• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Bolehkah Jadikan Telur Asin sebagai MPASI?

Bolehkah Jadikan Telur Asin sebagai MPASI?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – MPASI alias makanan pendamping ASI diberikan setelah bayi berusia 6 bulan. Tujuannya untuk membantu memenuhi asupan nutrisi bayi yang tidak bisa lagi didapat hanya dari ASI. Selain harus sesuai usia bayi, jenis makanan dan menu MPASI yang diberikan pun harus tepat. Lantas, bolehkah memberi telur asin sebagai MPASI? 

Telur asin sering dijadikan teman makan nasi atau dikonsumsi begitu saja. Makanan ini terbuat dari telur bebek yang sengaja diasinkan di dalam air garam. Karena itu, jenis makanan ini sebaiknya tidak buru-buru diberikan pada bayi, apalagi sebagai menu pertama MPASI. Nyatanya, bayi yang masih berusia 6 bulan tidak disarankan untuk banyak mengonsumsi makanan yang mengandung garam. 

Baca juga: Ingin Beri MPASI Ikuti Dulu Tips Ini

Makanan yang Harus Dihindari Untuk MPASI                              Memilih menu MPASI untuk bayi adalah hal yang susah-susah gampang dilakukan. Pada masa-masa awal, ibu mungkin harus menyiapkan makanan khusus sebelum akhirnya bayi boleh mengonsumsi makanan yang sama dengan anggota keluarga lain. Ada beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari, termasuk makanan yang banyak mengandung garam seperti telur asin. 

Sebelumnya perlu diketahui, telur asin merupakan telur bebek yang dibuat dengan cara sengaja diasinkan dalam air garam. Karena itu, jenis makanan ini dipastikan memiliki kandungan natrium yang sangat tinggi. Akan lebih bijaksana jika ibu tidak membiarkan bayi mengonsumsi makanan yang terlalu asin dan mengandung banyak garam. 

Baca juga: Ketahui Jenis MPASI yang Paling Cocok untuk Si Kecil

Pada dasarnya, bayi berusia 6 bulan hanya membutuhkan asupan makanan yang “normal” sebagai MPASI. Menambahkan garam hanya diperbolehkan jika dirasa perlu, itu pun hanya dalam takaran yang sedikit. Asupan natrium, bahkan mungkin sudah didapatkan bayi dari ASI atau susu formula yang dikonsumsi. Maka dari itu, makanan yang dikonsumsi sebaiknya tidak lagi ditambahkan garam. 

Membiarkan Si Kecil mengonsumsi telur asin atau makanan lain yang banyak mengandung garam bisa berbahaya bagi kesehatan tubuhnya. Hal ini bisa melukai organ ginjal bayi yang belum matang dan belum bisa berfungsi sempurna. Ginjal bayi mungkin tidak bisa memproses makanan yang terlalu asin, sehingga hal itu nantinya akan berpengaruh pada kondisi kesehatan tubuh. 

Selain itu, menambahkan terlalu banyak garam dalam menu MPASI juga dikhawatirkan bisa mengganggu kondisi kesehatan tubuh anak dalam jangka panjang, bahkan hingga ia dewasa kelak. Terlalu dini mengenalkan rasa asin pada anak bisa membuatnya menjadi terbiasa dan sangat menyukai rasa tersebut. 

Hal itu kemudian bisa membuat anak memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan terlalu asin dan sama sekali tidak baik. Terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung garam bisa meningkatkan risiko penyakit hipertensi alias tekanan darah tinggi, serta gangguan kesehatan lainnya. 

Daripada memaksakan Si Kecil mengonsumsi telur asin, dengan alasan mengenalkan rasa, ibu bisa mencoba jenis makanan lain. Nyatanya, ada banyak jenis makanan yang bisa membantu meningkatkan selera makanan anak, tetapi tetap sehat. Selain makanan asin, sebaiknya hindari juga terlalu banyak menambah gula atau makanan manis dalam menu MPASI Si Kecil. 

Baca juga: Kapan Bayi Boleh Diberi Makanan Asin dan Manis?

Kalau ragu dan masih butuh saran dalam menyusun menu MPASI pertama anak, coba bicara dengan dokter di aplikasi Halodoc saja. Ibu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips menyiapkan makanan bayi dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Parent. Diakses pada 2020. When is it safe to introduce salt to baby's diet?
Baby Centre. Diakses pada 2020. The five worst foods for babies.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Infant and toddler health.