• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cedera Otak Traumatis Bisa Sebabkan Kelumpuhan

Cedera Otak Traumatis Bisa Sebabkan Kelumpuhan

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta - Cedera bisa menyerang bagian tubuh mana saja, mulai dari otot, sendi, hingga otak, organ tubuh yang menjadi penentu semua kendali. Cedera otak bisa berpengaruh pada perubahan sikap, emosi, dan fisik seseorang. Kondisi ini dapat mengakibatkan perubahan pada aktivitas saraf otak aktivitas pada metabolisme, hingga fungsional dari sel saraf otak. 

Dilansir dari Mayo Clinic, cedera otak bisa menimbulkan gejala yang langsung terjadi atau membutuhkan waktu beberapa hari setelah cedera terjadi. Gejalanya berupa keluarnya cairan pada hidung atau telinga, berubahnya penglihatan, sulit bernapas, mengalami masalah pada keseimbangan tubuh, buruknya koordinasi, hingga sulit bernapas. 

Cedera Otak Traumatis dan Kelumpuhan

Sebenarnya, apa penyebab seseorang mengalami cedera otak traumatis? Penyebabnya bisa karena benturan atau hantaman keras pada kepala, termasuk jatuh, kecelakaan, mengalami kekerasan, benturan benda tumpul, cedera karena berkelahi atau berolahraga. Namun, tahukah kamu jika cedera otak traumatis bisa menyebabkan kelumpuhan?

Baca juga: 6 Olahraga yang Menyehatkan Otak

Kelumpuhan terjadi ketika kamu tidak mampu menggerakkan sebagian atau keseluruhan anggota tubuh. Penyebabnya bisa beragam, salah satunya adalah cedera otak traumatis. Mengapa demikian? 

Berdasarkan Cleveland Clinic, benturan keras yang terjadi pada kepala bisa mengakibatkan cedera atau terganggunya fungsi otak. Ini bisa memicu kelumpuhan pada bagian tubuh mana saja, bergantung pada bagian otak mana yang mengalami cedera. 

Sebenarnya, gerakan otot dikendalikan oleh sinyal pemicu yang disampaikan dari otak, ketika ada bagian dari sistem relay - seperti otak, sumsum tulang belakang, saraf, atau persimpangan antara saraf dan otot yang mengalami kerusakan, sinyal untuk bergerak tidak akan sampai pada otot dan memicu terjadinya kelumpuhan. 

Baca juga: Ketahui Perbedaan Trauma Kepala Berat dan Trauma Kepala Ringan

Seseorang dapat dilahirkan dengan kelumpuhan karena cacat lahir, seperti misalnya spina bifida. Saat terjadi, bagian otak dan sumsum tulang belakang atau selubung pelindungnya tidak berhasil membentuk jalan yang benar. Pada kebanyakan kasus, orang mengalami kelumpuhan sebagai akibat dari kecelakaan atau kondisi medis yang memengaruhi cara kerja otot dan saraf. 

Jadi, ketika mengalami trauma kepala, sebaiknya segera lakukan pengecekan di rumah sakit, sehingga dampak negatif bisa diminimalkan. Kamu tidak perlu lagi mengantre dan bisa segera mendapatkan penanganan dengan menggunakan aplikasi Halodoc untuk berobat ke rumah sakit terdekat dan membuat janji dengan dokter. 

Penanganan dan Pencegahan Cedera Otak Traumatis

Cedera otak yang bersifat ringan membutuhkan istirahat dan obat untuk meredakan sakit kepala, sementara kasus cedera otak yang sedang dan berat umumnya membutuhkan penanganan di rumah sakit, seperti dilansir dari laman Mayfield Brain & Spine. Jika muncul adanya perdarahan dan pembengkakan pada otak, operasi harus dilakukan sesegera mungkin. 

Baca juga: Naik Motor Enggak Pakai Helm Bisa Alami Trauma Kepala Ringan

Tidak semua kasus cedera otak traumatis mendapatkan penanganan yang sama. Penyebab dan tingkat keparahan jelas memainkan peran penting terhadap pengobatan yang dijalani. Jadi, dibutuhkan kesabaran dari pengidap maupun pihak keluarga, karena pemulihan dari kondisi ini bisa memakan waktu hingga beberapa minggu, bulan, bahkan tahun. 

Dampaknya sangat berbahaya, ya, untuk itu keselamatan menjadi satu hal penting agar terhindar dari cedera otak traumatis. Pastikan kamu mengenakan helm ketika berkendara dengan motor atau sabuk pengaman ketika mengendarai mobil. Hindari berkendara sambil memainkan ponsel karena akan membahayakan diri sendiri dan orang lain. Pastikan kamu mengenakan pelindung kepala ketika berolahraga untuk menghindari terjadinya cedera. 

Referensi: 
Mayfield Brain & Spine. Diakses pada 2020. Traumatic Brain Injury. 
Cleveland Clinic. Diakses pada 2020. Paralysis. 
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Traumatic Brain Injury.