• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak Sering Merasa Takut, Apa yang Jadi Penyebabnya?

Anak Sering Merasa Takut, Apa yang Jadi Penyebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Rasa takut atau cemas yang dialami anak-anak merupakan hal yang wajar. Namun, sebaiknya ibu perlu waspada jika anak terlihat mengalami ketakutan yang berlebihan. Rasa takut yang tidak diatasi dengan baik dapat menyebabkan anak menjadi penakut saat bertumbuh dewasa.

Baca juga: Si Kecil Penakut? Ini Kiat Mengatasinya

Untuk itu, sangat penting bagi ibu mengetahui penyebab anak mengalami ketakutan berlebihan. Mendampingi anak dan mencari tahu penyebab ketakutan yang anak alami merupakan hal terbaik yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa takut. Tidak ada salahnya ibu cari tahu penyebab anak sering merasa takut, di sini!

Penyebab Anak Sering Merasa Takut

Umumnya, anak mulai memiliki rasa takut terhadap sesuatu saat usia bertambah. Menurut seorang pengamat pendidikan dan masalah psikologi serta pengembangan anak, Endah Kurniadarmi, perkembangan emosional anak usia sekolah sangatlah tinggi. Hal ini menyebabkan anak akan sering merasa takut, cemas, serta perubahan emosi yang kurang stabil. 

Pada tahap ini imajinasi anak sedang tinggi, tetapi pengolahan logika belum terbentuk dengan baik. Akibatnya, anak akan mengalami kesulitan dalam memahami hal yang disebut dengan kondisi wajar atau sesuatu yang berada di luar akal sehat.

Namun, ketakutan atau cemas yang disebabkan kondisi ini dapat diatasi dan dihilangkan dengan pendampingan dari orangtua. Dengan begitu anak akan merasa nyaman. Selain itu, anak akan mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya.

Uniknya, rasa takut dan cemas dapat hilang ketika anak mendapatkan cinta dan kasih sayang yang penuh dari orangtua. Namun, jika hal tersebut sudah dilakukan, tetapi anak masih sering mengalami ketakutan atau cemas berlebihan pada kondisi tertentu, sebaiknya jangan sepelekan kondisi ini.

Baca juga: Ibu Harus Tahu, Ini 3 Penyebab Fobia pada Anak

Penyebab lain anak sering merasa takut bisa disebabkan karena kondisi agoraphobia. Kondisi ini dialami sebagai rasa takut dan cemas yang berlebihan pada suatu situasi tertentu. Bukan hanya pada gelap atau hewan tertentu, biasanya anak dengan kondisi agoraphobia pun dapat mengalami rasa takut pada hal lain. Misalnya, keramaian, tempat tertutup, atau ruang publik.

Ada beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan seorang anak mengalami agoraphobia, seperti:

  1. Kondisi trauma.
  2. Mengalami gangguan kesehatan mental.
  3. Memiliki sifat mudah cemas dan gugup.
  4. Memiliki riwayat keluarga dengan kondisi agoraphobia.

Gejala Agoraphobia

Biasanya, anak yang sering merasa takut akan berangsur pulih ketika anak kembali merasa nyaman. Berbagai hal bisa ibu lakukan agar anak kembali nyaman. Mulai dari menemani anak, melakukan hal menyenangkan, hingga memeluknya.

Namun, ketika anak mengalami agoraphobia, ada beberapa gejala yang biasanya akan dialami anak, seperti detak jantung yang berubah lebih cepat, keringat berlebihan, nyeri dada, nyeri pada telinga, hingga gemetar. Selain itu, gejala kognitif akan dialami, misalnya merasa sangat malu, takut, dan kehilangan pikiran jernih saat dihadapkan oleh sesuatu yang membuatnya takut.

Penanganan Agoraphobia

Itulah beberapa gejala yang berkaitan dengan agoraphobia. Lalu, apakah penanganan agoraphobia sama dengan mengatasi ketakutan pada anak? Hal ini memerlukan penanganan yang berbeda. Agoraphobia membutuhkan terapi perilaku untuk membantu anak mengatasi ketakutan dan cemas berlebihan yang dirasakan.

Baca juga: Menakut-nakuti Anak Bisa Sebabkan Fobia

Selain itu, ibu juga bisa membantu anak melakukan gaya hidup sehat agar rasa takut dan cemas yang dialami dapat berkurang. Melansir Cleveland Clinic, menjalani pola makan teratur dan sehat, rutin berolahraga, dan melakukan teknik pernapasan yang baik dapat membantu anak dengan kondisi agoraphobia untuk mengatasi rasa takut dan cemas berlebihan.

Ibu juga bisa gunakan Halodoc dan bertanya langsung pada psikolog anak mengenai ketakutan berlebih yang dialami anak. Jangan lupa untuk selalu mendampingi anak dan berikan kasih sayang yang cukup agar anak tetap merasa nyaman pada segala kondisi dan situasi.

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2020. Agoraphobia.
Kids Health. Diakses pada 2020. Normal Childhood Fear.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Agoraphobia.