• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bullying Dilakukan Saudara Kandung, Ketahui Dampaknya

Bullying Dilakukan Saudara Kandung, Ketahui Dampaknya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Kakak dan adik berkelahi merupakan hal yang biasa terjadi. Pertengkaran biasanya disebabkan hal-hal yang sepele, tetapi bagi mereka bisa menjadi masalah besar. Misalnya berkelahi karena berebut ingin nonton televisi atau berebut mainan. Pertengkaran seperti ini mungkin biasa terjadi, tetapi ketika perselisihan antar saudara kandung menjadi kasar, maka itu termasuk bullying atau intimidasi. 

Bullying bukanlah perilaku saudara kandung yang normal. Nyatanya, kekerasan saudara kandung adalah salah satu jenis kekerasan keluarga yang paling umum dan sering terjadi. Beberapa orangtua memandang bahwa bullying di antara anak-anak sebagai bentuk interaksi yang normal dari persaingan saudara kandung. Padahal, perlu disadari bahwa pertengkaran ini dapat berlanjut hingga mereka dewasa dan menyebabkan dampak negatif. 

Dampak Negatif Bullying Saudara Kandung

Seorang anak yang menjadi korban dari bullying dari saudara kandungnya akan mengembangkan perasaan tidak berdaya dan terasing. Ia juga mungkin akan merasa sendirian untuk menghadapi perasaan bingung, frustasi, dan tidak berdaya. Maka tidak heran ketika penderitaan seperti itu diabaikan, seorang anak tidak merasa aman di dalam rumahnya. Dengan begitu, seorang anak yang rasa sakitnya diabaikan oleh orangtua akan menarik diri dari keluarga. 

Keheningan seperti itu dapat semakin memunculkan rasa isolasi yang dapat menyebabkan intimidasi orang lain di luar konteks keluarga. Tidak mengherankan jika terjadi kurangnya hubungan emosional, bahkan bagi beberapa orang yang pernah mengalaminya sangat merindukan koneksi dengan orang lain. Kondisi tersebut juga justru malah bisa menumbuhkan rasa sakit dan kemarahan yang cukup besar dan kemudian memutuskan hubungan dengan saudara atau keluarganya.

Baca juga: Ini Alasan Anak Jadi Pelaku Bullying

Dampak lainnya akibat bullying saudara kandung adalah anak akan bergaul dengan teman sebaya yang juga merasa terisolasi, marah, dan tidak berdaya. Anak-anak tersebut berafiliasi menjadi geng. Tidak jarang orang-orang seperti ini akhirnya berujung kecanduan hal-hal yang terlarang.

Sebuah studi menyimpulkan bahwa 28 persen dari anak-anak yang terlibat bullying saudara kandung. Bullying dapat terjadi pada keluarga yang lebih besar dengan kasih sayang atau perhatian yang mungkin terbatas. Anak-anak perempuan dan anak-anak yang lebih muda lebih sering menjadi sasaran intimidasi semacam itu dan paling sering terjadi pada keluarga dengan tiga anak atau lebih, dengan anak tertua atau kakak laki-laki yang paling mungkin jadi pelaku. 

Intimidasi saudara kandung dikaitkan dengan anak yang di-bully berada pada risiko lebih besar mengalami depresi, kecemasan, dan melukai diri sendiri. Selain itu ditemukan juga bahwa hubungan antara bullying dan gangguan kesehatan mental. Dampaknya sama untuk anak laki-laki dan perempuan. Dampak bullying saudara kandung juga sama besarnya dengan bullying oleh orang di luar keluarga. 

 Baca juga: Bullying Bisa Sebabkan Fobia Sosial pada Remaja

Tantangan untuk Orangtua

Peran keluarga terutama orangtua sangat berkontribusi pada terjadinya bullying saudara kandung. Pada saat yang sama, tuntutan yang dialami orangtua dalam bekerja, emosi, atau fisik mereka sendiri, serta kebutuhan khusus saudara kandung lainnya dapat mengurangi kapasitas mereka untuk mengamati bullying saudara kandung atau menganggapnya serius ketika itu terjadi. 

Tuntutan atau kewajiban orangtua di luar rumah juga dapat mengurangi kehadiran tatap muka yang penting untuk membantu anak-anak merasa dihargai, terhubung, dan aman. Kehadiran orangtua di depan anak-anak semakin dirusak oleh perhatian pada komputer, ponsel, atau televisi. Hilangnya waktu yang berkualitas dapat semakin memperburuk tekanan internal seorang anak, yang dapat menyebabkan persaingan antara saudara kandung. 

Beberapa pedoman berikut ini dapat membantu orangtua mengatasi, mencegah, dan menangani bullying saudara kandung.

  • Perhatikan bagaimana saudara kandung berinteraksi satu sama lain. Pantau dengan cermat jika orangtua menduga ada intimidasi. 

  • Cobalah untuk konsisten dalam interaksi orangtua dengan setiap anak.

  • Tangani kekhawatiran orangtua tentang seorang anak secara pribadi, baik dalam hal perilaku, kinerja sekola, perasaan, dan sebagainya 

  • Berikan anak-anak pedoman khusus untuk menyelesaikan konflik. Ajari mereka keterampilan memecahkan masalah yang mencakup komunikasi yang jelas dan tegas. 

  • Perhatikan penderitaan yang dilaporkan oleh anak-anak.

  • Buat waktu tatap muka yang cukup dengan setiap anak. 

Baca juga: Anak Susah Tidur, Mungkinkah Pertanda Korban Bully?

Tindakan bagaimana penanganan bullying saudara kandung ini juga bisa orangtua bicarakan pada psikolog anak melalui aplikasi Halodoc. Komunikasikan segera agar dampak negatif tidak tumbuh semakin kompleks. 

Referensi:
Psychologi Today. Diakses pada 2019. Sibling Bullying: Call It by Its Name