• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Pengidap Lupus Moodnya Naik Turun?

Benarkah Pengidap Lupus Moodnya Naik Turun?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Mengidap penyakit kronis, termasuk lupus adalah sesuatu yang sangat emosional, sehingga bisa menyebabkan pengidapnya mengalami depresi. Seseorang yang didiagnosis lupus juga kerap mengonsumsi obat yang memberikan efek samping lebih emosional dan mengalami masalah memori, kesulitan berkonsentrasi,dan kebingungan. 

Lupus secara signifikan memberi sinyal pada sistem kekebalan tubuh, sehingga menyebabkan lebih banyak penyakit. Orang yang mengalami kondisi fisik yang tidak stabil lebih mudah mengalami perubahan mood. Simak pembahasannya mengenai hubungan penyakit lupus dan mood naik turun di bawah ini!

Merasa “Kosong” dan Putus Asa

Seperti sudah disinggung sebelumnya, kondisi fisik yang lemah dan pengobatan menjadi penyebab mood pengidap lupus menjadi naik turun. Makanya, tidak heran ketika seseorang didiagnosis lupus, maka aktivitas yang dulunya disenangi sekarang menjadi sesuatu yang tidak menarik lagi.

Baca juga: Lupus Menyerang Otak, Ini Bahaya yang Terjadi

Bisa jadi salah satu perubahan mood ini dikarenakan ruam lupus yang membuat penampilan seseorang menjadi kurang enak dilihat. Pengalaman ini sangat memberikan dampak terutama buat pengidap lupus dengan jenis kelamin perempuan.

Bagaimana kamu tahu kalau perasaan down dan mood naik turun ini merupakan tanda-tanda depresi? Berikut ini gejala-gejalanya:

Baca juga: 10 Fakta Tentang Lupus yang Perlu Diketahui

  1. Merasa kosong, putus asa, atau tidak berdaya dan seperti kamu tidak dapat mengatasi emosi ini sendirian.
  2. Kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya kamu nikmati ataupun senangi.
  3. Merasa seperti kamu tidak bisa melanjutkan hidup lagi. 
  4. Merasa gagal dan tidak ada yang peduli dengan keberadaanmu.

Mood dan pikiran buruk ini mungkin merupakan tanda bahwa kamu memerlukan evaluasi dan perawatan profesional. Jika kamu berpikir kamu mungkin mengalami depresi, bicarakan dengan dokter. 

Depresi harus ditangani sedini mungkin untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Kalau kamu butuh rekomendasi ahli untuk masalah psikologi, coba deh tanyakan di Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja.

Cegah Mood Naik Turun

Secara nyata kamu bisa melakukan hal-hal lain yang dapat membantu menjaga kesejahteraan emosional, sehingga mood tidak terlalu cepat mengalami perubahan naik turun. Berikut ini adalah tipsnya:

  1. Berolahraga secara teratur dan makan makanan yang sehat.
  2. Ketahui batasan secara emosional dan fisik
  3. Pastikan cukup istirahat.
  4. Bergabunglah dengan grup pendukung lupus.
  5. Jadilah baik untuk dirimu sendiri. Selamat bersenang-senang. Lakukan sesuatu yang membuatmu tertawa.
  6. Cobalah latihan pikiran/tubuh yang dapat membantu diri rileks, seperti meditasi. Beberapa studi menunjukkan bahwa meditasi dapat mengurangi stres. 

Kemudian, yang tidak kalah penting dari bagian peningkatan kesehatan pengidap lupus adalah menggali banyak informasi mengenai penyakit lupus, dan pengaruhnya terhadap kesehatan secara utuh. 

Ketika kamu sudah mengetahui informasi tersebut tidak ada salahnya kamu membagi informasi mengenai penyakit lupus ini ke anggota keluarga, sehingga mereka bisa memberikan dukungan yang berarti mengenai pengelolaan penyakit.

Tadi sudah disinggung bagaimana mempraktikkan kebiasaan dan gaya hidup sehat dapat sangat berpengaruh terhadap kestabilan mood dan fisik yang sehat.  Olahragalah secara teratur, makan-makanan yang sehat dan seimbang hindari minuman beralkohol, terutama jika mood sedang jelek-jeleknya. Alkohol adalah depresan alami yang secara nyata dapat meningkatkan keparahan depresi dan gejala-gejala lain yang mengiringinya.

Referensi:

Everyday Health. Diakses pada 2019. Lupus, Emotional Stress, and Depression.
WebMD. Diakses pada 2019. Lupus and Mental Health Concerns.