• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Berbagai Pemeriksaan Sistem Reproduksi pada Pria

Berbagai Pemeriksaan Sistem Reproduksi pada Pria

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Berbagai Pemeriksaan Sistem Reproduksi pada Pria

“Seluruh sistem reproduksi pria bergantung pada hormon, yang merupakan bahan kimia dalam merangsang atau mengatur aktivitas sel atau organ. Sebagian besar pria memutuskan untuk melakukan pemeriksaan sistem reproduksi saat terjadinya masalah terkait kesuburan. Pemeriksaan fisik umum dan analisis sperma adalah pemeriksaan awal dari sistem reproduksi pria.”

Halodoc, Jakarta – Sistem reproduksi pria sebagian besar terletak di luar tubuh. Organ eksternal ini adalah penis, skrotum, dan testis. Organ dalam meliputi vas deferens, prostat, dan uretra. Sistem reproduksi pria bertanggung jawab untuk fungsi seksual dan buang air kecil. 

Seluruh sistem reproduksi pria bergantung pada hormon, yang merupakan bahan kimia dalam merangsang atau mengatur aktivitas sel atau organ. Hormon utama yang terlibat dalam fungsi sistem reproduksi pria adalah hormon perangsang folikel (FSH), hormon luteinizing (LH) dan testosteron. Apabila sistem reproduksi pria mengalami masalah pada fungsi, maka diperlukan pemeriksaan sesuai letak terjadinya masalah.

Baca juga: Libido Dapat Pengaruhi Kesehatan Reproduksi

Beberapa Pemeriksaan Sistem Reproduksi Pria

Sebagian besar pria memutuskan untuk melakukan pemeriksaan sistem reproduksi saat terjadinya masalah kesuburan. Tindakan pemeriksaan sistem reproduksi pria biasanya melibatkan:

  • Pemeriksaan fisik umum dan riwayat kesehatan. Hal ini termasuk memeriksa alat kelamin dan mengajukan pertanyaan tentang kondisi bawaan, masalah kesehatan kronis, penyakit, cedera, atau operasi yang mempengaruhi kesuburan. Dokter mungkin juga bertanya tentang kebiasaan seksual dan perkembangan seksual selama masa pubertas. 
  • Analisis sperma. Sampel air mani dapat diperoleh dengan beberapa cara berbeda. Seorang pria bisa memberikan sampel dengan cara masturbasi dan ejakulasi ke dalam wadah khusus di ruang praktek dokter. 

Sperma kemudian dikirim ke laboratorium untuk mengukur jumlah sperma yang ada dan mencari kelainan bentuk (morfologi) dan pergerakan (motilitas) sperma. Laboratorium juga akan memeriksa sperma apakah ada tanda-tanda masalah seperti infeksi. 

Baca juga: Puasa Bermanfaat pada Kesehatan Reproduksi Pria

Seringkali ditemukan jumlah sperma berfluktuasi secara signifikan dari satu spesimen ke spesimen berikutnya. Dalam kebanyakan kasus, beberapa tes analisis sperma dilakukan dalam periode waktu tertentu untuk memastikan hasil yang akurat. Jika analisis sperma normal, dokter kemungkinan merekomendasikan pengujian menyeluruh terhadap pasangan wanita sebelum melakukan tes infertilitas pada pria lagi. 

Selain pemeriksaan di atas, dokter mungkin merekomendasikan tes tambahan untuk mengidentifikasi penyebab masalah sistem reproduksi. Pemeriksaan ini yaitu:

  • USG skrotum. Tes ini menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menghasilkan gambar di dalam tubuh. Ultrasonografi skrotum membantu dokter melihat apakah ada varikokel atau masalah lain pada testis dan struktur pendukung.
  • USG transrektal. Pemeriksaan ini menggunakan tongkat kecil yang dilumasi kemudian dimasukkan ke dalam rektum. Tindakan ini memungkinkan dokter untuk memeriksa prostat dan mencari penyumbatan tabung yang membawa sperma. 
  • Tes hormon. Hormon yang diproduksi oleh kelenjar pituitari, hipotalamus, dan testis berperan penting dalam perkembangan seksual dan produksi sperma. Kelainan pada sistem hormonal atau organ lain juga bisa menyebabkan infertilitas. Tes darah mengukur tingkat testosteron dan hormon lainnya. 
  • Urinalisis pasca ejakulasi. Sperma dalam urin bisa menunjukkan apakah sperma berjalan mundur ke kandung kemih bukannya keluar penis selama kamu ejakulasi (ejakulasi retrograde). 

Baca juga: Pria dan Wanita, Ini Tips Jaga Kebersihan Alat Kelamin

  • Tes genetik. Ketika konsentrasi sperma sangat rendah, mungkin ada masalah  genetik. Tes darah dapat mengungkapkan apakah ada perubahan kecil pada kromosom Y, sebagai tanda kelainan genetik. Tes genetik mungkin juga diperlukan untuk mendiagnosis berbagai sindrom bawaan. 
  • Biopsi testis. Pemeriksaan ini memerlukan pengambilan sampel dari testis dengan jarum. Jika hasil biopsi testis menunjukkan bahwa produksi sperma normal, masalah yang terjadi kemungkinan disebabkan oleh penyumbatan atau masalah lain dengan transportasi sperma. 
  • Tes fungsi sperma khusus. Sejumlah tes bisa digunakan untuk memeriksa seberapa baik sperma bertahan setelah ejakulasi, seberapa baik sperma bisa menembus sel telur, dan adakah masalah menempel pada sel telur. Pemeriksaan ini tidak sering digunakan dan biasanya tidak secara signifikan mengubah rekomendasi untuk pengobatan. 

Itulah yang perlu diketahui mengenai berbagai pemeriksaan sistem reproduksi pria. Jika kamu memiliki masalah pada sistem reproduksi dan berminat untuk menjalankan pemeriksaan, segera buat jadwal kunjungan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang!

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Male infertility

WebMD. Diakses pada 2021. Fertility Tests for Men

Cleveland Clinic. Diakses pada 2021. Male Reproductive System