• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bagaimana Cara Mencegah Penularan HIV dari Ibu ke Bayi?

Bagaimana Cara Mencegah Penularan HIV dari Ibu ke Bayi?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat terjadi saat masa kehamilan. Itulah sebabnya, ibu hamil yang mengidap HIV disarankan untuk terus menjalani pengobatan HIV. Cara ini mengurangi risiko penularan HIV dari ibu hamil ke bayi. 

Selain saat masa kehamilan, penularan HIV dari ibu ke bayi juga bisa terjadi saat proses persalinan dan saat menyusui. Oleh karena itu, penting untuk waspada dan melakukan upaya pencegahan yang disarankan oleh dokter. 

Baca juga: Jarang Disadari Ini 6 Faktor Utama Penyebab HIV dan AIDS

Begini Cara Mengurangi Risiko Penularan HIV ke Bayi

Untuk mencegah atau setidaknya mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan, yaitu:

  • Menjalani terapi antiretroviral (highly active antiretroviral therapy/HAART) selama masa kehamilan. Terapi ini cukup efektif untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi saat hamil.
  • Memberikan pengobatan antiretroviral pada bayi saat proses persalinan dan setelah lahir.

Jika ibu yang mengidap HIV telah menjalani pengobatan secara teratur, hingga virus tidak lagi terdeteksi dalam darah melalui pemeriksaan viral load, ibu dapat dipertimbangkan untuk bisa melahirkan normal atau lewat vagina, tanpa meningkatkan risiko penularan HIV kepada bayi.

Baca juga: Hubungan Intim Sehat, Cari Tahu Gejala HIV/AIDS

Namun, pada beberapa kasus, dokter mungkin merekomendasikan ibu hamil untuk melahirkan dengan operasi caesar untuk mengurangi risiko penularan. Hal ini biasanya dianjurkan jika sebelumnya ibu tidak menjalani terapi kombinasi dan jika kadar virus masih dapat terdeteksi dalam darah.

Lalu, untuk mencegah penularan HIV ke bayi selama menyusui, ibu disarankan untuk tetap menjalani pengobatan antiretroviral secara berkelanjutan. Sebab, menyusui bayi dengan ASI secara eksklusif selama 6 bulan pertama tetap disarankan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pastikan untuk selalu berkomunikasi dengan dokter tentang keamanan obat-obatan untuk mengatasi HIV sebelum mengonsumsinya. Beberapa jenis obat bisa membahayakan janin sehingga tidak disarankan untuk dikonsumsi saat hamil. Tanyakan juga pada dokter apakah perlu obat tambahan untuk mencegah penularan pada bayi dalam kandungan.

Setelah lahir, bayi dari ibu dengan HIV akan segera diperiksa untuk mendeteksi ada atau tidaknya virus HIV di dalam tubuhnya. Tes akan dilakukan 48 jam setelah kelahiran, dan diulangi 6-12 minggu kemudian. Selain itu, bayi juga perlu mendapat pengobatan, sekitar empat bulan, guna mencegah berkembangnya HIV di dalam tubuh.

Baca juga: Inilah 4 Cara untuk Cegah HIV/AIDS

Jadi, ikuti saja semua instruksi dari dokter, dan jalani semua tes serta pengobatan yang disarankan. Terlebih, kondisi setiap ibu yang mengidap HIV bisa berbeda-beda, sehingga pengobatan yang bisa dilakukan pun perlu ditentukan berdasarkan kondisi, melalui penilaian dokter. 

Satu hal yang pasti adalah, tidak semua ibu hamil dan menyusui pasti akan menularkan HIV ke bayinya. Selama menjalani pengobatan secara rutin selama dan setelah kehamilan, risiko penularan HIV ke bayi bisa diminimalisasi. 

Jika ada yang belum jelas atau ingin ditanyakan lebih lanjut mengenai HIV, kamu bisa download aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter, kapan dan di mana saja. 

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. HIV Among Pregnant Women, Infants, and Children.
World Health Organization. Diakses pada 2020. Infant Feeding for the Prevention of Mother-to-Child Transmission of HIV.
NHS Choices UK. Diakses pada 2020. Can HIV Be Passed to an Unborn Baby in Pregnancy or Through Breastfeeding?
WebMD. Diakses pada 2020. HIV and Pregnancy.