Apa Itu Sikap Denial? Ini Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya
Denial adalah mekanisme pertahanan psikologis yang memberikan perlindungan sementara.

DAFTAR ISI
- Apa Itu Denial?
- Penyebab Denial
- Dampak Denial
- Contoh Denial dalam Kehidupan Sehari-hari
- Kapan Denial Adalah Masalah?
- Apa Kata Riset?
- Cara Mengatasi Denial
1. Denial adalah mekanisme pertahanan diri ketika seseorang menolak kenyataan yang sulit diterima.
2. Penyebabnya bisa karena stres, trauma, atau ketidakmampuan menghadapi emosi yang kuat.
3. Dampak negatifnya antara lain menunda penyelesaian masalah dan menghambat pertumbuhan pribadi.
4. Mengatasi denial membutuhkan penerimaan diri, dukungan orang terdekat, dan bantuan profesional jika diperlukan.
5. Mengenali dan mengatasi denial penting untuk kesehatan mental yang baik.
Denial adalah mekanisme pertahanan psikologis yang sering digunakan seseorang untuk menghindari kenyataan yang menyakitkan atau tidak menyenangkan. Namun, apa sebenarnya penyebab denial, dampaknya, dan bagaimana cara mengatasinya?
Biasanya, denial muncul saat seseorang menghadapi situasi yang memicu stres atau emosi negatif, seperti kehilangan, kegagalan, atau diagnosis penyakit serius.
Meskipun dapat memberikan rasa aman sementara, sikap ini bisa menghambat proses pemulihan atau penyelesaian masalah jika dibiarkan terus-menerus. Apabila tidak segera diatasi, sikap ini dapat berdampak buruk, seperti memperburuk hubungan, menunda penanganan masalah, hingga memengaruhi kesehatan mental.
Namun, apa sebenarnya penyebab denial, dampaknya, dan bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasan lengkapnya dalam artikel ini.
Apa Itu Denial?
Denial adalah kondisi di mana seseorang menolak untuk menerima kenyataan atau fakta yang jelas, meskipun bukti yang ada menunjukkan sebaliknya.
Ini adalah cara alami otak untuk melindungi diri dari stres atau trauma emosional.
Denial bisa terjadi dalam berbagai situasi, seperti menghadapi penyakit serius, kehilangan orang yang dicintai, atau masalah keuangan.
Dalam situasi ini, individu secara tidak sadar menghindari fakta, emosi, atau situasi tertentu untuk melindungi diri dari stres atau rasa sakit emosional.
Misalnya, seseorang yang baru didiagnosis dengan penyakit serius mungkin menyangkal hasil tersebut karena sulit menerima kenyataan itu.
Sikap denial tidak selalu buruk. Dalam beberapa kasus, ini bisa menjadi reaksi awal yang wajar terhadap situasi traumatis, memberikan waktu bagi seseorang untuk beradaptasi secara perlahan.
Namun, jika denial berlangsung terlalu lama, hal ini dapat menghambat proses penyembuhan, penyelesaian masalah, atau bahkan memperburuk kondisi.
Penyebab Denial
Denial muncul sebagai respons terhadap berbagai faktor, di antaranya:
- Trauma: Pengalaman traumatis seringkali terlalu berat untuk diproses secara langsung, sehingga seseorang mungkin menyangkal kejadian tersebut sebagai cara untuk melindungi diri.
- Ketakutan: Rasa takut akan konsekuensi dari suatu kenyataan dapat mendorong seseorang untuk menyangkalnya. Misalnya, takut akan perubahan besar dalam hidup atau takut akan stigma sosial.
- Kecemasan: Tingkat kecemasan yang tinggi dapat membuat seseorang sulit menerima kenyataan, terutama jika kenyataan tersebut memicu rasa tidak aman atau tidak berdaya.
- Rasa bersalah: Dalam beberapa kasus, denial dapat muncul sebagai cara untuk menghindari rasa bersalah atau tanggung jawab atas suatu tindakan atau situasi.
Dampak Denial
Denial dapat memiliki dampak yang berbeda, tergantung pada durasi dan konteksnya:
Positif (jangka pendek)
Memberi waktu untuk beradaptasi secara perlahan dengan situasi yang sulit. Ini bisa menjadi mekanisme koping yang membantu seseorang mempersiapkan diri secara emosional.
Negatif (jangka panjang)
Menghambat penyembuhan, memperburuk masalah, mengganggu hubungan, dan mencegah pertumbuhan emosional.
Penolakan yang berkelanjutan dapat menghalangi seseorang untuk mencari solusi atau dukungan yang dibutuhkan.
Menurut studi dalam Journal of Abnormal Psychology, denial yang berkepanjangan dapat memperburuk kondisi kesehatan mental dan fisik.
Contoh Denial dalam Kehidupan Sehari-hari
Beberapa contoh umum dari denial meliputi:
- Seseorang yang didiagnosis kanker tetap berkata, “Dokter salah, saya baik-baik saja.”
- Setelah putus, seseorang tetap berperilaku seolah masih berpacaran dan menolak mengakui kesedihannya.
- Seseorang dengan masalah keuangan terus berbelanja dan menghindari melihat tagihan.
- Seseorang yang memiliki masalah kecanduan menolak mengakui bahwa mereka memiliki masalah.
Kapan Denial Adalah Masalah?
Denial menjadi masalah ketika menghalangi seseorang untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasi masalah.
Jika denial berlangsung lama dan menyebabkan dampak negatif pada kesehatan mental, hubungan, atau kehidupan sehari-hari, penting untuk mencari bantuan profesional.
Menurut Kementerian Kesehatan RI, mengenali dan mengatasi denial adalah langkah penting dalam menjaga kesehatan mental yang optimal.
Apa Kata Riset?
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Medical Science Monitorbertujuan untuk memahami bagaimana pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir (ESRD) mengatasi stres akibat penyakit ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien cenderung lebih sering menggunakan mekanisme penyangkalan (denial syndrome) dan menghindari masalah.
Penelitian ini menemukan tiga pola strategi mengatasi stres: pertama, pasien yang menggunakan penyangkalan dan penghindaran; kedua, pasien yang menggunakan strategi untuk fokus pada tugas; ketiga, menggunakan campuran penyangkalan dan strategi fokus pada tugas.
Meskipun sikap denial sering dianggap sebagai cara yang kurang efektif untuk mengatasi masalah, penelitian ini menunjukkan bahwa mekanisme ini bisa membantu pasien untuk lebih patuh terhadap pengobatan dan merasa kualitas hidup mereka tetap baik meskipun menghadapi penyakit berat.
Cara Mengatasi Denial
Mengatasi denial membutuhkan kesadaran diri dan kemauan untuk menghadapi kenyataan.
Berikut adalah beberapa langkah yang dapat membantu:
- Mengakui perasaan: Identifikasi dan akui perasaan yang muncul akibat situasi yang dihadapi. Jangan mencoba untuk menekan atau mengabaikan perasaan tersebut.
- Menerima kenyataan secara bertahap: Beri diri waktu untuk menerima kenyataan secara bertahap. Jangan memaksakan diri untuk langsung menerima semuanya sekaligus.
- Berbicara dengan orang yang dipercaya: Berbagi perasaan dan pikiran dengan teman, keluarga, atau orang yang dipercaya dapat membantu mengurangi beban emosional.
- Fokus pada solusi: Alih-alih terpaku pada penolakan, cobalah untuk fokus pada langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengatasi masalah.
Mencari dukungan profesional
Jika denial sulit diatasi sendiri, mencari bantuan dari profesional kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater dapat sangat membantu.
Terapis dapat membantu mengidentifikasi akar penyebab denial dan mengembangkan strategi koping yang efektif.
Denial adalah mekanisme pertahanan psikologis yang wajar, tetapi jika dibiarkan berlarut-larut, dapat menimbulkan dampak negatif. Dengan memahami penyebab, dampak, dan cara mengatasinya, kamu dapat menghadapi kenyataan dengan lebih sehat dan produktif.
Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika denial sudah mengganggu kualitas hidup kamu.
Dengan memahami denial dan cara mengatasinya, kamu dapat mengambil langkah positif untuk menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan hidup.
Tetap jaga diri dan jangan ragu untuk meminta bantuan ketika diperlukan!
Apabila kamu memerlukan bantuan profesional untuk mengelola denial syndrome, kamu bisa berkonsultasi dengan psikiater di Halodoc.
Dengan Halodoc, kamu dapat memanfaatkan fitur voice chat maupun video call untuk mempermudah sesi konsultasi.
Jadi, tunggu apa lagi? Ayo, hubungi dokter di Halodoc sekarang juga!



