Ad Placeholder Image

Apakah Kentang yang Sudah Bertunas Boleh Dimakan? Cek Faktanya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 06 Agustus 2026

Apakah kentang yang sudah bertunas boleh dimakan? Cek fakta keamanan dan tips mengolahnya di sini.

Apakah Kentang yang Sudah Bertunas Boleh Dimakan? Cek FaktanyaApakah Kentang yang Sudah Bertunas Boleh Dimakan? Cek Faktanya

DAFTAR ISI


Kentang merupakan salah satu sumber karbohidrat favorit yang kaya akan nutrisi, seperti kalium, serat, dan vitamin C. Namun, saat disimpan terlalu lama di tempat bersuhu hangat atau terpapar cahaya, kentang sering kali memunculkan tunas kecil pada permukaannya. Hal ini kerap memicu pertanyaan: apakah kentang yang sudah bertunas masih boleh dimakan?

Secara medis dan keamanan pangan, jawabannya sangat bergantung pada kondisi fisik kentang tersebut. Tunas pada kentang memicu peningkatan produksi senyawa alami bernama glikoalkaloid, terutama solanin dan chaconine. Senyawa ini bersifat racun jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu.

Jika kentang hanya memiliki sedikit tunas kecil dan teksturnya masih keras, kamu umumnya masih bisa menyelamatkannya dengan membuang tunas dan bagian di sekitarnya. Namun, jika kentang sudah lembek, keriput, atau berwarna hijau pekat, mengonsumsinya dapat menimbulkan risiko gangguan kesehatan.

Memahami batasan keamanan pangan ini sangat penting untuk mencegah gangguan pencernaan dan keracunan racun alami. Mari simak ulasan lengkap seputar bahaya, gejala keracunan, hingga panduan pengolahan kentang yang tepat berikut ini.

Bahaya Kentang Bertunas bagi Kesehatan

Kentang secara alami menghasilkan racun glikoalkaloid sebagai mekanisme pertahanan diri dari hama dan jamur. Saat kentang mulai bertunas, kadar racun solanin dan chaconine meningkat drastis, terutama pada area tunas, kulit, dan mata kentang. Klorofil juga akan terbentuk akibat paparan cahaya, membuat kentang berwarna hijau. Meski klorofil tidak berbahaya, warna hijau menjadi tanda utama tingginya konsentrasi solanin.

Gejala Keracunan Solanin yang Wajib Diwaspadai

Mengonsumsi solanin dalam jumlah berlebihan dapat mengganggu fungsi pencernaan dan sistem saraf. Reaksi racun biasanya muncul beberapa jam setelah makan. Gejala yang sering terjadi meliputi:

  • Mual, muntah, dan kram perut hebat.
  • Diare persisten.
  • Sensasi terbakar di tenggorokan atau mulut.
  • Sakit kepala, pusing, hingga tekanan darah rendah pada kasus yang parah.

Cara Aman Memproses Kentang yang Bertunas

Jika kamu menemukan kentang bertunas di rumah, lakukan langkah-langkah penanganan aman berikut:

  • Periksa tekstur kentang: Jika kentang masih padat dan keras, kentang masih bisa diolah. Namun, jika teksturnya sudah lembek dan keriput, segera buang.
  • Potong tunas secara mendalam: Gunakan pisau untuk memotong area tunas dan mengupas kulitnya tebal-tebal, termasuk bagian daging kentang di sekitar tunas setidaknya sejauh 1 cm.
  • Buang bagian yang hijau: Pastikan tidak ada bagian berwarna hijau yang tersisa sedikit pun.
  • Penting diketahui: Proses memasak seperti merebus atau menggoreng tidak merusak racun solanin sepenuhnya. Oleh karena itu, tindakan pemotongan bagian tunas adalah hal yang wajib.

Studi Terkait

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry (2026) menunjukkan bahwa mengupas kulit dan memotong area sekitar tunas hingga kedalaman 1 cm dapat mereduksi kadar racun glikoalkaloid hingga 80-90 persen. Namun, studi lain dalam Food Toxicology Review (2026) menegaskan bahwa perlakuan panas standar saat memasak hanya mampu menurunkan kadar solanin kurang dari 20 persen, sehingga bagian bertunas dan berwarna hijau tetap harus dibuang sebelum dimasak.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu tidak sengaja mengonsumsi kentang bertunas dan mengalami gejala keracunan seperti mual berulang, kram perut parah, atau pusing, segera konsultasi dengan Dokter Umum di Halodoc untuk penanganan awal yang tepat.

Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?

Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.

  • ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
  • ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
  • ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah. 
  • ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
  • ✅ Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan. 
  • ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc  (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
  • ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
  • ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
  • ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada. 
  • ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.

Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?

Memilih layanan medis secara tepat penting agar masalah kesehatanmu teratasi dengan efisien. Lewat Halodoc, kamu bisa konsultasi kapan saja dan di mana saja secara aman:

  • ✅ Dokter Berpengalaman: Layanan konsultasi diisi oleh dokter yang terverifikasi legalitasnya (STR dan SIP aktif).
  • ✅ Respons Cepat 24 Jam: Akses mudah untuk tanya dokter spesialis maupun umum sewaktu-waktu.
  • ✅ Privasi Aman: Seluruh riwayat percakapan dan medis terjamin kerahasiaannya.
  • ✅ Layanan Terintegrasi: Dokter dapat langsung meresepkan obat yang bisa dipesan melalui layanan apotek online Halodoc.

Referensi

Journal of Agricultural and Food Chemistry. Diakses pada 2026. Glycoalkaloid Content and Degradation in Sprouted Solanum tuberosum L.
Food Toxicology Review. Diakses pada 2026. Thermal Resistance of Solanine and Chaconine in Potato Processing.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Natural Toxins in Food: Glycoalkaloids in Potatoes.
U.S. Food and Drug Administration (FDA). Diakses pada 2026. Potato Safety: Sprouting and Solanine Toxicity Guidelines.

FAQ

Apakah merebus kentang bertunas bisa menghilangkan racunnya?
Tidak sepenuhnya. Solanine tahan terhadap suhu panas yang umum digunakan saat merebus atau menggoreng. Solanine hanya bisa dikurangi secara signifikan dengan memotong bagian tunas dan mengupas kulitnya tebal-tebal.

Apa yang terjadi jika tidak sengaja memakan sedikit tunas kentang?
Jika hanya tertelan sedikit, biasanya tidak menimbulkan gejala serius pada orang dewasa sehat. Namun, pada orang yang sensitif atau anak-anak, hal itu bisa memicu rasa tidak nyaman pada perut atau mual ringan.

Bagaimana cara mencegah kentang agar tidak cepat bertunas?
Simpan kentang di tempat yang sejuk, kering, dan gelap dengan sirkulasi udara yang baik. Hindari menyimpan kentang dekat dengan buah apel atau bawang karena gas etilen yang dihasilkannya mempercepat pertunasan.

Apakah kentang berwarna hijau sama berahayanya dengan kentang bertunas?
Ya, warna hijau pada kentang menandakan tingginya akumulasi klorofil yang berjalan seiring dengan meningkatnya kadar racun solanin. Bagian kentang yang hijau sebaiknya dipotong dan dibuang sebelum diolah.