• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Faktor Pemicu Biduran yang Harus Diketahui

Faktor Pemicu Biduran yang Harus Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta - Kamu pasti pernah mengalami bentol-bentol berwarna merah yang disertai dengan rasa gatal. Kondisi seperti ini memang tidak nyaman, apalagi jika munculnya secara tiba-tiba dan terjadi di banyak bagian tubuh. Dunia medis mengenalnya dengan istilah urtikaria atau di masyarakat dikenal dengan biduran.

Biduran dan urtikaria adalah dua hal yang sama. Bentol disertai rasa gatal ini bisa muncul dengan ukuran yang berbeda-beda. Umumnya, biduran bisa hilang dengan sendirinya atau diredakan dengan mengonsumsi obat-obatan tertentu. Pada beberapa kasus, biduran bisa saja tak kunjung hilang setelah beberapa minggu atau muncul berulang. Jika kondisi semacam ini terjadi, maka perawatan dari dokter harus dilakukan. 

Baca juga: Waspada, Ini Bahaya Alergi Terhadap Bulu Kucing

Ini Jenis Biduran

Biduran lebih sering terjadi pada anak-anak dan wanita yang berusia sekitar 30 hingga 60 tahun. Selain itu, mereka yang memiliki alergi juga berisiko tinggi untuk terkena biduran. Ada beberapa jenis biduran atau urtikaria berdasarkan tingkat keparahannya,yaitu:

  • Urtikaria Akut. Jenis biduran ini umumnya terjadi kurang dari enam minggu,

  • Urtikaria Kronis. Jenis biduran ini bisa berlangsung lebih dari enam minggu, atau bisa juga kambuhan selama beberapa bulan sampai tahunan. Jika kamu memiliki jenis urtikaria seperti ini, maka kamu harus mewaspadainya. Pasalnya, ini bisa saja merupakan gejala dari penyakit lain seperti penyakit tiroid atau lupus. Segera periksakan diri ke rumah sakit dengan buat janji sebelumnya dengan aplikasi Halodoc. Ingat, perawatan yang dilakukan sejak dini adalah langkah tepat untuk mencegah komplikasi yang tidak diinginkan.

  • Urtikaria Fisik. Kondisi ini disebabkan oleh stimulasi fisik secara langsung pada kulit, misalnya akibat suhu panas atau dingin, sinar matahari, tekanan, ataupun keringat.

  • Dermatographism. Jenis biduran ini terjadi setelah seseorang menggaruk kulit terlalu keras.

Baca juga: 4 Kebiasaan yang Ternyata Bisa Jadi Pemicu Biduran

Lantas, Apa Penyebab Biduran?

Sayangnya, hingga kini penyebab pasti dari biduran masih belum diketahui. Namun, beberapa hal di bawah ini dapat menjadi faktor pemicu terjadinya biduran, yaitu:

  • Paparan udara panas atau dingin,

  • Kontak langsung dengan alergen atau pemicu alergi, seperti serangga, serbuk sari, dan hewan peliharaan,

  • Efek samping konsumsi obat-obatan tertentu, seperti antibiotik dan obat antiinflamasi non steroid,

  • Infeksi kulit.

Sementara itu, penyebab munculnya bentol pada kulit saat biduran karena meningkatnya kadar histamin dan senyawa kimia lain di bawah kulit. Hal itu menyebabkan pembengkakan jaringan. Terkadang histamin juga bisa menyebabkan bocornya cairan plasma dari pembuluh darah, akibatnya penumpukan cairan atau angioedema bisa terjadi. Kelebihan cairan inilah yang kemudian menyebabkan kulit bengkak dan terasa gatal.

Pengobatan Biduran

Jika kamu mengalami biduran ringan, maka ia bisa hilang dengan sendirinya. Jika kamu alami biduran berulang, maka kamu perlu mengonsumsi obat-obatan untuk mengatasinya. Dokter bisa meresepkan beberapa jenis obat seperti antihistamin, kortikosteroid, agonis leukotrien, dan antibodi monoklonal contohnya omalizumab.

Biduran juga bisa dicegah dengan menghindari pemicunya. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui pemicu dari gatal-gatal yang dialami, misalnya suhu panas, stres, obat-obatan, atau makanan tertentu. Makanan dan obat-obatan penyebab biduran bisa dihindari jika pemicunya sudah dipastikan oleh dokter.

Baca juga: Biduran yang Tidak Ditangani Bisa Sebabkan Komplikasi

Jika kamu atau orang terdekatmu mengalami gejala-gejala yang dicurigai sebagai gejala biduran, kamu bisa tanyakan terlebih dahulu pada dokter lewat aplikasi Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter dan minta saran kesehatan kapan saja dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
NHS UK. Diakses pada 2020. Hives.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Chronic Hives.
Healthline. Diakses pada 2020. Hives.
Medscape. Diakses pada 2020. Urticaria (Hives).