• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cek Fakta: Benarkah Seks Oral Dapat Menularkan HIV?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cek Fakta: Benarkah Seks Oral Dapat Menularkan HIV?

Cek Fakta: Benarkah Seks Oral Dapat Menularkan HIV?

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 01 Desember 2022

“Penularan human immunodeficiency virus (HIV) umumnya disebabkan oleh hubungan seksual (penetrasi vagina atau anal) dengan berganti-ganti pasangan tanpa pengaman. Namun, benarkah seks oral juga dapat meningkatkan risiko penularan HIV?

Cek Fakta: Benarkah Seks Oral Dapat Menularkan HIV?Cek Fakta: Benarkah Seks Oral Dapat Menularkan HIV?

Halodoc, Jakarta – Tanggal 1 Desember setiap tahunnya diperingati sebagai Hari acquired immune deficiency syndrome (AIDS) Sedunia. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sekaligus kewaspadaan HIV/AIDS, karena masih menjadi momok menakutkan. 

Nah, perlu diingat HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh pengidapnya. Ketika pengidap HIV tidak segera mendapatkan perawatan tepat seperti obat antiretroviral, infeksi HIV bisa berkembang menjadi AIDS yang diketahui mengancam keselamatan jiwa. 

Selain menjadi momok menakutkan, hingga saat ini masih ada banyak salah kaprah terkait HIV. Khususnya terkait penularannya, yang dikatakan dapat menular melalui seks oral. Namun, benarkah demikian? 

Risikonya Jauh Lebih Rendah dari Seks 

Siapa pun yang aktif secara seksual dapat tertular HIV, tanpa mengenal orientasi seksual atau jenis kelamin. Nah, penularan HIV pada dasarnya dapat terjadi melalui beberapa cairan tubuh. Mulai dari darah, air mani, cairan vagina atau rektal, hingga ASI. Beberapa cairan tersebut dapat menjadi media penularan berdasarkan beberapa hal, seperti: 

  • Melalui hubungan seksual, baik secara vaginal atau anal, sebagai penyebab penularan paling umum. 
  • Berbagi jarum suntik untuk penggunaan narkoba dengan cara disuntik. 
  • Melalui penggunaan peralatan tato, seperti bor, dan jarum tato tanpa disterilkan secara bergantian. 
  • Selama kehamilan, persalinan, atau persalinan dari ibu hamil yang terinfeksi HIV ke bayinya. Selain itu, ASI juga dapat menjadi media penularan HIV selama ibu yang terinfeksi menyusui. 
  • Melalui “premastikasi”, atau mengunyah makanan bayi sebelum memberikannya kepada mereka. 
  • Melalui paparan darah, air mani, cairan vagina dan dubur, dan ASI dari seseorang yang hidup dengan HIV, seperti melalui jarum suntik. 

Lantas, bagaimana dengan seks oral? Sebenarnya hal ini masih menjadi perdebatan. Secara teori hal ini dapat terjadi, tetap kasusnya dianggap sangat jarang. Sebab, risiko penularan HIV melalui seks oral dapat terjadi hanya jika ada gusi berdarah atau luka terbuka di mulut orang tersebut. 

Selain itu, secara teoritis, penularan HIV dimungkinkan jika seorang pria positif HIV berejakulasi di mulut pasangannya selama seks oral. Namun, risikonya masih sangat rendah, dan jauh lebih rendah dibandingkan dengan seks anal atau vaginal. 

Mitos Penularan HIV Lainnya

Sampai saat ini, masih ada banyak salah kaprah terkait mitos penularan HIV, khususnya di Indonesia. Karena itu, penting untuk mengetahui beberapa contoh mitos tersebut, sekaligus penjelasannya. 

  • Kontak kulit dengan pengidap. Hal ini sama sekali tidak dapat menularkan HIV ke orang sehat. Maka dari itu, bersalaman, berpelukan, dan mencium pipi pengidap HIV, tidak akan menyebabkan transmisi atau penularan. 
  • Menular melalui penggunaan toilet. Faktanya, HIV menular lewat cairan tubuh. Untuk infeksi terjadi, virus tentunya harus masuk langsung ke aliran darah. Dengan demikian, penggunaan toilet bukanlah media penularan HIV.
  • Terjadi melalui gigitan nyamuk. Hal ini mustahil terjadi, karena HIV tidak dapat memproduksi dirinya sendiri di dalam tubuh serangga, sehingga akan mati. 

Itulah fakta mengenai penularan HIV melalui oral seks yang sampai saat ini masih kerap diperdebatkan. Penting untuk mengetahui media penularan HIV sebagai bentuk kesadaran. Sebab, sampai saat ini, stigma kepada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) masih tergambar dalam sikap sinis, perasaan akan ketakutan yang berlebihan, sehingga dijauhi karena takut tertular. 

Selain itu, pastikan juga untuk menjaga daya tahan tubuh dengan baik, melalui penerapan pola hidup sehat. Salah satunya adalah dengan memenuhi asupan nutrisi penting melalui konsumsi makanan sehat dan suplemen kesehatan.

Jika saat ini kamu membutuhkannya, kamu bisa cek kebutuhan vitamin dan suplemen melalui aplikasi Halodoc. Tentunya tanpa perlu keluar rumah atau mengantre lama di apotek. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga!

Referensi: 
Healthline. Diakses pada 2022. A Comprehensive Guide to HIV and AIDS. 
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. HIV/AIDS.
Detik Health. Diakses pada 2022. 4 Cara Penyebaran HIV-AIDS, Hati-hati yang Doyan Seks Oral!