• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Amankah Operasi Usus Buntu pada Ibu Hamil?

Amankah Operasi Usus Buntu pada Ibu Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Memiliki gangguan usus buntu ataupun infeksi pada usus buntu selama kehamilan merupakan alasan paling sering terjadi pada wanita untuk membutuhkan pembedahan atau operasi dalam kehamilan. Diperkirakan 1 dari 1.500 wanita hamil akan membutuhkan operasi usus buntu selama kehamilan. 

Salah satu masalah usus buntu terbesar selama kehamilan terkait dengan diagnosis karena perubahan fisik pada tubuh. Gangguan usus buntu akan lebih mudah didiagnosis pada trimester pertama dan kedua. Alasan penting untuk mendapatkan diagnosis dini adalah bahwa semakin lama kamu menunda, maka semakin besar kemungkinan ibu hamil mengalami komplikasi, terutama perforasi apendiks.

Baca juga: Laparoskopi Bisa Membantu Program Hamil

Keamanan Operasi Usus Buntu pada Wanita Hamil

Jika operasi berada di trimester pertama atau kedua, kemungkinan besar kamu akan dapat melakukan laparoskopi untuk operasi. Ini juga dikenal sebagai operasi pembalut karena dilakukan melalui beberapa lubang kecil di perut, sebagai penghindar dari sayatan yang lebih besar. 

Pada trimester ketiga, kamu akan memiliki sayatan yang lebih besar karena ukuran rahim membuat laparoskopi menjadi sulit. Selama operasi setelah tanda 24 minggu, pemantauan janin harus digunakan untuk membantu memantau bayi. 

Sementara wanita hamil yang memiliki operasi usus buntu (baik laparoskopi atau terbuka) mungkin mengalami kontraksi prematur, hanya sekitar 10 persen yang akan melahirkan bayi mereka lebih awal. Risiko dapat meningkat seiring kehamilan, yaitu 8 persen sebelum kehamilan 24 minggu, 14 persen antara 24 dan 28 minggu, dan 35 persen pada 29 hingga 36 minggu. 

Baca juga: Bumil Sering Mimisan, Ketahui Dampaknya

Masa Pemulihan Setelah Operasi Usus Buntu

Jika seseorang yang tidak hamil biasanya pulang segera setelah operasi, maka wanita hamil hanya dapat pulang tergantung pada bagaimana keadaan ibu hamil dan bayi dalam kandungan. Namun, secara umum, kamu harus tinggal setidaknya semalam di rumah sakit.

Pemulihan setelah operasi akan sangat penting karena kehamilan. Ibu perlu beristirahat di rumah biasanya sekitar satu minggu atau lebih jika mengalami komplikasi atau mengalami tanda-tanda persalinan prematur. Beristirahat penting dilakukan untuk penyembuhan, tetapi juga tetap perlu bergerak. Semakin cepat ibu mampu bangun dan turun dari tempat tidur, maka semakin cepat ibu akan sembuh dan semakin sedikit komplikasi yang mungkin dialami. 

Ibu harus menghindari mengangkat benda berat. Makan makanan yang bergizi dan menepati janji kontrol dengan dokter untuk membantu memastikan bahwa ibu sembuh dengan baik. Biasanya ibu akan melakukan pemeriksaan lanjut dengan ahli bedah dalam atau atau dua minggu. 

Perawatan antara dokter bedah dan dokter akan seimbang, dan ibu mungkin perlu membantu memfasilitasi koordinasi ini. Pastikan untuk memeriksakan diri pada setiap praktisi untuk memastikan bahwa mereka saling mendiskusikan satu sama lain mengenai perawatan yang sedang dijalani. 

Baca juga: Ibu Hamil Mimisan, Ini Penanganan yang Tepat

Tergantung pada saat operasi berkaitan dengan perkiraan melahirkan, seharusnya dengan dilaluinya operasi usus buntu tidak ada perubahan dalam perkiraan lahir. Jika kamu memiliki pertanyaan mengenai perubahan yang mungkin terjadi, pastikan untuk bertanya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. 

Waspadai gejala usus buntu pada masa kehamilan. Nyeri kuadran kanan bawah adalah gejala apendisitis yang paling umum, baik untuk orang yang hamil maupun tidak. Terutama di akhir kehamilan, nyeri dapat terjadi di kuadran kanan atas, bukan bawah. 

Referensi:
Very Well Mind. Diakses pada 2020. Appendicitis During Pregnancy.