• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • ASI Dikonsumsi Orang Dewasa, Ini Fakta Medisnya

ASI Dikonsumsi Orang Dewasa, Ini Fakta Medisnya

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Air susu ibu atau ASI adalah sumber makanan utama untuk bayi karena memiliki banyak manfaat. Khasiat ASI untuk bayi yaitu membangun sistem imun tubuh, menunjang tumbuh kembang, dan mengurangi risiko kanker. Bahkan penelitian sudah membuktikan, bayi yang minum ASI secara eksklusif cenering tidak mudah sakit dibanding bayi yang minum susu formula.

Lalu, bagaimana jika orang dewasa juga mengonsumsi ASI? Apakah manfaat yang sama dengan bayi juga dirasakan oleh orang dewasa yang mengonsumsi ASI? Tentu hal ini menjadi kontroversi dan membuat ahli bingung ketika orang dewasa masih tertarik minum ASI.

Baca juga: Mitos & Fakta Tentang Menyusui

Manfaat ASI Tidak Terjadi pada Orang Dewasa

Sebenarnya, tidak ada larangan orang dewasa mengonsumsi ASI. Hanya saja, menurut medis hal ini tidak akan bermanfaat bagi tubuh orang dewasa saat minum ASI. Nutrisi dalam ASI sudah tidak mampu lagi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan orang dewasa. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar pemberian ASI pada anak hingga berusia 2 tahun. Ini berkaitan dengan fungsi utama ASI yang menunjang tumbuh kembang anak supaya kebutuhan nutrisinya tercukupi. 

Jadi, wajar saja jika orang dewasa yang minum ASI justru menuai kontroversi. Apalagi hingga saat ini belum ada penelitian spesifik yang menyatakan bahwa minum ASI saat dewasa dapat bermanfaat untuk kesehatan. 

ASI memang mengandung nutrisi yang sempurna untuk bayi. Tapi ini bukan berarti juga untuk orang dewasa. Terlebih lagi daya tahan tubuh orang dewasa sebenarnya sudah sempurna. Sehingga orang dewasa tidak perlu lagi mengonsumsi ASI. Mengingat kebutuhan nutrisi orang dewasa sudah jauh lebih besar daripada bayi. 

Baca juga: Ini Cara Menyimpan ASI yang Tidak Boleh Ditiru

Kandungan ASI yang Bermanfaat untuk Bayi 

Terlepas apakah orang dewasa bisa minum ASI atau tidak, kandungan ASI memiliki sejumlah manfaat untuk bayi, yaitu: 

  1. Protein: Protein penting dalam ASI yaitu whey dan kasein. Kandungan whey lebih banyak pada ASI dibanding yang tersedia di dalam susu formula. 
  2. Lemak: ASI mengandung lemak yang dibutuhkan untuk kesehatan bayi. Lemak dalam ASI bermanfaat untuk perkembangan otak, penyerapan vitamin yang larut dalam lemak adalah sumber utama kalori.
  3. Vitamin: ASI mengandung banyak vitamin dan mineral yang dibutuhkan bayi, termasuk vitamin E dan Vitamin A. Vitamin E berperan dalam ketahanan sel darah merah, sedangkan vitamin A berfungsi untuk menjaga kekebalan tubuh dan pertumbuhan Si Kecil. Ada pula vitamin yang larut dalam air yaitu vitamin B, C, dan asam folat yang berperan untuk perkembangan otak dan daya tahan tubuh. 
  4. Karbohidrat: Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa, yang berperan membantu mengurangi jumlah bakteri tidak sehat dalam perut. Selain itu juga meningkatkan penyerapan kalsium, fosfor, dan magnesium. ASI mengandung immunoglobin untuk membentuk antibodi secara permanen untuk melawan infeksi seumur hidup manusia. Manfaat ini yang membuat pemberian ASI pada bayi sangat disarankan, setidaknya selama 6 bulan pertama kelahiran bayi. 

Baca juga: Tips Agar Bayi Tidak Gumoh Setelah Menyusui

Itulah manfaat ASI yang perlu diketahui. Jika kamu adalah orang dewasa yang berencana untuk meminum ASI sebagai konsumsi rutin, lebih baik pertanyakan lagi apa tujuanmu. Sebab, tidak ada manfaat yang akan diperoleh. Namun, bukan berarti tidak boleh secara medis, mungkin kamu penasaran seperti apa rasa ASI sebenarnya sehingga ingin mencobanya. 

Jika kamu ingin meningkatkan imunitas tubuh, lebih baik tanyakan pada dokter melalui aplikasi Halodoc mengenai vitamin atau suplemen yang perlu dikonsumsi. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:

Baby Center. Diakses pada 2020. My husband wants to taste my breast milk. Is it okay if he does? 

Vice. Diakses pada 2020. I Drank My Friend's Breast Milk Every Day for a Week

American Pregnancy. Diakses pada 2020. What’s In Breast Milk?