Ad Placeholder Image

Daftar Kode ICD 10 Abscess Lengkap untuk Diagnosis

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   10 Juni 2026

Daftar Kode ICD 10 Abscess Lengkap Sesuai Lokasi Infeksi

Daftar Kode ICD 10 Abscess Lengkap untuk DiagnosisDaftar Kode ICD 10 Abscess Lengkap untuk Diagnosis

DAFTAR ISI


Apa Itu Abses dan Pentingnya ICD-10

Abses adalah suatu kondisi medis di mana terjadi penumpukan nanah di dalam jaringan tubuh. Nanah ini terbentuk sebagai hasil dari perlawanan sistem kekebalan tubuh, khususnya sel darah putih, terhadap infeksi bakteri. Ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui luka yang terbuka, kelenjar keringat, atau folikel rambut, sistem imun akan merespons dengan mengirimkan sel darah putih ke area tersebut. Sel-sel darah putih yang mati, bersama dengan jaringan yang rusak dan bakteri, akan menumpuk dan membentuk cairan kental yang kita kenal sebagai nanah. Kondisi ini bisa terjadi di hampir seluruh bagian tubuh, baik di permukaan kulit maupun di organ dalam.

Dalam dunia medis, pencatatan dan diagnosis abses menggunakan standar global yang disebut ICD-10 (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision). Sistem pengkodean ini dirancang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memastikan keseragaman dalam mencatat berbagai penyakit, gejala, temuan abnormal, keluhan, hingga penyebab eksternal dari suatu kondisi medis. Mengetahui kode ICD 10 abscess sangatlah penting bagi tenaga kesehatan, pihak rumah sakit, maupun pihak asuransi kesehatan.

Kode ICD-10 untuk abses tidak hanya satu, melainkan sangat beragam dan diklasifikasikan berdasarkan letak anatomi atau lokasi spesifik munculnya abses tersebut di dalam atau di luar tubuh. Penggunaan kode yang spesifik dan akurat sangat krusial karena setiap lokasi abses membawa risiko komplikasi dan rencana penanganan yang berbeda-beda. Jika kamu mengalami gejala abses yang semakin bengkak, merah, dan memicu demam tinggi, jangan tunda lagi. Kamu bisa segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis awal yang akurat.

Daftar Kode ICD-10 Abscess Berdasarkan Lokasi

Untuk mempermudah identifikasi medis, diagnosis, dan proses klaim asuransi kesehatan, berikut adalah rincian lengkap dari beberapa klasifikasi utama kode ICD 10 abscess yang paling umum ditemukan dalam praktik medis klinis:

1. ICD 10 Abses Kulit (Cutaneous Abscess, Furuncle, and Carbuncle – L02)
Abses kulit adalah jenis abses yang paling sering terjadi. Kondisi ini biasanya terlihat sebagai benjolan merah, bengkak, dan terasa sangat nyeri saat disentuh. Kode ICD-10 untuk abses kulit masuk dalam blok L02, yang kemudian dibagi lagi secara spesifik berdasarkan letak anatomisnya di permukaan tubuh:

  • L02.0: Abses kulit, furunkel, dan karbunkel di area wajah (face). Ini termasuk abses yang muncul di pipi, hidung, maupun dagu.
  • L02.1: Abses kulit di area leher (neck).
  • L02.2: Abses kulit di area batang tubuh (trunk), yang mencakup dada, perut, punggung, dan bahu.
  • L02.3: Abses kulit di area bokong (buttock).
  • L02.4: Abses kulit di area ekstremitas tubuh (limbs), yang mencakup lengan, siku, tangan, paha, lutut, tungkai, dan kaki.
  • L02.8: Abses kulit di lokasi tubuh lainnya yang tidak tertulis pada kategori di atas (other sites), seperti abses di area kepala selain wajah.
  • L02.9: Abses kulit yang lokasinya tidak dispesifikasikan (unspecified).

2. ICD 10 Abses Gigi dan Rongga Mulut
Abses pada area gigi dan gusi biasanya dipicu oleh infeksi bakteri akibat gigi berlubang yang tidak dirawat (karies profunda), trauma pada gigi, atau penyakit gusi periodontal. Rasa nyeri yang ditimbulkan biasanya sangat berdenyut dan bisa menjalar ke rahang, telinga, hingga leher.

  • K04.6: Abses periapikal (di ujung akar gigi) dengan sinus (saluran keluarnya nanah).
  • K04.7: Abses periapikal tanpa sinus.
  • K05.2: Periodontitis akut, yang sering disertai dengan pembentukan abses periodontal pada jaringan gusi penyangga gigi.

3. ICD 10 Abses Saluran Pencernaan dan Area Anorektal
Abses yang terbentuk di area saluran pencernaan bagian bawah sering kali berkaitan dengan infeksi pada kelenjar di area sekitar anus atau komplikasi dari penyakit radang usus (seperti penyakit Crohn). Kondisi ini sangat nyeri, terutama saat pasien sedang duduk atau buang air besar.

  • K61: Kode umum untuk abses di area anal dan rektal.
  • K61.0: Abses anal (anal abscess), yang letaknya dekat dengan lubang anus.
  • K61.1: Abses rektal (rectal abscess).
  • K61.3: Abses ischiorectal, yaitu kumpulan nanah di ruang antara tulang duduk (ischium) dan rektum.

4. ICD 10 Abses Saluran Pernapasan (Paru-Paru)
Abses paru adalah kondisi yang jauh lebih serius dan membutuhkan perawatan rumah sakit secara intensif. Kondisi ini terjadi ketika sebagian dari jaringan paru-paru mengalami kematian (nekrosis) akibat infeksi mikroba yang berat, sehingga membentuk rongga yang berisi nanah kotor.

  • J85: Kode utama untuk abses paru-paru dan mediastinum.
  • J85.1: Abses paru yang disertai dengan pneumonia (infeksi paru).
  • J85.2: Abses paru tanpa adanya komplikasi pneumonia.

5. ICD 10 Abses Otak dan Saraf Pusat
Abses intrakranial atau abses otak adalah kondisi gawat darurat medis yang dapat mengancam jiwa pasien. Ini terjadi ketika bakteri masuk ke otak melalui aliran darah, atau akibat perluasan infeksi dari telinga bagian dalam, sinus, maupun akibat cedera kepala yang terbuka.

  • G06: Abses intrakranial dan intraspinal (serta granuloma).
  • G06.0: Abses intrakranial (di dalam rongga tengkorak kepala/otak).
  • G06.1: Abses intraspinal (di dalam saluran sumsum tulang belakang).

Penyebab dan Gejala Abses

Sebagian besar abses, terutama yang masuk dalam kategori ICD-10 blok L02 (abses kulit), disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus. Saat ini, varian bakteri MRSA (Methicillin-resistant Staphylococcus aureus) yang kebal terhadap berbagai jenis antibiotik konvensional juga menjadi penyebab utama abses kulit yang lebih sulit diobati. Bakteri ini sebenarnya hidup secara normal di permukaan kulit manusia, namun bisa berubah menjadi patogen yang berbahaya ketika masuk ke dalam kulit melalui luka sayatan tipis, goresan, gigitan serangga, atau folikel rambut yang tersumbat.

Faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena abses meliputi kebersihan tubuh yang buruk, sistem kekebalan tubuh yang melemah (seperti pada penderita HIV/AIDS atau pasien yang sedang menjalani kemoterapi), sirkulasi darah yang buruk, serta penyakit penyerta seperti diabetes mellitus. Tingginya kadar gula darah pada pasien diabetes membuat tubuh mereka menjadi lingkungan yang sangat ideal bagi bakteri untuk berkembang biak dengan cepat.

Gejala utama abses kulit yang bisa diamati meliputi kemerahan yang meluas pada kulit (rubor), pembengkakan yang teraba keras sebelum akhirnya melunak (tumor), rasa hangat saat diraba pada area infeksi (calor), dan rasa nyeri yang berdenyut (dolor). Jika abses sudah matang, sering kali akan terlihat titik putih atau kuning di bagian tengahnya yang menandakan kumpulan nanah sudah berada tepat di bawah permukaan kulit bagian luar. Jika abses bertambah besar atau pecah ke dalam aliran darah, pasien dapat mengalami demam, menggigil, keringat dingin, dan pembengkakan kelenjar getah bening di area sekitarnya.

Rekomendasi Obat untuk Abses

Tindakan utama untuk mengatasi abses yang sudah besar adalah dengan insisi dan drainase oleh dokter untuk mengeluarkan nanah. Namun, sebagai bentuk pertolongan pertama, pencegahan perluasan infeksi, serta meredakan rasa sakit yang menyiksa, kamu dapat menggunakan beberapa produk kesehatan yang tersedia di apotek. Untuk membeli kebutuhan medis, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah dengan aman dan praktis.

1. Povidone Iodine 10% 15 ml

Povidone Iodine 10% adalah cairan antiseptik spektrum luas yang sangat efektif untuk membunuh bakteri penyebab infeksi pada kulit luar. Kandungan aktifnya bekerja lambat namun pasti dengan melepaskan zat iodin secara bertahap untuk menghancurkan dinding sel kuman penyebab abses. Manfaat utama produk ini adalah menjaga area sekitar abses atau luka tetap steril sehingga infeksi tidak menyebar ke jaringan kulit di sekitarnya. Dosis umum penggunaannya adalah dengan dioleskan perlahan secara merata pada area kulit yang terinfeksi menggunakan kassa steril atau cotton bud bersih sebanyak 2 hingga 3 kali sehari setelah mandi.

Obat ini termasuk golongan obat bebas terbatas. Perhatikan aturan pakai pada kemasan.

Harga: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Povidone Iodine 10% 15 ml di Toko Kesehatan Halodoc

2. Paracetamol 500 mg 10 Kaplet

Benjolan abses yang membengkak sering kali menimbulkan rasa nyeri berdenyut yang tak tertahankan hingga mengganggu aktivitas dan kualitas tidur. Paracetamol bekerja secara terpusat di sistem saraf pusat tubuh dengan menghambat produksi enzim prostaglandin, yaitu senyawa alami tubuh yang memicu sinyal rasa sakit dan peradangan. Manfaat utamanya adalah meredakan nyeri ringan hingga sedang dan menurunkan suhu tubuh jika abses mulai memicu reaksi demam sistemik ringan. Dosis umum untuk orang dewasa adalah 1 hingga 2 kaplet (500–1000 mg) setiap 4 hingga 6 jam sekali, dengan batas maksimal 8 kaplet dalam kurun waktu 24 jam.

Obat ini termasuk golongan obat bebas terbatas. Perhatikan aturan pakai pada kemasan.

Harga: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Paracetamol 500 mg 10 Kaplet di Toko Kesehatan Halodoc

Tips Mencegah Abses Kulit Berulang
  1. Jangan pernah memencet, menusuk, atau memecahkan benjolan abses sendiri secara paksa di rumah, karena dapat mendorong bakteri masuk lebih dalam ke peredaran darah.
  2. Gunakan sabun antibakteri saat mandi, khususnya pada area lipatan tubuh yang mudah berkeringat dan lembap.
  3. Selalu ganti pakaian dalam dan handuk setiap hari. Jangan berbagi barang kebersihan pribadi dengan orang lain.
  4. Bagi penderita diabetes, jaga agar kadar gula darah tetap stabil melalui diet yang tepat dan konsumsi obat secara rutin sesuai anjuran dokter.

3. Amoxicillin 500 mg 10 Tablet

Jika abses kulit berukuran besar, infeksi menyebar luas (selulitis), atau penderita memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, dokter sering kali meresepkan antibiotik oral. Amoxicillin adalah antibiotik golongan penisilin berspektrum luas yang bekerja secara aktif dengan menghentikan pembentukan dinding sel bakteri, sehingga bakteri mati dan tidak dapat membelah diri. Manfaat utamanya adalah membasmi infeksi bakteri dari dalam tubuh yang tidak bisa dijangkau oleh antiseptik topikal. Dosis umum untuk orang dewasa biasanya adalah 500 mg yang diminum 3 kali sehari setiap 8 jam. Sangat penting untuk menghabiskan seluruh antibiotik sesuai dosis yang diresepkan dokter meskipun benjolan abses sudah tampak kempes, guna mencegah terjadinya resistensi antibiotik.

Obat ini termasuk golongan obat keras. Penggunaan harus dengan resep dokter.

Harga: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Amoxicillin 500 mg 10 Tablet di Toko Kesehatan Halodoc

Perawatan Mandiri di Rumah

Sembari menggunakan pengobatan medis, kamu bisa mempercepat proses penyembuhan abses ringan dengan beberapa perawatan mandiri di rumah. Salah satu cara alami yang paling direkomendasikan secara medis adalah kompres hangat. Rendam kain kasa atau waslap yang bersih ke dalam air hangat, peras hingga agak lembap, lalu tempelkan tepat di atas benjolan abses selama 15 hingga 20 menit. Lakukan proses ini secara berulang sebanyak 3 hingga 4 kali sehari. Suhu hangat akan meningkatkan sirkulasi aliran darah ke area yang terinfeksi, yang berarti sel darah putih dan antibodi akan lebih cepat sampai ke lokasi infeksi untuk melawan bakteri. Selain itu, kompres hangat dapat melunakkan jaringan kulit dan membantu abses untuk “matang”, membuka, dan mengalirkan nanahnya keluar dengan sendirinya secara lebih alami tanpa harus dipencet paksa.

Studi Terkait

Penanganan abses, terutama yang disebabkan oleh infeksi kulit dan jaringan lunak, terus mengalami perkembangan. Menurut sebuah studi observasional berskala besar yang dipublikasikan pada jurnal Infectious Diseases and Clinical Microbiology tahun 2026, peneliti menemukan adanya peningkatan signifikan dalam kasus abses kulit yang diakibatkan oleh MRSA (Methicillin-resistant Staphylococcus aureus) di fasilitas layanan kesehatan komunitas. Studi terbaru dari tahun 2026 ini menekankan bahwa tindakan insisi dan drainase (I&D) yang memadai tetap menjadi gold standard (standar emas) untuk penanganan utama abses tanpa komplikasi. Pemberian terapi antibiotik ajuvan pasca-drainase hanya direkomendasikan pada kasus di mana abses berukuran lebih dari 5 sentimeter, adanya penyebaran selulitis di sekitar luka, atau pada pasien yang terdiagnosis mengalami gangguan imunosupresi, guna mencegah tingkat kekambuhan infeksi bakteri dalam 30 hari pasca perawatan.

Muncul Benjolan Bernanah dan Bingung Harus Apa? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan seperti benjolan bernanah yang nyeri, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika benjolan abses semakin membesar, memicu demam tinggi di atas 38 derajat Celcius, atau tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan dalam 2–3 hari meski sudah rutin dikompres air hangat, jangan tunda untuk segera konsultasi dengan Dokter Spesialis Bedah di Halodoc. Tindakan medis lanjutan seperti insisi dan drainase nanah yang aman mungkin segera diperlukan untuk mencegah infeksi menyebar dan masuk ke dalam sistem aliran darah tubuh.

Referensi

  • PubMed. Diakses pada 2026. Epidemiology and Management of Skin and Soft Tissue Abscesses: A 2026 Update.
  • Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Boils and Carbuncles: Symptoms and Causes.
  • World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. ICD-10 Version: 2019 / 2026 Implementation Guidelines.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Infeksi Jaringan Lunak dan Abses Kulit.

FAQ

1. Apa kode ICD-10 untuk diagnosis abses kulit di area punggung?
Kode ICD-10 untuk abses kulit di area batang tubuh, termasuk punggung, dada, dan perut, diklasifikasikan dengan kode spesifik L02.2. Kode ini membedakan letak anatomis dibandingkan dengan abses di anggota gerak maupun kepala.

2. Apakah abses bisa sembuh sendiri tanpa penanganan dokter?
Untuk abses kulit yang sangat kecil (kurang dari 1 sentimeter), terkadang bisa pecah dan mengering dengan sendirinya dibantu kompres hangat. Namun, untuk ukuran abses yang besar, keras, dan nyeri, memerlukan tindakan drainase sayatan dari dokter bedah untuk mengeluarkan nanah hingga bersih dari akarnya.

3. Kenapa abses gigi (K04.7) sangat berbahaya jika diabaikan?
Abses gigi yang tidak segera ditangani dapat menyebar luas ke tulang rahang di sekitarnya dan memicu komplikasi gawat darurat yang disebut Angina Ludwig (pembengkakan parah di leher dan bawah dagu). Kondisi ini bisa menyumbat saluran pernapasan dan mengancam nyawa.

4. Mengapa dokter melarang keras memencet benjolan abses dengan tangan?
Memencet abses dengan tangan kosong dapat memicu tekanan terbalik di dalam rongga kantung abses. Hal ini dapat mendorong kumpulan bakteri, sel mati, dan nanah masuk lebih dalam ke jaringan bawah kulit atau menyebar langsung ke peredaran sistemik darah (bakteremia).