• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apa Saja Faktor Risiko Gangguan Kepribadian Narsistik?

Apa Saja Faktor Risiko Gangguan Kepribadian Narsistik?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Kamu mungkin pernah menjumpai seseorang yang sangat gemar berswafoto ketika sedang makan atau berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Ketika melihatnya, kamu bisa jadi menganggap orang tersebut sangat narsis. Namun, jika kondisi tersebut diikuti dengan anggapan bahwa diri sendiri lebih penting dari orang lain, bisa jadi orang tersebut mengidap gangguan kepribadian narsistik

Ya, perasaan berlebihan dan anggapan bahwa dirinya lebih penting dari orang lain menjadi gejala khas dari gangguan mental narsistik. Tidak hanya itu, pengidap narsistik juga cenderung menganggap rendah orang lain, haus akan pujian dan sangat ingin jadi orang yang disukai, melebih-lebihkan bakat yang dimiliki, berambisi untuk mendapatkan apa yang diinginkan meski harus mengorbankan orang lain, dan tidak adanya empati. 

Meski begitu, kamu harus tahu bahwa di balik rasa pentingnya untuk dianggap dan dipuji, pengidap gangguan kepribadian narsistik sebenarnya memiliki rasa percaya diri yang rendah dan sangat rentan terhadap kritik atau saran. Inilah mengapa mereka biasanya memberikan respon negatif terhadap masukan yang mereka terima. 

Baca juga: Percaya Diri atau Narsistik? Ketahui Bedanya

Faktor Risiko Gangguan Kepribadian Narsistik, Apa Saja?

Sebagian besar gangguan mental terjadi tanpa penyebab yang pasti, begitu pula dengan gangguan narsistik. Dipercaya, ada banyak faktor yang turut berperan terhadap terbentuknya masalah kejiwaan ini pada seseorang, seperti genetik atau keturunan, lingkungan tempat tinggal dan pergaulan sosial, hingga adanya kelainan pada struktur otak yang berpengaruh pada perilaku dan pola pikir pengidap. 

Trauma karena pernah mengalami kekerasan, pernah ditinggalkan, perilaku dimanja, dan pujian yang berlebihan ketika usia anak-anak pun bisa memicu terbentuknya masalah narsistik ketika anak beranjak remaja dan dewasa nantinya. Sudah pasti, pola asuh anak berperan sangat penting dalam hal ini. 

Baca juga: Selalu Merasa Dikagumi Banyak Orang, Bukan PD tapi Narsis

Gangguan kepribadian narsistik bisa terjadi pada siapa saja, biasanya terbentuk ketika usia anak dan berkembang pada usia remaja dan dewasa muda atau usia dewasa produktif. Ada beberapa hal yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan narsistik, termasuk: 

  • Orangtua yang memberikan kritik terlalu berlebihan ketika anak merasa cemas, takut, dan mengalami kegagalan dalam hal apa pun.
  • Orangtua yang terlalu berlebihan dalam memanjakan dan memberikan pujian pada anak, padahal pencapaian yang dilakukannya tidak seberapa. 

Tidak adanya risiko bukan berarti kamu terbebas dari gangguan kepribadian narsistik. Bisa jadi kamu mengalami gejala yang berbeda, jadi tidak ada salahnya untuk berbicara langsung pada psikolog. Pakai aplikasi Halodoc supaya tanya jawab dengan psikolog lebih mudah dan bisa kamu lakukan kapan saja. Jika kamu perlu berobat ke rumah sakit, aplikasi Halodoc juga membuatmu tak perlu antre. 

Baca juga: Seberapa Perlu Psikoterapi pada Pengidap Narsistik?

Mengatasi Gangguan Kepribadian Narsistik 

Selain menjalani terapi, kamu masih bisa melakukan penanganan sendiri di rumah untuk mengatasi gangguan narsistik. Cobalah untuk selalu terbuka dan memulai bersosialisasi dengan orang lain. Hindari anggapan bahwa diri sendiri jauh lebih hebat dibandingkan dengan orang lain, dan jangan pernah menganggap orang lain lebih rendah. Jangan lupa, mulailah berempati terhadap sesama dan sebisa mungkin hindari stres yang bisa memicu masalah mental, bisa dengan olahraga, meditasi, maupun yoga. 

Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Narcissistic Personality Disorder.
Medical News Today. Diakses pada 2020. All About Narcissistic Personality Disorder.
WebMD. Diakses pada 2020. Narcissistic Personality Disorder.