• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cubital Tunnel Syndrome dengan Thoracic Outlet Syndrome, Ini Bedanya

Cubital Tunnel Syndrome dengan Thoracic Outlet Syndrome, Ini Bedanya

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Baik cubital tunnel syndrome atau thoracic outlet syndrome, nama keduanya mungkin masih asing di telinga. Namun, dua penyakit yang menyerang saraf ini perlu diwaspadai, karena gejalanya dapat menimbulkan ketidaknyamanan saat beraktivitas.  

Meski sama-sama menyerang saraf dan menimbulkan gejala yang mungkin agak mirip, cubital tunnel syndrome dan thoracis outlet syndrome adalah dua penyakit yang berbeda. Apa saja ya perbedaanya? Ketahui dalam pembahasan setelah ini, ya!

Baca juga: Komplikasi yang Diakibatkan Cubital Tunnel Syndrome

Perbedaan Cubital Tunnel Syndrome dan Thoracic Outlet Syndrome

Berikut beberapa hal yang jadi pembeda antara cubital tunnel syndrome dan thoracic outlet syndrome:

1. Saraf yang Diserang

Cubital tunnel syndrome terjadi pada saraf ulnaris, yang terletak sepanjang leher, siku, hingga jari tangan. Saraf ini memiliki fungsi untuk mengendalikan hampir semua otot-otot halus dan besar di tangan, dalam menciptakan gerakan. Ketika terserang cubital tunnel syndrome, saraf ulnaris akan meradang, iritasi, dan membengkak. Kondisi ini dapat memicu sensasi kebas dan kesemutan, terutama pada jari manis, kelingking, dan siku. 

Sementara itu, thoracic outlet syndrome adalah kondisi ketika saraf pada dada atau pembuluh darah di saraf lengan mengalami tekanan. Ketika terjadi tekanan, kumpulan saraf akan menyelip di antara tulang selangka dan tulang rusuk, sehingga menimbulkan berbagai gejala.

2. Gejala yang Dialami

Cubital tunnel syndrome umumnya menimbulkan gejala seperti:

  • Kesemutan dan kebas pada jari manis dan kelingking, terutama jika siku ditekuk.
  • Melemahnya otot-otot tangan, sehingga kekuatan genggaman pun menurun, disertai dengan kesulitan menggerakkan jari. 
  • Rasa nyeri yang berdenyut-denyut pada siku bagian dalam.
  • Ukuran otot tangan mengecil. Hal ini biasanya baru terjadi jika saraf ulnaris terjepit dalam waktu lama. Disebut juga dengan istilah muscle wasting.

Sementara itu, gejala thoracic outlet syndrome mungkin agak berbeda. Meski dapat memengaruhi saraf dan pembuluh darah, penyakit ini kebanyakan hanya menimbulkan gejala pada saraf. Gejala yang timbul dapat berupa sakit pada bahu, lengan, tangan, dan jari-jari. Terkadang juga bisa disertai kesemutan, kebas, dan melemahnya otot.

Baca juga: Cara Ampuh untuk Mencegah Cubital Tunnel Syndrome

Gejala tersebut dapat memburuk setiap menggerakkan lengan. Pengidapnya juga mungkin merasa cepat lelah pada bagian tangan. Namun pada beberapa kasus, pembuluh darah arteri dan vena juga bisa sedikit terpengaruh. Menimbulkan gejala kulit memucat, lengan terasa dingin, dan kebas.

Baik cubital tunnel syndrome ataupun thoracic outlet syndrome, jika kamu mengalami gejalanya, jangan dibiarkan hingga parah, ya. Segera download aplikasi Halodoc untuk berbicara pada dokter lewat chat, atau buat janji dengan dokter di rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.

3. Hal yang Menjadi Penyebab

Cubital tunnel syndrome terjadi akibat adanya tekanan berlebih pada bagian lengan yang terdapat saraf ulnaris. Tekanan tersebut dapat terjadi jika:

  • Menekuk siku dalam waktu lama.
  • Sering bertumpu pada siku di atas permukaan yang keras.
  • Pertumbuhan tulang di siku yang menekan saraf ulnaris.
  • Terjadi benturan pada saraf ulnaris, misalnya terjatuh.
  • Pembengkakan pada area siku.
  • Kondisi arthritis pada siku.
  • Patah tulang siku.

Sementara itu, thoracic outlet syndrome umumnya disebabkan oleh kelainan bawaan pada posisi tubuh, seperti pada tulang rusuk dan selangka. Penyakit ini juga dapat terjadi akibat cedera pada tulang belikat dan selangka, atau karena terlalu sering membawa beban berat.

Baca juga: Benarkah Lansia Berisiko Terkena Cubital Tunnel Syndrome?

Adapun berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko thoracic outlet syndrome adalah:

  • Melakukan gerakan berulang yang melibatkan lengan dalam jangka waktu lama.
  • Sering latihan angkat beban, terutama pada atlet.
  • Obesitas atau kelebihan berat badan.

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2020. Why Cubital Tunnel Syndrome id No Laughing Matter?
John Hopkin’s Medicine. Diakses pada 2020. Thoracic Outlet Syndrome.