• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Berapa Lama Angka Harapan Hidup Pengidap AIDS? Ini Faktanya
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Berapa Lama Angka Harapan Hidup Pengidap AIDS? Ini Faktanya

Berapa Lama Angka Harapan Hidup Pengidap AIDS? Ini Faktanya

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 02 Desember 2022

“AIDS adalah fase lanjutan dari HIV. Gejalanya dapat berupa mual dan muntah, keringat dingin, demam, batu kering dan luka sariawan pada mulut, anus atau area kelamin.”

Berapa Lama Angka Harapan Hidup Pengidap AIDS? Ini FaktanyaBerapa Lama Angka Harapan Hidup Pengidap AIDS? Ini Faktanya

Halodoc, Jakarta – AIDS adalah stadium akhir dari HIV. Prosesnya terjadi dalam kurun waktu 8 hingga 10 tahun. Di tahap ini, kemampuan tubuh guna melawan infeksi sudah hilang sepenuhnya. Dengan kata lain, harapan hidup pengidapnya sudah semakin pendek.

Pengidap AIDS dapat bertahan hidup menggunakan perawatan berupa obat-obatan. Kisaran waktunya bisa berbeda-beda. Umumnya hanya berkisar 3 tahun saja, karena tubuh sudah tidak mampu melindungi sel dan jaringan yang sehat.

AIDS menyebabkan sistem kekebalan tubuh rusak parah. Di fase ini, pengidap lebih rentan rentan mengembangkan penyakit yang biasanya tidak memengaruhi orang dengan sistem imun yang baik. Ini disebut dengan infeksi atau kanker oportunistik.

Adapun gejanya, meliputi:

  • Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 minggu.
  • Mual dan muntah-muntah.
  • Keringat dingin di malam hari.
  • Demam tinggi.
  • Batuk kering.
  • Gangguan kulit dan mulut seperti infeksi jamur.
  • Infeksi yang terjadi secara berulang.
  • Rentan terkena penyakit serius.
  • Merasa lelah berlebihan.
  • Penurunan berat badan secara signifikan.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di area leher, ketiak atau selangkangan.
  • Luka sariawan pada mulut, anus atau area kelamin.
  • Infeksi paru-paru atau pneumonia.
  • Kehilangan memori atau gangguan kognitif.
  • Mengalami gangguan pada sistem saraf.
  • Depresi, kebingungan dan perubahan kepribadian
  • Muncul bercak berwarna merah, ungu atau coklat di area mulut, hidung, atau kelopak mata.

Diagnosis Penyakit AIDS

Proses diagnosis dilakukan berdasarkan gejala yang dialami oleh pengidap diikuti dengan pemeriksaan penunjang. Tujuannya adalah mendeteksi adanya antibodi terhadap virus dan jumlah sel CD4.

Tes pertama adalah pemeriksaan enzyme immunoassay (EIA). Jika hasil pemeriksaannya positif, prosedur akan dilanjutkan dengan Western Blot guna memastikan kondisi. Ini adalah metode guna mendeteksi protein pada sampel jaringan.

Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang normal memiliki sel CD4 berkisar 500 hingga 1500. Sementara pada pengidap AIDS, mereka sudah mengalami penurunan jumlah, bahkan hilang sepenuhnya.

Adapun, pemeriksaan penunjang lain yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui infeksi oportunis yang menyerang pengidap. Beberapa jenisnya, yakni tuberkulosis (TBC), pneumonia atau kanker.

Pengobatan guna Mengatasi AIDS

Hingga kini belum ada perawatan yang mampu menyembuhkan AIDS. Sebab, mereka sudah kehilangan kekebalan tubuh sepenuhnya, sehingga tak ada lagi yang mampu mendukung keberhasilan pengobatan.

Pengobatan hanya bertujuan untuk memperpanjang harapan hidup para pengidap. Adapun beberapa jenis obat yang digunakan guna menekan penyebaran virus di dalam tubuh mereka, yakni:

  • Protease inhibitors.
  • Integrase inhibitors.
  • Nucleoside/nucleotide reverse transcriptase inhibitors (NRTIs).
  • Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTIs).
  • Chemokine co-receptor antagonists.
  • Entry inhibitors.

Obat-obatan tersebut biasanya dikombinasikan satu sama lain. Terkait dengan jenisnya, ini akan tergantung dari masing-masing pengidap dan seberapa parah gangguan yang mereka alami.

Proses pengobatannya juga harus dilakukan seumur hidup dan diminum secara teratur di jam yang sama setiap hari. Selain itu, pengidap juga wajib melakukan pemeriksaan rutin guna mengubah dosis obat jika diperlukan.

Sementara efek samping dari penggunaan obat-obatan di atas, yakni:

  • Mual.
  • Lemas.
  • Diare.
  • Sakit kepala.
  • Ruam kulit.

Guna mencegah paparan infeksi HIV yang dapat berujung pada AIDS, disarankan untuk menerapkan perilaku seks aman menggunakan kondom. Silakan buat janji medis jika menemukan gejala awal berupa sakit kepala, demam, nyeri sendi, lelah dan penurunan nafsu makan.

Langkah tepat perawatan dapat mencegah perburukan gejala HIV menjadi AIDS. cara ini juga dapat meningkatkan harapan hidup para pengidap. Jika membutuhkan informasi lain seputar kesehatan dan pola hidup sehat lainnya, silakan download Halodoc sekarang juga.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. HIV/AIDS.
National Health Service UK. Diakses pada 2022. HIV and AIDS.