• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Temperamen Sensitif Berisiko Alami Gangguan Panik?

Benarkah Temperamen Sensitif Berisiko Alami Gangguan Panik?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Gangguan panik adalah episode ketakutan yang intens yang tiba-tiba memicu reaksi fisik yang parah. Hal ini umum terjadi ketika tidak ada bahaya atau penyebab yang jelas. Gangguan panik bisa membuat pengidapnya khawatir. Saat kondisi ini terjadi, kamu dapat mengira kehilangan kendali, mengalami serangan jantung, atau sekarat.

Banyak orang yang mengalami satu atau dua kali serangan panik dalam hidup mereka. Jika kamu mengalami serangan panik berulang yang tidak terduga dan menghabiskan waktu lama dalam ketakutan terus-menerus, maka bisa jadi kamu mengalami gangguan panik. Lantas, benarkah temperamen sensitif juga berisiko mengalaminya?

Baca juga: Sering Mudah Panik? Bisa Jadi Serangan Panik

Adakah Hubungan Temperamen Sensitif dan Gangguan Panik?

Temperamen adalah ciri-ciri kepribadian yang menentukan seseorang bereaksi terhadap hal yang terjadi di sekitarnya. Temperamen sudah bisa dilihat sejak masih anak-anak. Sebab, sebagian besar temperamen merupakan sifat bawaan sejak lahir. Namun, beberapa faktor masih bisa berpengaruh, seperti keluarga, budaya, atau pengalaman individu.

Salah satu temperamen yang bisa dimiliki seseorang yaitu sensitif. Dilansir dari laman Michigan State University, temperamen sensitif terjadi ketika seseorang bereaksi lebih kuat terhadap suara, cahaya, sentuhan, bau, dan rasa. Hal-hal sederhana seperti cahaya yang terang atau suara yang keras bahkan bisa mengganggu mereka.

Lantas, apakah benar temperamen sensitif berisiko alami gangguan panik? Sebenarnya, perlu penelitian lebih mendalam terkait hal ini. Faktanya, menurut studi dari jurnal Psychopathology pada tahun 2012 lalu, jenis temperamen bahkan sensitivitas yang tinggi tidak terkait langsung dengan risiko alami gangguan panik. Namun, studi ini masih mengambil sampel yang kecil sehingga perlu dilakukan lebih studi lanjutan. 

Hal yang bisa dipahami, temperamen sensitif bukan berarti akan mengalami gangguan panik. Ada banyak faktor risiko lainnya yang memungkinkan seseorang alami gangguan panik. 

Faktor Risiko Seseorang Alami Gangguan Panik

Meskipun gangguan panik tidak mengancam jiwa, namun bisa menakutkan dan sangat memengaruhi kualitas hidup yang mengalaminya. Melalui pengobatan yang tepat, gangguan ini dapat diatasi. 

Penyebab gangguan panik belum dapat diketahui. Namun, informasi tentang gangguan ini menunjukkan, beberapa orang tertentu lebih mungkin mengembangkan penyakit ini. Secara khusus, wanita dua kali lebih mungkin mengalaminya dibanding pria. 

Faktor-faktor yang meningkatkan risiko gangguan panik, yaitu:

  • Riwayat keluarga yang mengalami gangguan panik.
  • Seseorang yang memiliki fobia. 
  • Tingkat stres yang tinggi, seperti ditinggal oleh orang yang dicintai atau mengalami penyakit serius.
  • Alami peristiwa traumatis, seperti pelecehan seksual atau kecelakan serius.
  • Perubahan besar dalam hidup, seperti perceraian atau penambahan bayi.
  • Merokok atau mendapat asupan kafein berlebihan.

Jika kamu mengalami gangguan panik secara intens, sebaiknya segera periksakan diri ke rumah sakit pilihan untuk mendapatkan saran perawatan yang tepat. Kini, kamu bisa membuat janji terlebih dulu melalui aplikasi Halodoc, sehingga tidak perlu mengantre sesampainya di rumah sakit.  

Baca juga: Perlu Tahu, Ini Bedanya Serangan Panik dan Serangan Kecemasan

Mencegah Gangguan Panik

Gangguan panik mungkin tidak dapat dicegah. Namun, kamu bisa mengurangi gejala dengan menghindari alkohol dan stimulan seperti kafein serta obat-obatan terlarang. Hal ini juga membantu untuk mengetahui apakah kamu mengalami gejala gangguan cemas. Jika kamu terganggu oleh sesuatu alami, maka diskusikan segera pada profesional. 

Meskipun tidak ada cara pasti untuk mencegah gangguan panik, namun upaya berikut bisa dilakukan:

  • Jalani rencana pengobatan untuk gangguan panik sesegera mungkin untuk membantu mencegahnya bertambah parah atau menjadi lebih sering.
  • Tetap berpegang pada rencana perawatan untuk mencegah gejala kambuh.
  • Lakukan aktivitas fisik secara teratur yang mungkin berperan dalam melindungi kamu dari kecemasan. 

Baca juga: Gangguan Kecemasan dan Serangan Panik, Sama atau Beda? 

Gangguan panik sering kali menjadi kondisi kronis (jangka panjang) yang sulit diobati. Beberapa orang dengan kelainan ini tidak merespon pengobatan dengan baik. Namun, kebanyakan orang dengan gangguan panik tetap mampu memiliki kualitas hidup yang baik. Jadi, jangan khawatir dan lakukan usaha terbaik agar gejalanya tidak sering kambuh.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. Panic Disorder
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Panic attacks and panic disorder
Very Well Mind. Diakses pada 2020. Panic Disorder Risk Factors
Michigan State University. Diakses pada 2020. The Nine Traits of Temperament: Sensitivity
Psychopathology. Diakses pada 2020. Temperament, Character, and Anxiety Sensitivity in Panic Disorder