Gangguan Kepribadian Narsistik

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia

Pengertian Kepribadian Narsistik

Narsistik adalah kondisi gangguan kepribadian dimana seseorang akan menganggap dirinya sangat penting dan harus dikagumi. Pengertian akan kepribadian narsistik sendiri berasal dari Yunani, ketika seseorang pemuda bernama Narcissus jatuh cinta pada bayangannya sendiri ketika tidak sengaja melihat dirinya pada kolam air.

Pengidap kepribadian narsistik biasanya merasa bahwa dirinya memiliki pencapaian yang luar biasa dan lebih baik dari orang lain dan merasa bangga secara berlebihan pada dirinya. Hal tersebut terjadi meskipun pencapaian yang dimiliki biasa saja. Pengidap  narsistik juga biasanya memiliki tingkat empati yang rendah kepada orang lain, dan menganggap dirinya memiliki kepentingan yang lebih tinggi dari orang lain. Pengidap gangguan kepribadian narsistik memiliki perasaan yang mudah tersinggung dan bisa dengan mudah merasakan depresi ketika mereka di kritik oleh orang lain, meskipun mereka memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Baca juga: Inilah 4 Tipe Narsistik, Salah Satunya Mungkin ada di Sekitar

 

Faktor Risiko Kepribadian Narsistik

Umumnya, kepribadian narsistik mudah ditemukan pada awal usia dewasa seseorang. Namun pada beberapa kasus, sebagian remaja yang baru mengalami pubertas juga akan memiliki sifat narsisme. Hal tersebut belum tentu akan berlanjut sampai mereka dewasa karena beberapa faktor juga memengaruhi kemunculan sikap narsisme. Berikut ini beberapa faktor risiko untuk gangguan kepribadian narsistik, yaitu:

  • Sikap orangtua yang meremehkan Si Kecil, mengejek rasa takut anak, serta kebutuhan Si Kecil;

  • Kurang pujian dan kasih sayang selama masa kanak-kanak;

  • Pujian serta memanjakan secara berlebihan;

  • Pola asuh atau pola didik orang tua yang tidak bisa diandalkan; dan

  • Mempelajari perilaku manipulatif dari orangtua.

 

Penyebab Kepribadian Narsistik

Sebenarnya penyebab utama yang bisa menyebabkan gangguan kepribadian narsistik belum diketahui. Seperti gangguan mental lainnya, penyebabnya sangat kompleks. Masa kanak-kanak yang disfungsional bisa saja memiliki korelasi dengan gangguan kepribadian narsistik. Faktor disfungsional tersebut bisa saja karena orangtua yang memanjakan anaknya terlalu berlebihan, memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap anak, perlakuan kejam terhadap anak, ataupun anak sering diabaikan oleh orangtua. Meskipun bisa jadi, tetapi terdapat faktor genetik yang membentuk perilaku nasrsistik. Hal tersebut dikarenakan adanya hubungan antara otak dengan perilaku serta kemampuan berpikir yang memainkan peran dalam perkembangan gangguan kepribadian narsistik.

 

Gejala Kepribadian Narsistik

Kepribadian narsistik masuk dalam kategori gangguan kepribadian (antisosisal dan pembatasan diri) karena pada umumnya pengidap gangguan kepribadian ini memiliki perilaku yang dramatis dan emosional. Berikut ini gejala dari gangguan kepribadian narsistik, yaitu:

  • Percaya bahwa dirinya lebih baik dari orang lain;

  • Khayalan tentang kekuasaan, kesuksesan, dan daya tarik;

  • Melebih-lebihkan prestasi atau bakat;

  • Mengharapkan pujian konstan dan kekaguman;

  • Percaya bahwa diri sendiri istimewa dan berperilaku sebagai seseorang yang istimewa;

  • Gagal untuk mengenali emosi dan perasaan orang lain;

  • Mengharapkan orang lain untuk menyetujui ide dan rencana yang dibuatnya;

  • Mengambil keuntungan dari orang lain;

  • Mengekspresikan sebuah bentuk penghinaan terhadap orang-orang yang dianggap inferior (rendah);

  • Menjadi iri terhadap orang lain;

  • Percaya bahwa orang lain iri terhadap diri sendiri;

  • Kesulitan menjaga hubungan yang sehat;

  • Menetapkan tujuan yang tidak realistis;

  • Mudah terluka dan mengalami penolakan;

  • Memiliki harga diri yang rapuh; dan

  • Menampilkan diri sebagai orang yang keras kepala dan tidak emosional.

Namun di balik semua perilaku ini, terletak harga diri yang rapuh. Umumnya, Seseorang dengan kepribadian narsistik memiliki kesulitan untuk menerima kritik. Ia memiliki kecenderungan untuk menyembunyikan rasa malu dan rasa “terhina”. Setelahnya, ia bisa jadi bereaksi dengan kemarahan, penghinaan, serta berbagai cara untuk meremehkan orang lain, sehingga membuat dirinya terlihat lebih baik. 

Baca juga: Kepribadian Narsisistik Picu Depresi Hingga Keinginan Bunuh Diri, Kok Bisa? 

 

Diagnosis Kepribadian Narsistik

Untuk mendiagnosis pasien dengan gangguan kepribadian seperti ini biasanya dokter akan menanyakan riwayat yang dialami oleh pasien, pola asuh keluarganya, serta hubungan pasien dengan keluarga maupun lingkungannya. Para dokter juga bisa menggunakan suatu kuesioner Personality Inventory Narcissistic, yang berisi daftar 40 pertanyaan yang mengukur hal-hal yang mengarahkan ke narsis, seperti berapa seseorang membutuhkan perhatian atau seberapa banyak seseorang haus akan kekuasaan.

 

Pengobatan Kepribadian Narsistik

Pengobatan terhadap gangguan kepribadian narsistik bisa dilakukan dengan terapi, seperti mengunjungi psikologis atau terapi di rumah dengan melibatkan anggota keluarga. Metode terapi yang bisanya digunakan adalah psikoterapi. Psikoterapi bertujuan untuk membangun harga diri dan juga membimbing pengidapnya agar punya harapan yang realistis.

Para narsistik juga bisa rutin melakukan aktivitas, seperti yoga dan meditasi untuk mengurangi gangguan ini dan selalu berkomunikasi dengan keluarga dan orang terdekat. Dengan sikap konsisten dan dukungan orang sekitar, tentu saja gangguan kepribadian ini bisa diatasi asalkan dijalani dengan sikap konsisten.

Pada anak-anak, disarankan agar orang tua jangan berlebihan dalam memberikan pujian. Akan lebih baik jika pujian diberikan sewajarnya saja. Sedangkan untuk orangtua yang kurang memerhatikan buah hatinya, perlu juga meningkatkan perhatian agar Si Kecil memiliki kepribadian yang dapat diandalkan di masa depan.

 

Pencegahan Kepribadian Narsistik

Sebenarnya tidak ada pencegahan khusus yang bisa dilakukan agar gejala kepribadian narsistik tidak muncul. Ini karena penyebab utamanya sendiri masih belum diketahui. Terapi yang dilakukan bersama dengan keluarga juga seharusnya bisa membantu keluarga untuk mempelajari cara sehat untuk berkomunikasi, mengurangi tekanan emosional, dan menjaga keharmonisan antar anggota keluarga.

Baca juga: Enggak Mau Dengar Kritik, Ciri Gangguan Kepribadian Narsistik

 

Kapan harus ke Dokter?

Seseorang yang mengidap gangguan kepribadian narsistik, mungkin akan terlihat memiliki sikap sombong, angkuh, atau “megah”. Orang tersebut sering memonopoli percakapan, meremehkan, ataupun memandang rendah orang. Pada dasarnya, ia mungkin merasa lebih punya hak, sehingga ketika tidak menerima perlakuan khusus yang menurutnya tidak sesuai dengan hak, ia menjadi sangat tidak sabar atau marah. Sebaiknya, jika muncul gejala seperti ini, segera periksakan dan diskusikan masalah ini ke dokter rumah sakit yang dekat dengan tempat tinggal kamu melalu Halodoc.

Referensi:
psychologytoday.com (di akses pada 2019). Narcissistic Personality Disorder
Diperbarui pada 14 Agustus 2019