorfik Tubuh

Hubungan antara Depresi dan Body Dysmorphic Disorder (BDD)

Gangguan dismorfik tubuh merupakan gangguan kejiwaan yang membuat pengidapnya merasa cemas berlebihan tentang penampilan fisiknya. Pengidap Body Dysmorphic Disorder (BDD) cenderung terobsesi dengan cacat tubuh yang sebenarnya tidak dimilikinya. Hingga kini penyebabnya sendiri belum diketahui secara pasti.

Namun, stigma gangguan jiwa yang berhubungan dengan penampilan dapat dipicu oleh adanya beberapa kondisi mental yang dialami, seperti depresi. Sebaliknya, Body Dysmorphic Disorder (BDD) juga dapat menyebabkan seseorang mengidap depresi, bahkan bisa memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidupnya. Bukan itu saja, berikut ini sejumlah faktor risiko Body Dysmorphic Disorder (BDD):

  • Memiliki salah satu anggota keluarga yang mengidap kondisi yang sama.
  • Memiliki pengalaman traumatik saat kecil, seperti menjadi korban bully.
  • Memiliki tekanan sosial tertentu.

Tidak memiliki faktor risiko tersebut bukan berarti kamu tidak dapat mengidap penyakit ini. Untuk lebih jelasnya mengenai gangguan dismorfik tubuh, kamu bisa diskusikan langsung dengan psikolog atau psikiater di aplikasi Halodoc untuk mencegah munculnya gejala.

Baca juga: Waspada, Body Dysmorphic Disorder Bisa Sebabkan Depresi

Ini yang Menjadi Tanda Gangguan Dismorfik Tubuh

Jika sudah parah, penyakit ini dapat mengganggu pekerjaan, mengganggu sekolah, atau hubungan sosial kamu dengan orang lain. Berikut ini beberapa tanda dan gejala yang perlu diperhatikan:

  • Mereka berpikir yang berlebihan tentang bentuk beberapa bagian tubuh yang sebenarnya tidak seburuk pemikirannya. Beberapa bagian tubuh yang sering dipikir secara berlebihan adalah hidung, gigi, rambut, payudara, tahi lalat, bekas luka, atau bentuk tubuh.
  • Mereka terlalu terobsesi dengan penampilan hingga dapat menghabiskan waktu untuk berkaca selama beberapa jam dalam sehari. Bercermin merupakan hal yang wajib mereka lakukan untuk memeriksa bagian tubuhnya secara konstan.
  • Mereka akan sering datang ke dokter kecantikan, salon, atau dokter gigi untuk memperbaiki kekurangan. Meski sudah diperbaiki dan mendapat bentuk yang sudah sempurna menurut orang lain, tetapi mereka selalu tidak puas dengan hasilnya dan terus-menerus ingin memperbaikinya lagi.

Gejala-gejala tersebut cenderung dialami oleh wanita yang dimulai sejak pubertas dan dapat bertahan seumur hidup. Jika sudah terjadi, pengidap akan kehilangan keinginan untuk bepergian dan berada di tempat umum karena merasa cemas dan minder saat dekat dengan orang lain.

Baca juga: Selalu Merasa Tak Sempurna? Hati-Hati Body Dysmorphic Disorder

Pilihan Pengobatan untuk Pengidap Body Dysmorphic Disorder

Terapi yang dilakukan guna mengatasi munculnya gejala tidak mudah dilakukan, khususnya saat pengidap tidak mau bekerja sama dalam terapi. Pengobatan akan berfokus pada terapi perilaku kognitif yang diimbangi dengan pemberian obat-obatan. Saat terapi perilaku kognitif dilakukan, dokter akan mencari tahu penyebab dan hubungan antara pengidap dengan reaksi mental yang dialami.

Pada pengidap yang memiliki cukup biaya untuk melakukan bedah plastik, mereka tidak akan segan untuk melakukannya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun bagi yang tidak memiliki cukup biaya, mereka akan terus-menerus meratapi penampilannya dan selalu merasa bersalah akan bentuk fisik yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Referensi:
NHS UK. Diakses pada 2020. Body Dysmorphic Disorder (BDD).
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diseases and Conditions. Body Dysmorphic Disorder.
WebMD. Diakses pada 2020. Body Dysmorphic Disorder.