• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bagaimana Penanganan untuk Pengidap Gangguan Disosiatif?

Bagaimana Penanganan untuk Pengidap Gangguan Disosiatif?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Gangguan disosiatif adalah sebutan lain untuk gangguan kepribadian ganda. Pengidap gangguan ini memiliki dua atau lebih kepribadian yang secara bergantian mengambil alih kesadaran pengidapnya. Gangguan disosiatif juga dapat membuat pengidapnya mengalami kehilangan kontrol atas dirinya, yang termasuk pikiran, memori, perasaan, hingga kesadaran atas identitasnya.

Semua identitas yang terbentuk dalam pengidap gangguan disosiatif tentunya memiliki nama, tempramen, hingga self-image yang berbeda. Penyebab gangguan disosiatif sulit ditentukan, karena biasanya merupakan kombinasi dari berbagai faktor, seperti pengalaman traumatis di masa lalu (terutama saat kecil), faktor genetik, hingga lingkungan. Identitas baru yang tercipta dalam diri pengidap gangguan disosiatif sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri terhadap trauma hebat yang dialami.

Baca juga: Gangguan Disosiatif Bisa Mendorong Pikiran Menyakiti Diri

Penanganan untuk Pengidap Gangguan Disosiatif

Sama seperti penyakit fisik, gangguan pada kepribadian juga perlu ditangani dan diatasi. Namun, penanganan untuk gangguan disosiatif umumnya memerlukan waktu dan proses yang tidak sebentar. Berikut beberapa pilihan pengobatan untuk pengidap gangguan disosiatif:

1. Psikoterapi

Prosedur psikoterapi untuk menangani gangguan disosiatif bertujuan untuk menyatukan berbagai kepribadian yang ada, hingga menjadi satu kepribadian yang utuh lagi. Proses pengobatan ini biasanya memakan waktu bertahun-tahun, sehingga butuh komitmen dan keinginan kuat untuk sembuh, dari pengidapnya. Metode pengobatan psikoterapi juga dapat membantu pengidap gangguan disosiatif dalam menghadapi trauma yang menjadi penyebabnya. 

2. Terapi Keluarga

Terapi ini membutuhkan kehadiran dan dukungan penuh dari keluarga atau orang terdekat dengan pengidap. Dalam prosesnya, keluarga akan diberi penjelasan tentang apa itu gangguan disosiatif, serta meminta mereka untuk mengalami tanda-tanda atau gejala ketika terjadi perubahan kepribadian. Hal ini dapat membantu memudahkan proses penyembuhan gangguan.

3. Pemberian Obat-Obatan

Sebenarnya, tidak ada obat khusus yang dapat menyembuhkan gangguan disosiatif. Namun, pemberian obat-obatan pada beberapa kasus diperlukan untuk meredakan gejala, seperti kecemasan atau depresi. Biasanya, dokter akan meresepkan obat antidepresan untuk dikonsumsi saat gejala muncul.

Baca juga: Selalu Ingin Jadi Pusat Perhatian, Hati-Hati Alami Gangguan Kepribadian

Kenali Gejala Gangguan Disosiatif

Seperti telah dibahas di awal, gangguan disosiatif ditandai dengan gejala munculnya dua atau lebih kepribadian, yang secara bergiliran mengambil alih kendali pengidapnya. Setiap kepribadian atau identitas yang muncul, akan memiliki nama, gaya bicara, kebiasaan, dan pola pikir yang berbeda.

Selain itu, gangguan disosiatif juga dapat menimbulkan beberapa gejala lain seperti:

  • Gejala seperti depresi, kecemasan, dan perilaku agresif.

  • Perubahan suasana hati atau mood.

  • Gangguan makan dan tidur.

  • Sakit kepala intens.

  • Masalah terkait memori, terutama ingatan kejadian saat ini ataupun di masa lampau. Hal ini karena masing-masing kepribadian punya ingatan yang berbeda, sehingga ketika ada kepribadian yang mengambil alih, ingatan kepribadian lain mungkin jadi samar.

Itulah beberapa gejala gangguan disosiatif yang perlu dikenali. Jika kamu atau orang terdekat mengalaminya, jangan ragu untuk cari bantuan profesional atau psikolog. Sekarang, akses berbicara dengan psikolog bisa lebih mudah dengan aplikasi Halodoc. Cukup download aplikasinya saja di ponselmu.

Baca juga: Cara Mengenali Karakter Anak yang Alami Gangguan Kepribadian

Perlu diketahui bahwa tiap-tiap identitas atau kepribadian pengidap gangguan disosiatif, bisa muncul karena ada hal yang memicunya. Jadi, cobalah kenali hal-hal apa yang dapat memicu transisi dari satu kepribadian ke kepribadian lainnya. Apakah karena stres atau mengalami situasi tertentu yang tidak nyaman atau mengingatkan akan trauma.

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2020. Dissociative Identity Disorder (Multiple Personality Disorder).
WebMD. Diakses pada 2020. Dissociative Identity Disorder (Multiple Personality Disorder).
American Association for Marriage and Family Therapy. Diakses pada 2020. Dissociative Identity Disorder.