• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak Mudah Lelah, Waspada Anemia pada Si Kecil

Anak Mudah Lelah, Waspada Anemia pada Si Kecil

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Anemia terjadi ketika jumlah sel darah merah di bawah rata-rata normal. Bukan cuma orang dewasa saja yang bisa mengalami anemia, anak-anak juga rentan mengalaminya. Bahkan, bayi, anak-anak sampai remaja adalah kelompok-kelompok usia yang rentan mengalami anemia. 

Anemia bisa membuat anak tampak pucat dan merasa rewel, lelah, atau lemah. Meskipun gejala-gejalanya membuat ibu khawatir, anemia umumnya mudah diobati, terutama jika terdeteksi dini. Berikut informasi seputar anemia pada anak yang perlu ibu ketahui.

Baca juga: 5 Penyakit yang Sering Menyerang Anak

Penyebab Anemia pada Anak

Sel darah merah tersusun atas hemoglobin, protein yang mampu membawa dan mengirimkan oksigen ke sel-sel lain dalam tubuh. Sel-sel di otot dan organ anak-anak membutuhkan oksigen untuk berfungsi dengan baik. Ketika jumlah sel darah merah menurun, maka fungsi-fungsi tubuh bisa terganggu. Melansir dari Healthy Children Organization, kondisi-kondisi berikut ini dapat memicu anemia pada anak, yaitu:

  • Tubuh tidak menghasilkan cukup sel darah merah. Ini dapat terjadi jika anak tidak mendapatkan cukup zat besi atau nutrisi lain dalam makanannya.

  • Tubuh menghancurkan terlalu banyak sel darah merah. Jenis anemia ini biasanya terjadi ketika seorang anak mengidap penyakit tertentu atau mewarisi kelainan sel darah merah.

  • Kehilangan sel darah merah karena pendarahan. Ketika Si Kecil mengalami salah satu dari ketiga kondisi di atas, tentunya ada sejumlah gejala yang muncul.

Tanda dan Gejala Anemia pada Anak

Si Kecil yang mengalami anemia biasanya mudah lelah dan terlihat lemas. Selain itu, ada gejala lainnya yang muncul, seperti : 

  • Kulit pucat atau kekuningan;
  • Pipi dan bibir pucat;
  • Lapisan kelopak mata dan alas kuku mungkin terlihat kurang merah dari biasanya;
  • Sifat lekas marah;
  • Kelemahan ringan;
  • Mudah lelah dan tidur lebih sering;
  • Mengalami jaundice (kulit atau mata menguning);
  • Air seni berwarna gelap.

Baca juga: Ibu Perlu Tahu, Dampak Jika Anak Mengalami Anemia Defisiensi Zat Besi

Selain gejala umum di atas, anak yang mengalami anemia berat mungkin memiliki tanda dan gejala tambahan, seperti sesak napas, detak jantung yang cepat, tangan dan kaki bengkak, sakit kepala, pusing atau pingsan dan mengalami sindrom kaki gelisah. Jika Si Kecil menunjukkan salah satu dari tanda atau gejala ini, sebaiknya kunjungi dokter untuk diperiksa lebih lanjut.

Anemia ringan memengaruhi energi, fokus, dan kemampuan belajar anak. Sedangkan, anemia  kronis dapat menyebabkan gangguan yang lebih serius dan permanen. Itulah mengapa penting untuk memeriksakan anak ke dokter ketika mengalami gejala anemia. Kalau ibu berencana memeriksakan Si Kecil, ibu bisa membuat janji dengan dokter sebelum mengunjungi rumah sakit. 

Melalui aplikasi Halodoc, ibu dapat mengetahui estimasi waktu giliran masuk, sehingga tidak harus duduk lama-lama di rumah sakit. Tinggal pilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan  lewat aplikasi.

Mencegah Anemia pada Anak

Anemia kekurangan zat besi dan anemia gizi lainnya dapat dicegah dengan memberikan makanan kaya zat besi pada anak. Untuk bayi di bawah 6 bulan, pastikan ia mendapatkan ASI sampai Si Kecil sudah bisa makan makanan pendamping yang mengandung banyak zat besi. Jika ibu memberi susu formula, pilih formula bayi yang mengandung zat besi. 

Baca juga: Jangan Asal Kompres, Kenali Demam pada Anak

Untuk anak yang lebih besar, berikan makanan zat besi yang dapat diperoleh dari biji-bijian, daging merah, kuning telur, kentang, tomat, kacang-kacangan, sirup gula, dan kismis. Ibu juga harus memberikan makanan yang tinggi vitamin C untuk meningkatkan penyerapan zat besi di dalam tubuh. 

Referensi:
Healthy Children Organization. Diakses pada 2020. Anemia in Children and Teens: Parent FAQs.
American Family Physician. Diakses pada 2020. Evaluation of Anemia in Children.