• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apa yang Dimaksud dengan Slow Parenting?

Apa yang Dimaksud dengan Slow Parenting?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Setiap orangtua memiliki pola asuh yang berbeda-beda. Apapun pola asuh yang dilakukan, memiliki satu tujuan, yaitu membentuk karakter dan pribadi anak yang baik saat dewasa nanti. Nah, salah satu pola asuh yang kerap ditanamkan dikenal dengan istilah slow parenting. Bagaimana pola asuh ini diterapkan? Berikut penjelasan selengkapnya mengenai pola asuh ini.

Baca juga: Jenis Pola Asuh Anak yang Perlu Dipertimbangkan Orangtua

Slow Parenting, Pola Asuh yang Seperti Apa?

Slow parenting dikenal dengan istilah pola asuh lambat. Pola asuh ini mengajarkan anak untuk fokus pada satu hal yang dikerjakan dan tidak terburu-buru dalam menjalani hal-hal lainnya. Pola asuh ini menekankan pada kualitas yang dikerjakan, bukan pada kuantitas berapa banyak hal yang dikerjakan. Ini adalah gaya asuh yang menganjurkan mengikuti arus secara alami, ketimbang harus merencanakan setiap hal dalam kehidupan anak. 

Baca juga: Pola Asuh yang Tepat untuk Anak Usia 5-10 Tahun

Adakah Keuntungan dari Pola Asuh Ini?

Tidak ada pola asuh yang baik atau buruk. Semua akan disesuaikan pada karakter masing-masing anak. Meski begitu, ada beberapa keuntungan pola asuh ini ketimbang pola asuh lainnya. Berikut ini sejumlah keuntungan dari slow parenting:

  1. Lebih mandiri. Pola asuh ini akan mengajarkan anak bahwa memiliki kebutuhan atau keinginan harus bekerja keras untuk memenuhinya. 
  2. Percaya diri. Anak yang diasuh dengan pola asuh ini akan lebih percaya diri. Mereka sadar akan dunia nyata yang berada di luar batas rumah mereka. Pola asuh ini dilakukan dengan mengekspos anak pada situasi baru, sehingga akan meningkatkan wawasan mereka terhadap kehidupan.
  3. Lebih terbuka. Anak-anak biasanya gemar dalam mengeksplorasi, melakukan hal-hal yang baru, serta menyelesaikan masalahnya sendiri. Pola asuh ini memberi ruang gerak anak untuk mengeksplorasi pilihan mereka, sebelum menyelesaikan masalah sendiri.
  4. Tetap tenang. Anak yang dididik dengan pola asuh ini akan belajar tenang dalam situasi yang rumit. Hal tersebut dapat terjadi karena ia terbiasa diberi ruang gerak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Dengan begitu, rasa percaya dirinya akan lebih tinggi.

Intinya, anak-anak akan belajar dari kesalahan mereka. Sebagai orangtua, ibu tidak perlu menghakimi kesalahan yang dibuat oleh anak, karena ia akan belajar banyak dari kejadian tersebut.

Baca juga: Pola Asuh Anak Ala Timur dan Barat, Apa Bedanya?

Jika Tertarik, Begini Cara Menerapkannya 

Jika tertarik menjalankan pola asuh ini, ibu bisa menerapkan beberapa tips berikut:

1.Jangan Memaksa Hal-Hal yang Tidak Disukai

Ibu perlu memperhatikan saat anak berbicara. Pahami nadanya, apakah ia suka atau tidak. Jika tidak suka, jangan memaksa. Jika ia suka, jangan memaksa untuk menceritakan seluruh kejadian yang ia alami. Biarkan percakapan ibu dan anak mengalir begitu saja.

2.Jadi Pendengar yang Baik

Anak-anak perlu waktu untuk memproses apa yang telah ia pelajari. Jadi, sebaiknya ibu jadi pendengar yang baik dan jangan menghakimi, ya!

3.Jangan Membebani Anak

Jangan membebani anak untuk selalu menjadi yang terbaik dalam segala hal. Hal tersebut akan membuat anak menjadi sosok perfeksionis yang takut gagal. Biarkan anak menjadi dirinya sendiri.

4.Awasi Saja, jangan Selalu Mengaturnya

Anak juga perlu diberikan waktu luang untuk mengeksplorasi apa yang ia sukai. Jika suka mewarnai, biarkan ia mewarnai. Jika suka olahraga, biarkan ia berolahraga bersama teman-temannya. Jangan terlalu banyak memberi peraturan.

Pola asuh ini dibuat lebih lambat, agar anak tidak terburu-buru dalam melakukan berbagai macam hal. Dengan pola asuh ini, orangtua menuntut agar anak fokus pada satu tugas yang ia kerjakan. Saat anak fokus, maka ia akan belajar memahami dengan lebih baik, bahkan bisa menikmati di setiap sesi belajarnya. Jika ada yang ingin ibu tanyakan terkait dengan pola asuh ini, silahkan diskusikan langsung dengan dokter di aplikasi Halodoc, ya!

Referensi:
Parents. Diakses pada 2020. Why Slow Parenting Is Right for My Family.
First Cry Parenting. Diakses pada 2020. Slow Parenting – Should You Try This Style?