• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Hamil di Usia Tua Berisiko Alami Kehamilan Ektopik?

Benarkah Hamil di Usia Tua Berisiko Alami Kehamilan Ektopik?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Tidak selamanya kehamilan berjalan dengan lancar. Ada kalanya kendala datang, salah satunya adalah terjadinya kehamilan ektopik atau kehamilan yang terjadi di luar rahim atau kandungan. Pada kehamilan normal, sel telur yang telah dibuahi oleh sel sperma seharusnya menetap pada tuba falopi sebelum akhirnya dilepaskan menuju ke rahim.

Namun, pada kehamilan ektopik, sel telur yang telah dibuahi justru tidak menempel pada rahim, tetapi pada organ lainnya. Seringnya, sel telur menempel pada tuba falopi, indung telur, serviks atau pada rongga perut. Lalu, apa saja yang menyebabkan seseorang mengalami kehamilan ektopik?

Hamil di Usia Tua Menjadi Faktor Risiko Kehamilan Ektopik

Kerusakan pada bagian tuba falopi sering dikatakan sebagai penyebab terjadinya kehamilan ektopik pada wanita. Namun, apa yang menjadi penyebab sebenarnya kondisi ini masih belum diketahui. Kerusakan tuba falopi sendiri bisa terjadi karena berbagai hal, seperti hormon yang tidak seimbang, cacat lahir, faktor genetik, peradangan karena infeksi atau prosedur medis, dan perkembangan organ reproduksi yang abnormal.

Baca juga: Janin Ada di Luar Rahim, Apa Dampaknya?

Namun, benarkah hamil yang terjadi ketika seorang wanita memasuki usia yang tak lagi muda akan meningkatkan risiko mengalami kehamilan ektopik? Sebenarnya, kelainan kehamilan ini bisa terjadi pada wanita yang telah aktif melakukan hubungan intim dengan pasangan. Meski begitu, memang benar jika kehamilan pada usia 35 tahun atau lebih akan meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini. 

Faktor Risiko Lainnya

Selain itu, masih ada lagi faktor lain yang meningkatkan terjadinya kehamilan ektopik pada wanita yang terbagi menjadi tiga kategori, yaitu berisiko rendah, sedang dan tinggi. Faktor risiko rendah selain usia, antara lain:

  • Pernah menjalani operasi pada perut, wanita yang menjalani operasi usus buntu atau laparotomi memiliki peningkatan risiko kehamilan ektopik dan keguguran.
  • Melakukan aborsi elektif, wanita yang melakukan dua atau lebih aborsi efektif juga meningkatkan risiko terjadinya keguguran dan kehamilan ektopik.

Baca juga: Pilihan Penanganan untuk Mengatasi Kehamilan Ektopik

Sementara, itu, faktor yang termasuk dalam kategori risiko sedang, antara lain:

  • Riwayat infeksi menular seksual atau penyakit radang panggul, karena beberapa penyakit infeksi menular seksual bisa menyebabkan penyakit radang panggul, dapat menyebabkan munculnya jaringan parut pada saluran tuba, sehingga meningkatkan risiko kehamilan ektopik.
  • Riwayat infertilitas. Beberapa faktor medis yang menyebabkan infertilitas juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kehamilan ektopik.
  • Sering berganti pasangan. Alasan ini akan berujung pada meningkatkan risiko tertular penyakit infeksi menular seksual.
  • Paparan asap rokok. Semakin besar paparan asap rokok, akan semakin tinggi risiko terjadinya kehamilan ektopik. Bahkan, wanita yang merokok memiliki risiko empat hingga 20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. 

Baca juga: Waspada 3 Tanda-Tanda Hamil Kosong

Lalu, faktor yang termasuk ke dalam kategori berisiko tinggi pada kehamilan ektopik, di antaranya:

  • Pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya, wanita yang pernah sekali mengalami kelainan ini akan berisiko 17 kali lebih besar untuk mengalami kondisi yang sama.
  • Tuba falopi abnormal, kelainan anatomis pada tuba falopi dapat membuat implantasi pada bagian ini menjadi lebih memungkinkan terjadi.
  • Endometriosis, karena dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut dan adhesi yang dapat mengganggu kemampuan sel telur yang telah dibuahi untuk mencapai rahim.

Jika kamu memiliki salah satu faktor risikonya, lakukan pemeriksaan rutin kehamilan agar tidak terjadi kondisi yang sama. Gunakan aplikasi Halodoc setiap kali kamu punya pertanyaan seputar kehamilan dan ingin bertanya langsung pada dokter kandungan atau hendak membuat janji di rumah sakit terdekat.



Referensi: 
Verywell Family. Diakses pada 2020. Ectopic Pregnancy Causes and Risk Factors.
Healthline. Diakses pada 2020. Ectopic Pregnancy.