• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Berapa Kali Vaksin Polio Sebaiknya Diberikan pada Anak?

Berapa Kali Vaksin Polio Sebaiknya Diberikan pada Anak?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Polio menjadi salah satu penyakit akibat infeksi virus yang berbahaya dan hingga kini belum ditemukan obatnya. Artinya, vaksin menjadi satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit ini terjadi pada anak, terlebih bayi dengan imunitas yang terbilang masih rendah. Bahkan, pemerintah menjadikan vaksin polio sebagai salah satu jenis imunisasi dasar yang wajib diberikan.

Sayangnya, masih banyak orangtua yang belum memahami pentingnya melakukan vaksin untuk mencegah munculnya penyakit menular yang berbahaya. Pun, tidak sedikit pula orangtua yang masih belum melakukan vaksin karena alasan tidak tahu kapan waktu pemberiannya. Padahal, informasi ini bisa didapatkan dengan mudah melalui tenaga kesehatan. 

Vaksin Polio, Berapa Kali Seharusnya Diberikan?

Tidak hanya pada bayi, balita dan dewasa pun harus mendapatkan vaksin polio, sehingga tubuh sepenuhnya terlindungi dari penyakit yang sangat membahayakan nyawa ini. Lalu, berapa kali sebaiknya vaksin ini diberikan pada bayi, balita, dan dewasa?

Baca juga: Sudah Vaksin, Dipastikan Aman dari Polio?

Di Indonesia, pemerintah mewajibkan anak telah mendapatkan setidaknya enam kali vaksin polio sebelum masuk ke sekolah dasar (SD). Jadwalnya adalah sebagai berikut: 

  • Usia 0 bulan atau sesaat setelah bayi dilahirkan;
  • Usia 2 bulan, pentavalen dengan DTP-HepB dan HiB;
  • Usia 3 bulan, pentavalen dengan DTP-HepB, dan HiB pengulangan kedua;
  • Usia 4 bulan, pentavalen dengan DTP-HepB, dan HiB pengulangan ketiga.

Pada bayi yang baru lahir, vaksin polio yang diberikan berupa polio tetes atau OPV, kemudian untuk vaksin polio selanjutnya, bisa diberikan secara suntik atau IPV maupun oral atau OPV. Namun, perlu diperhatikan bahwa setiap anak wajib mendapatkan satu jenis vaksin polio IPV. Dosis penguat atau booster untuk vaksin polio diberikan ketika anak berusia 18 bulan dan berikutnya ketika anak berusia 5 tahun. 

Baca juga: Waktu Terbaik untuk Berikan Imunisasi BCG

Sementara itu, vaksin polio untuk orang dewasa sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, karena telah dilakukannya vaksin ketika usia anak-anak. Akan tetapi, ada beberapa kondisi yang mengharuskan orang dewasa mendapatkan vaksin polio ulangan, yaitu: 

  • Hendak melakukan perjalanan ke negara yang masih terjangkit virus polio;
  • Memiliki pekerjaan yang berkaitan dengan spesimen yang bisa saja mengandung virus polio;
  • Memiliki pekerjaan sebagai tenaga medis yang melakukan kontak langsung dengan pengidap polio.

Setidaknya, orang dewasa yang termasuk ke dalam tiga golongan tadi harus mendapatkan tiga dosis vaksin polio. Dosis pertama bisa dilakukan setiap saat, dilanjutkan dengan dosis kedua yang dilakukan setidaknya 1–2 bulan setelah dosis pertama, dan dosis ketiga yang dilakukan setidaknya 6–12 setelah dosis kedua. 

Adakah Efek Sampingnya?

Sebagian besar vaksin memiliki efek samping, termasuk vaksin polio. Meski begitu, efek samping yang terjadi bisa dibilang sangat ringan. Vaksin polio IPV bisa menyebabkan kemerahan pada area bekas suntikan, juga demam ringan. Sementara itu, pada kondisi yang jarang terjadi, vaksin OPV bisa berujung pada diare ringan, tetapi tidak disertai demam. 

Baca juga: Ini Pentingnya Vaksin Polio untuk Anak

Jadi, jangan sampai telat memberikan vaksin polio pada anak, ya. Jika ada informasi lain yang ingin diketahui, ibu bisa menanyakan pada dokter spesialis anak. Pakai saja aplikasi Halodoc, jadi bisa tanya dokter kapan dan di mana saja. Ibu juga bisa buat janji untuk vaksin anak di rumah sakit terdekat melalui aplikasi Halodoc, lho!



Referensi: 
CDC. Diakses pada 2020. Routine Polio Vaccination.
KidsHealth. Diakses pada 2020. Your Child’s Immunizations: Polio Vaccine.
CDC. Diakses pada 2020. Polio Vaccination.