• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apa Bedanya Endoftalmitis Endogen dan Endoftalmitis Eksogen?

Apa Bedanya Endoftalmitis Endogen dan Endoftalmitis Eksogen?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Endoftalmitis terjadi ketika bagian dalam mata mengalami peradangan yang cukup parah akibat infeksi. Kondisi ini bisa disebabkan oleh tusukan benda tajam atau operasi mata. Meskipun sangat jarang terjadi, endoftalmitis adalah keadaan darurat dan butuh tindakan medis sesegera mungkin. 

Endoftalmitis dibagi menjadi dua kategori, yaitu endoftalmitis eksogen dan endogen. Lantas, apa perbedaan antara keduanya? Simak penjelasan berikut ini. 

Baca juga: Operasi Mata Berisiko Terkena Endoftalmitis, Mengapa?

Perbedaan Endoftalmitis Eksogen dan Endogen

Kalau dilansir dari Healthline, endoftalmitis dikategorikan sebagai eksogen apabila penyebab infeksi disebabkan oleh sumber luar, seperti tertusuk oleh benda asing atau operasi mata. Endoftalmitis eksogen seringkali terjadi saat operasi mata spesifik, seperti operasi katarak. Operasi lain yang lebih sering mengakibatkan infeksi jenis ini adalah operasi pada bola mata, yakni operasi intraokular.

Faktor risiko untuk endoftalmitis eksogen termasuk kehilangan cairan di belakang mata, penyembuhan luka yang buruk dan operasi yang memakan waktu lama. Pada endoftalmitis endogen, penyebabnya disebabkan oleh infeksi dari bagian dalam tubuh, seperti infeksi bakteri, jamur atau parasit yang menyebar secara hematogen. 

Waspada Gejala Endoftalmitis

Gejala endoftalmitis bisa berlangsung cepat setelah infeksi terjadi. Gejala dapat muncul dalam satu hingga dua hari atau kadang-kadang hingga enam hari setelah operasi atau trauma pada mata, seperti:

  • Sakit mata setelah menjalani operasi atau cedera mata;
  • Menurun atau hilangnya penglihatan;
  • Mata merah;
  • Keluar nanah dari mata;
  • Kelopak mata bengkak.

Gejala juga dapat muncul enam minggu setelah operasi. Gejala-gejala ini biasanya cenderung lebih ringan dan termasuk, seperti:

  • Penglihatan kabur;
  • Sakit mata ringan;
  • Kesulitan melihat lampu yang terang.

Meskipun gejalanya ringan, kamu tetap tidak boleh menyepelekannya jika mengalami tanda-tanda tersebut. Semakin cepat endoftalmitis diobati, semakin kecil peluang terjadinya masalah penglihatan yang berlanjut dan serius.

Baca juga: Jenis Infeksi yang Sebabkan Endoftalmitis

Bagaimana Cara Mendeteksi Endoftalmitis?

Apabila kamu mengalami gejala-gejala endoftalmitis, dokter kemungkinan melakukan sejumlah tes untuk melihat kondisi mata dan menguji kemampuan penglihatan kamu. Dokter dapat merujuk untuk dilakukan USG untuk melihat apakah ada benda asing yang masuk ke bola mata.

Jika dicurigai adanya infeksi, dokter kemungkinan melakukan tes yang disebut tap vitreous. Tes ini dilakukan dengan penggunaan jarum kecil untuk mengeluarkan cairan dari bola mata. Cairan tersebut kemudian diuji sehingga dokter dapat memutuskan perawatan yang harus dilakukan. 

Bagaimana Endoftalmitis Diobati?

Perawatan endoftalmitis sebagian tergantung pada penyebab infeksi. Namun, pengobatan utamanya adalah pemberian antibiotik secepat mungkin. Biasanya, pemberian antibiotik untuk mata diberikan menggunakan jarum kecil. Kortikosteroid biasanya juga diberikan untuk mengurangi pembengkakan. 

Apabila endoftalmitis disebabkan oleh masuknya benda asing, maka benda tersebut harus dikeluarkan secepatnya melalui prosedur yang dilakukan oleh dokter. Gejala biasanya mulai membaik dalam beberapa hari setelah pengobatan dilakukan. Nyeri mata dan kelopak mata bengkak cenderung membaik sebelum penglihatan menjadi lebih baik.

Baca juga: Jangan Diremehkan, Ketahui Komplikasi Akibat Endoftalmitis

Jika kamu mengalami mata merah yang mengganggu penglihatan, sebaiknya periksakan diri ke dokter. Sebelum mengunjungi rumah sakit, kini kamu bisa membuat janji dengan dokter terlebih dahulu lewat aplikasi Halodoc. Tinggal pilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan kamu lewat aplikasi.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. What Is Endophthalmitis?.
American Family Physician. Diakses pada 2020. Endogenous Endophthalmitis: Case Report and Brief Review.