• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak Kena Sibling Bullying, Ibu Harus Apa?

Anak Kena Sibling Bullying, Ibu Harus Apa?

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta - Bullying bukanlah fenomena baru. Bisa dikatakan, bullying merupakan salah satu penyebab gangguan psikologis yang dialami anak-anak hingga remaja. Kondisi ini dilaporkan memengaruhi hingga 30 persen anak-anak. Nyatanya, anak yang diintimidasi memiliki risiko lebih besar mengalami kecemasan dan depresi, di antara masalah kesehatan lainnya. Mereka juga lebih mungkin untuk bolos atau putus sekolah. 

Namun, semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa bullying di antara saudara kandung juga sama berbahayanya dengan bullying yang terjadi di sekolah. Kondisi ini umumnya dikenal sebagai sibling bullying dan bisa menjadi hal yang fatal jika orangtua tidak turun tangan untuk mengatasinya. 

Baca juga: Ini Alasan Anak Jadi Pelaku Bullying

Lebih Jauh Tentang Sibling Bullying 

Tantangan utama bagi para peneliti yang mempelajari perilaku intimidasi di antara saudara kandung adalah, garis antara konflik saudara kandung yang khas dan perilaku bullying yang lebih langsung tidak selalu jelas. Namun, secara umum para ahli cenderung menganggap bullying di antara saudara kandung berarti perilaku yang tidak diinginkan dan agresif, yang melibatkan ketidakseimbangan kekuatan (baik nyata maupun yang dirasakan), yang disengaja dan diulang. 

Meskipun kurangnya kejelasan seputar terminologi, penelitian menyebutkan sibling bullying adalah hal yang lebih umum terjadi. Hal ini jauh lebih banyak terjadi ketimbang kasus bullying yang terjadi di sekolah. 

Sibling bullying menjadi masalah yang serius, pasalnya hubungan kakak-adik adalah salah satu hubungan terpanjang yang dimiliki semua orang. Seharusnya anak-anak belajar tentang keterampilan interpersonal, kasih sayang, perilaku yang baik, dan banyak hal melalui hubungan persaudaraan. Jadi, saat adanya sikap intimidasi antara saudara dan saudari, maka hal ini bisa menjadi beban emosional.

Anak-anak yang memiliki hubungan saudara kandung yang lebih hangat dan lebih suportif cenderung memiliki teman yang baik. Sementara anak-anak yang menjadi korban sibling bullying mungkin juga mengalami perilaku intimidasi oleh teman sebaya mereka. Namun, hingga kini penelitian mengenai sibling bullying masih perlu dikembangkan lebih jauh lagi. 

Baca juga: Bullying Bisa Sebabkan Fobia Sosial pada Remaja

Jadi, Apa yang Bisa Dilakukan Orangtua Terhadap Sibling Bullying?

Tidak seperti lingkungan sekolah, di mana guru sering kali mengenali dan mengintervensi ketika seorang siswa terlibat dalam perilaku intimidasi, sibling bullying bisa jadi lebih sulit dikendalikan. Pasalnya orangtua bisa saja kurang memahami sejauh mana tindakan normal yang seharusnya dimiliki kakak-adik.

Sebenarnya, orangtua memiliki tanggung jawab untuk memahami perbedaan antara konflik saudara kandung yang normal dan perilaku bullying. Yaitu dengan memperhatikan faktor-faktor seperti intensionalitas, pengulangan, dan keseimbangan kekuatan.

Orangtua juga harus mempertimbangkan apakah konflik kakak dan adik cenderung sebagai respons terhadap stimulus eksternal, seperti berebut mainan atau remote atau apakah mereka lebih banyak melakukan serangan atau penghinaan pribadi. Orangtua harus benar-benar menanggapinya dengan serius karena kondisi ini juga akan menyebabkan anak turut melakukan tindakan bullying di antara teman sebaya. Buat rencana untuk mengatasi tindakan ini dan buat batasan yang jelas, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan kakak-adik. Jangan takut untuk mencari bantuan dari luar, seperti misalnya bertanya pada psikolog yang ada di Halodoc. Jangan sungkan untuk chat psikolog di Halodoc untuk menanyakan trik mengatasi bullying di antara kakak dan adik ini. 

Baca juga: Anak Susah Tidur, Mungkinkah Pertanda Korban Bully?

Salah satu cara untuk dianggap mampu untuk menangani sibling bullying dengan tepat melalui konseling keluarga. Tidak hanya salah satu anak saja, tetapi seluruh anggota keluarga harus mendapatkan konseling untuk masalah ini. 

Referensi:
Huffington Post. Diakses pada 2019. When Your Bully Is Your Sibling.