Benarkah Radang Tulang Belakang Jadi Efek Samping AstraZeneca? Ini Faktanya
“Radang tulang belakang atau myelitis transvera disebutkan menjadi efek samping dari vaksin COVID-19 AstraZeneca. Ketahui terlebih dulu faktanya berikut ini agar tak ragu melakukan vaksin tersebut."

Halodoc, Jakarta – Sebuah panel keamanan dari regulator obat di Eropa, European Medicine Agency (EMA), baru-baru ini menambahkan daftar efek samping dari vaksin COVID-19 AstraZeneca. Efek samping yang ditambahkan, yaitu radang tulang belakang langka, atau yang disebut myelitis transvera. Meskipun begitu, manfaat dan risiko vaksin AstraZeneca tetap tidak berubah.
Myelitis transversa adalah peradangan pada satu atau kedua sisi sumsum tulang belakang. Kondisi ini dapat menyebabkan kelemahan pada lengan atau kaki, gejala sensori, atau masalah dengan fungsi kandung kemih atau usus. Setelah meninjau data, EMA menyimpulkan ada kemungkinan hubungan sebab akibat antara vaksin AstraZeneca dan myelitis transversa.
Baca juga: Kriteria Pemberian Vaksin Booster COVID-19 untuk Umum
Hubungan Vaksin AstraZeneca dengan Myelitis Transvera
Perlu diketahui, AstraZeneca merupakan vaksin vektor virus. Artinya, ia menggunakan adenovirus yang tidak bereplikasi. Astrazeneca juga tidak mengandung materi genetik untuk replikasi dan infeksi virus. Menurut EMA, frekuensi myelitis transvera yang diinduksi vaksin belum diketahui saat ini. Namun, apa sebenarnya efek samping myelitis transvera ini?
Myelitis transvera adalah gangguan inflamasi langka di mana sumsum tulang belakang meradang. Kondisi tersebut menyebabkan:
- Disfungsi sensorik, motorik, dan otonom.
- Kelemahan anggota badan.
- Nyeri.
- Kesemutan.
- Mati rasa.
- Gangguan usus dan kandung kemih.
- Disfungsi seksual.
Gejala myelitis transvera juga bervariasi, tergantung pada area sumsum tulang belakang yang terkena. Hanya saja daerah toraks yang paling sering terdampak. Myelitis transvera dapat terjadi dengan kondisi autoimun neurologis, seperti:
- Multiple sclerosis.
- Neuromyelitis optica.
- Myelitis flaccid akut.
- Ensefalomielitis diseminata akut.
Gejala dapat bersifat sementara dan berlangsung hanya 3 hingga 6 bulan, atau bisa juga melumpuhkan tubuh secara permanen.
Mengenai hal ini, EMA tidak memberikan informasi tentang berapa banyak kasus myelitis transvera pasca vaksinasi AstraZeneca yang dilaporkan. Namun, EMA merekomendasikan agar AstraZeneca menambahkan efek samping ini di dalam informasi produknya.
Baca juga: Catat, Ini Panduan untuk Mendapatkan Vaksin Booster
Tetap Baik untuk Cegah Varian Omicron
Vaksin AstraZeneca secara signifikan dapat meningkatkan tingkat antibodi terhadap varian omicron sebagai vaksin booster. Sebuah studi menganalisis sampel darah yang diambil dari individu yang terinfeksi COVID-19 dan sudah divaksinasi dosis 2 dan booster dosis ketiga, juga mereka yang sebelumnya terinfeksi varian COVID-19 lainnya.
Dari studi tersebut, ditemukan hasil bahwa booster AstraZeneca memberikan perlindungan terhadap varian omicron. Respon sel-T memberikan perlindungan yang tahan lama bagi mereka yang terinfeksi parah dan menjalani rawat inap.
Vaksin booster AstraZeneca atau dosis ketiga yang diberikan setidaknya enam bulan setelah dosis kedua, dapat meningkatkan antibodi sebanyak enam kali lipat. Selain itu vaksin booster ini juga mempertahankan respons sel-T.
Menurut studi yang yang dipublikasikan The Lancet dengan judul “Reactogenicity and immunogenicity after a late second dose or a third dose of ChAdOx1 nCoV-19 in the UK: a substudy of two randomised controlled trials (COV001 and COV002)”, vaksin booster Astrazeneca juga dapat menghasilkan aktivitas penetralan yang lebih tinggi terhadap varian Alpha, Beta, dan Delta, dibandingkan dengan vaksinasi dua dosis sebelumnya.
Pada masa uji coba booster AstraZeneca menunjukkan respons imun yang lebih tinggi, dibandingkan dengan kontrol terhadap varian Delta ataupun strain asli. Setelah 28 hari mendapatkan vaksin booster, penerima yang awalnya divaksinasi dengan AstraZeneca akan mengalami peningkatan antibodi protein anti-Spike sekitar 1,8-32,3 kali lebih tinggi.
Sementara itu mengenai efek sampingnya, umumnya penerima akan mengalami nyeri di tempat suntikan, nyeri otot, dan kelelahan. Efek samping ini sering dilaporkan oleh penerima vaksin pada usia antara 30 – 69 tahun.
Baca juga: 10 Vaksin Corona yang Digunakan di Indonesia
Sistem kerja vaksin booster akan membuat sel-B sebagai pembuat antibodi berkembang biak, pada akhirnya juga meningkatkan kadar antibodi terhadap patogen. Seiring berjalan waktu, jumlah antibodi akan menurun, tapi sel-B dengan memori yang tertinggal dan lebih besar dari sebelumnya memiliki respon lebih cepat dan lebih kuat.
Vaksin booster juga mengalami proses yang disebut maturasi afinitas. Proses ini terjadi dimana sel-B yang terlibat melakukan perjalanan ke kelenjar getah bening. Disitulah sel-B bermutasi, membuat antibodi yang dihasilkan mengikat patogen yang lebih maksimal. Dengan begitu potensi dan kemampuannya dalam melawan virus akan meningkat.
Nah, itulah yang perlu diketahui mengenai efek samping dan efektivitas vaksin AstraZeneca. Kalau kamu mau melakukan pemeriksaan tes COVID-19 atau informasi mengenai vaksin booster, tanyakan saja langsung ke Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga ya!
Referensi:


