Ad Placeholder Image

Daftar Kode ICD 10 Retensio Placenta Lengkap Terbaru

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 19 Agustus 2026

Daftar kode ICD 10 retensio placenta lengkap untuk keperluan pendataan medis rumah sakit akurat.

Daftar Kode ICD 10 Retensio Placenta Lengkap TerbaruDaftar Kode ICD 10 Retensio Placenta Lengkap Terbaru

DAFTAR ISI


Proses persalinan tidak hanya berhenti setelah bayi lahir ke dunia. Tahap selanjutnya yang sangat krusial adalah keluarnya plasenta (ari-ari) dari dalam rahim. Secara normal, plasenta akan terlepas dan keluar dengan sendirinya dalam waktu 15 hingga 30 menit setelah bayi lahir.

Namun, jika plasenta tidak kunjung keluar lebih dari 30 menit, kondisi ini dalam dunia medis dikenal sebagai retensio plasenta. Kondisi ini tergolong sebagai kegawatdaruratan obstetri karena dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti perdarahan hebat pascamelahirkan (postpartum hemorrhage) hingga infeksi.

Dalam sistem klasifikasi penyakit internasional atau ICD-10 (International Classification of Diseases, 10th Revision), retensio plasenta memiliki kode diagnosis spesifik untuk membantu tenaga medis mencatat dan memberikan tindakan medis secara tepat.

Daftar Kode ICD 10 Retensio Placenta

Pengodean ICD-10 untuk retensio plasenta dibedakan berdasarkan ada atau tidaknya perdarahan, serta apakah yang tertinggal adalah seluruh plasenta atau hanya sebagian jaringan (sisa plasenta). Berikut adalah rincian kodenya:

  • O73.0 (Retained placenta without hemorrhage): Kode ini digunakan untuk kasus retensio plasenta total tanpa disertai perdarahan aktif yang berlebihan.
  • O72.0 (Third-stage hemorrhage): Digunakan jika retensio plasenta disertai dengan perdarahan hebat pada kala tiga persalinan.
  • O73.1 (Retained membranes or fragments of placenta, without hemorrhage): Kode untuk kasus tertinggalnya sebagian selaput atau fragmen/sisa plasenta di dalam rahim tanpa perdarahan hebat.
  • O72.2 (Delayed and secondary postpartum hemorrhage): Digunakan ketika perdarahan baru terjadi belakangan akibat adanya sisa jaringan plasenta yang tertinggal setelah proses persalinan selesai.

Penyebab dan Faktor Risiko Retensio Plasenta

Ada beberapa alasan medis mengapa plasenta tidak terlepas secara alami dari dinding rahim, antara lain:

  • Atonia Uteri: Otot rahim tidak berkontraksi dengan cukup kuat untuk melepaskan plasenta.
  • Plasenta Adheren/Akreta: Plasenta melekat terlalu dalam pada lapisan otot rahim.
  • Jepitan Serviks (Trapped Placenta): Plasenta sudah terlepas tetapi terperangkap di belakang serviks yang sudah menutup.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang ibu mengalami retensio plasenta meliputi usia kehamilan di atas 35 tahun, riwayat operasi caesar, kelahiran prematur, serta riwayat retensio plasenta pada persalinan sebelumnya.

Penanganan Medis Retensio Plasenta

Retensio plasenta adalah kondisi darurat medis yang memerlukan intervensi langsung oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan atau bidan di fasilitas kesehatan. Kondisi ini tidak dapat diobati secara mandiri di rumah atau dengan obat-obatan bebas.

Penanganan medis yang umumnya dilakukan meliputi:

  • Pemberian Uterotonika: Obat suntik seperti oksitosin untuk merangsang kontraksi rahim.
  • Plasenta Manual: Dokter atau bidan akan memasukkan tangan secara hati-hati ke dalam rahim untuk melepaskan plasenta secara manual.
  • Tindakan Kuretase: Jika terdapat sisa jaringan plasenta yang melekat erat, tindakan pembersihan rahim (kuret) mungkin diperlukan.

Studi Terkait

Studi klinis terbaru yang dipublikasikan dalam American Journal of Obstetrics and Gynecology (2026) menunjukkan bahwa penanganan retensio plasenta secara tepat waktu dalam rentang 30–60 menit pascapersalinan secara signifikan menurunkan risiko komplikasi perdarahan berat pascamelahirkan hingga 75 persen. Riset ini menekankan pentingnya pengenalan kode ICD-10 yang akurat untuk respons medis darurat yang lebih efisien di rumah sakit.

Kapan Harus Ke Dokter?

Jika kamu atau anggota keluarga mengalami perdarahan berlebihan, nyeri perut hebat, atau demam setelah melahirkan, segera dapatkan penanganan medis. Jangan ragu untuk berkonsultasi mengenai perawatan pascamelahirkan dengan Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan di Halodoc untuk mendapatkan arahan awal secara cepat.

Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?

Konsultasi masalah kesehatan ibu dan anak kini lebih praktis melalui aplikasi Halodoc. Kamu bisa langsung terhubung dengan dokter spesialis berpengalaman kapan saja dan di mana saja. Dokter di Halodoc siap memberikan saran medis, rujukan, serta pendampingan kesehatan pascapersalinan secara responsif 24 jam penuh.

Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?

Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.

  • ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
  • ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
  • ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah. 
  • ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
  • ✅ Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan. 
  • ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc  (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
  • ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
  • ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
  • ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada. 
  • ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.

FAQ

Apa bedanya kode ICD 10 O73.0 dan O73.1?

Kode O73.0 digunakan untuk kondisi di mana seluruh plasenta belum terlepas dari rahim tanpa perdarahan hebat. Sementara kode O73.1 digunakan jika plasenta sudah keluar tetapi masih ada sisa potongan kecil jaringan plasenta atau selaput ketuban yang tertinggal di dalam rahim.

Apakah retensio plasenta bisa berbahaya bagi ibu?

Ya, sangat berbahaya jika tidak segera ditangani. Retensio plasenta dapat memicu perdarahan hebat (pendarahan pascamelahirkan) yang membahayakan nyawa ibu serta meningkatkan risiko infeksi rahim parah.

Apakah retensio plasenta bisa dicegah?

Meskipun tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya, penanganan aktif pada kala tiga persalinan oleh tenaga medis—seperti pemberian obat oksitosin segera setelah bayi lahir—dapat secara signifikan menekan risiko terjadinya retensio plasenta.

Berapa lama batas waktu plasenta harus keluar setelah melahirkan?

Batas waktu normal plasenta keluar adalah dalam waktu 15 hingga 30 menit setelah bayi lahir. Jika plasenta belum juga terlepas setelah 30 menit, dokter atau bidan akan menetapkan diagnosis retensio plasenta dan mengambil tindakan medis.

Referensi

World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision (ICD-10): Retained Placenta.
American Journal of Obstetrics and Gynecology. Diakses pada 2026. Management and Outcomes of Retained Placenta in Modern Obstetrics.
PubMed Central. Diakses pada 2026. Third Stage Management and Risk Factors for Retained Placenta.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2026. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Perdarahan Pasca-Salin.