08 November 2018

Ini Efeknya Kalau Anak Kena Anemia Defisiensi Zat Besi yang Perlu Diketahui Ibu

Anemia Defisiensi Zat Besi, ADB

Halodoc, Jakarta - Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan salah satu jenis anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi pada tubuh, sehingga terjadi penurunan jumlah sel darah merah yang sehat. ADB merupakan masalah defisiensi nutrien yang sering terjadi pada anak di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang.

Penyakit ini disebabkan oleh kurangnya zat besi dalam tubuh. Zat besi diperlukan untuk menghasilkan komponen sel darah merah yang dikenal sebagai hemoglobin. Saat tubuh mengalami ADB, maka sel darah merah juga akan mengalami kekurangan pasokan hemoglobin.

Secara epidemiologi, hal ini lazim ditemukan pada akhir masa bayi, dan awal masa kanak-kanak. Hal ini dikarenakan oleh kurangnya asupan gizi dari makanan yang mengandung zat besi yang dikonsumsi ibu pada masa kehamilan, dan kurangnya zat besi yang dikonsumsi pada masa kanak-kanak yang digunakan untuk pertumbuhan tubuhnya.

Hal ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan, serta memengaruhi fungsi tubuh secara normal. Selain itu, ADB juga banyak ditemukan pada remaja putri dan akan diperparah oleh menstruasi yang terjadi pada remaja putri.

ADB terjadi secara bertahap. Pertama, menurunnya jumlah zat besi pada tubuh anak, hal ini dapat memengaruhi fungsi otak dan fungsi otot anak yang sedang berkembang. Sel-sel darah merah tidak banyak berubah pada tahap ini, karena tubuh menggunakan sebagian besar zat besi untuk membuat hemoglobin. Namun seiring berjalannya waktu, tubuh mulai membuat lebih sedikit sel darah merah sehingga memicu anemia.

Pada tahap ini, gejala ADB yang mungkin dialami, antara lain:

  1. Nafsu makan berkurang.

  2. Tubuh gampang lelah dan lemah.

  3. Mudah terserang infeksi, akibat dari menurunnya daya tahan tubuh.

  4. Kepala pusing atau berkunang-kunang.

  5. Denyut jantung yang cepat.

  6. Kulit terlihat pucat, terutama di sekitar tangan, kuku, dan kelopak mata.

  7. Anak menjadi rewel.

Dalam kasus yang jarang terjadi, anak dengan ADB akan mengalami gangguan makan yang ditandai dengan keinginan mengkonsumsi barang, seperti serpihan cat, kapur, debu, atau kotoran.

Secara umum, bayi yang diberi ASI eksklusif cenderung mendapatkan cukup zat besi dari ibu. Selain itu, bayi yang diberi susu formula yang kaya zat besi juga biasanya mendapatkan cukup asupan zat besi.

Masalah ADB juga dapat dialami oleh balita yang terlalu banyak minum susu sapi lebih dari 24 ons sehari, atau kurang mengonsumsi makanan kaya zat besi, seperti daging merah dan sayuran berdaun hijau. Masalah ini juga dapat terjadi pada anak yang gemar pilih-pilih makanan. Karena cenderung memilih-milih makanan, anak mungkin tidak mendapat asupan zat besi yang cukup.

Penyebab lain ADB pada anak, yaitu:

  1. Obesitas.

  2. Alergi protein susu sapi.

  3. Kesulitan dalam penyerapan nutrisi dari makanan (malabsorbsi).

  4. Meningkatnya kebutuhan zat besi akibat dari infeksi yang berulang atau kronis.

  5. Menstruasi yang berlebihan pada remaja putri.

Perhatikan gejala-gejala ADB yang bisa terjadi pada anak. Ibu bisa berdiskusi dengan dokter apabila anak ibu sudah mengalami penurunan nafsu makan, atau tiba-tiba merasa lemas dan pucat.

Dengan aplikasi Halodoc, ibu tidak perlu repot-repot keluar rumah untuk pergi ke dokter atau membeli obat ke apotik. Dengan Halodoc, ibu bisa ngobrol langsung mengenai masalah kesehatan Si Kecil melalui Chat atau Voice/Video Call dengan dokter ahli. Selain itu, ibu juga dapat membeli obat dan pesanan ibu akan langsung di antar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download aplikasinya segera di Google Play atau App Store!

Baca juga: