• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Efek Stigma Terhadap Pengidap Gangguan Kesehatan Mental

Efek Stigma Terhadap Pengidap Gangguan Kesehatan Mental

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Efek Stigma Terhadap Pengidap Gangguan Kesehatan Mental

Halodoc, Jakarta - Sama halnya seperti penyakit fisik, gangguan kesehatan mental juga dapat menyebabkan kondisi serius jika tidak diwaspadai. Sayangnya, masih banyak stigma terhadap pengidap gangguan kesehatan mental di masyarakat. 

Misalnya, dianggap sebagai orang gila yang harus dijauhi, atau bahkan dikucilkan di masyarakat. Padahal, tingginya angka pengidap gangguan kesehatan mental di Indonesia ada kaitannya dengan tingginya kejadian bunuh diri. Berdasarkan data nasional, pada 2016 tercatat 1.800 kasus kematian akibat bunuh diri. 

Baca juga: Deteksi Lebih Dini Gangguan Mental Skizofrenia

Stigma Membuat Pengidap Gangguan Kesehatan Mental Sulit Sembuh

Stigma atau penilaian negatif terhadap pengidap gangguan kesehatan mental sebenarnya bukan hal yang baru. Bahkan, tak jarang stigma tersebut juga menyerang keluarga pengidap. Beberapa stigma terhadap pengidap gangguan kesehatan mental yang sering dijumpai dapat berupa:

  • Diskriminasi langsung yang terlihat frontal dan kasar. Misalnya, perlakuan kasar maupun kata-kata hinaan yang dilontarkan pada pengidap maupun keluarganya.
  • Diskriminasi halus, seperti pengucilan pengidap gangguan kesehatan mental secara diam-diam atau tidak sengaja. Misalnya, menghindari orang yang mengalami gangguan kesehatan mental karena dinilai berbahaya bagi keselamatan pribadi maupun keluarga.
  • Perasaan malu yang datang dari keluarga. 

Selain dari luar, stigma terhadap pengidap gangguan kesehatan mental juga bisa datang dari dalam pikirannya sendiri (stigma internal). Hal ini biasanya tumbuh akibat adanya stigma dari masyarakat, maupun ketakutan akan dijauhi orang-orang karena “berbeda”.

Baca juga: Lebaran dan Holiday Blues, Ini 4 Cara Menghadapinya

Baik stigma eksternal atau internal dapat menghambat proses pemulihan gangguan kesehatan mental, jika dibiarkan. Bahkan, tak jarang malah membuat kondisi semakin buruk. Stigma dapat membuat pengidap merasa malu, tidak dimengerti, dan akhirnya tidak mau mencari bantuan atau perawatan medis yang sesuai. 

Belum lagi risiko mengalami perundungan, serta kekerasan verbal dan fisik, juga berkurangnya peluang untuk mendapatkan pekerjaan dan pendidikan seperti orang pada umumnya. Sebab, stigma membuat pengidap gangguan kesehatan mental dianggap tidak mampu mencapai target atau bahkan melakukan tugas yang spesifik.

Bagaimana Cara Menghadapi Stigma Terhadap Gangguan Kesehatan Mental?

Kamu mungkin tidak bisa mengendalikan penilaian orang lain tentang diri kamu. Namun, kamu bisa mengubah pola pikir dan menghadapinya dengan lebih bijak. Termasuk ketika dihadapkan oleh stigma terhadap gangguan kesehatan mental, berikut ini beberapa tips yang bisa membantu:

  • Dapatkan pengobatan. Meski mungkin enggan mengakui bahwa kamu membutuhkan perawatan, jangan biarkan rasa takut dicap sebagai “orang gila” menghalangi kamu untuk mencari bantuan. Pengobatan dapat membantu mengidentifikasi apa yang salah dan mengurangi gejala yang mengganggu pekerjaan dan kehidupan pribadi.
  • Jangan mengisolasi diri sendiri. Jika kamu mengalami gangguan kesehatan mental, kamu mungkin enggan memberitahu siapa pun tentang penyakit itu. Padahal, keluarga, teman, pendeta atau anggota komunitas dapat menawarkan dukungan jika mereka tahu tentang penyakit mental kamu. Jadi, jangan mengisolasi diri dan minta dukungan orang terdekat yang kamu percayai.
  • Bergabunglah dengan kelompok pendukung. Carilah kelompok atau komunitas yang berisikan orang-orang yang mengalami kondisi serupa dengan kamu. Dengan begitu, kamu akan sadar bahwa kamu tidak sendirian.
  • Bicaralah melawan stigma. Pertimbangkan untuk mengungkapkan pendapat kamu di berbagai acara, dalam surat kepada editor atau di internet. Hal ini dapat membantu menanamkan keberanian pada orang lain yang menghadapi tantangan serupa dan mendidik masyarakat tentang penyakit mental.

Baca juga: Percaya Diri Berlebihan Ternyata Berbahaya, Ini Dampaknya

Penilaian orang lain hampir selalu berasal dari kurangnya pemahaman daripada informasi berdasarkan fakta. Belajar menerima kondisi dan mengenali apa yang perlu dilakukan untuk mengobatinya, mencari dukungan, dan membantu mendidik orang lain dapat membuat perbedaan besar.

Jadi, jika kamu merasa ada yang salah dengan diri kamu sendiri, jangan ragu untuk meminta bantuan ahlinya, seperti psikolog atau psikiater. Jika kamu butuh bantuan ahli, kamu juga bisa download aplikasi Halodoc untuk berbicara pada psikolog, kapan dan di mana saja. 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Mental health: Overcoming the stigma of mental illness.
Universitas Gadjah Mada. Diakses pada 2020. Menjawab Tantangan Kesehatan Mental di Era Milenial.
Universitas Airlangga. Diakses pada 2020. Stigma Internal pada Orang dengan Gangguan Jiwa.