• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Imunisasi Anak: Tujuan, Jenis, dan Prosedur
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Imunisasi Anak: Tujuan, Jenis, dan Prosedur

Imunisasi Anak: Tujuan, Jenis, dan Prosedur

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 04 Januari 2022
Imunisasi Anak: Tujuan, Jenis, dan ProsedurImunisasi Anak: Tujuan, Jenis, dan Prosedur

“Imunisasi adalah vaksin yang dilakukan untuk membangun sistem kekebalan anak. Biasanya, imunisasi diberikan dalam rentang usia tertentu sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak. Ketika terjadi infeksi di masa depan, daya tahan tubuh anak lebih bisa mengatasi kondisi penyakit tersebut.”

Bayi dilahirkan dengan perlindungan terhadap beberapa penyakit, karena ibu memberikan antibodi (protein yang dibuat oleh tubuh untuk melawan penyakit) kepada anak sebelum lahir. Bayi yang disusui juga mendapatkan lebih banyak antibodi dalam ASI. Namun, perlindungan ini sifatnya hanya sementara.

Imunisasi (vaksinasi) adalah cara untuk memberikan kekebalan ataupun perlindungan pada anak dari beberapa penyakit. Ada banyak jenis vaksinasi, terkadang menggunakan sejumlah kecil kuman yang mati atau dilemahkan yang menyebabkan penyakit. Jenis vaksin yang berbeda hanyalah bagian kecil dari kuman, seperti protein atau bagian dari materi genetiknya.

Kuman dapat berupa virus seperti virus campak atau bakteri seperti pneumokokus. Vaksin merangsang sistem kekebalan tubuh untuk bereaksi seolah-olah ada infeksi nyata. Kemudian ini jadi pengingat buat sistem kekebalan tubuh ketika “kuman sebenarnya” masuk ke dalam tubuh. 

Tujuan Imunisasi Anak

Beberapa penyakit menular dapat berbahaya dan bahkan menyebabkan kerusakan permanen pada kesehatan anak. Sistem kekebalan anak membutuhkan bantuan untuk melawan penyakit tersebut. Imunisasi memberikan perlindungan terhadap beberapa penyakit menular. Vaksin merangsang tubuh untuk memproduksi antibodi yang melawan infeksi. 

Imunisasi mempersiapkan tubuh untuk melawan infeksi serius yang mungkin terjadi di masa depan. Bayi yang masih kecil sangat rentan terhadap infeksi, sehingga perlu dilindungi sedini mungkin. Anak memerlukan beberapa vaksin yang berbeda untuk mendapatkan perlindungan sepenuhnya. Itulah sebabnya mengapa sangat penting untuk menyelesaikan program imunisasi masa kanak-kanak.

Imunisasi sangat membantu, pengadaan imunisasi telah membuat banyak penyakit menular pada anak yang serius pada masanya tidak ada lagi. Misalnya dahulu difteri, polio, campak, dan batuk rejan merupakan penyakit yang sangat berbahaya dan menyebabkan kematian tinggi pada anak.

Jenis Imunisasi Anak

Program imunisasi memberikan vaksin kepada bayi dan anak-anak pada rentang usia yang berbeda. Imunisasi rutin untuk bayi dimulai saat bayi berusia dua bulan. Anak memerlukan beberapa jenis imunisasi untuk melindungi mereka dari infeksi. Jadi, sangat penting untuk menyelesaikan program imunisasinya.

Berikut adalah beberapa jenis imunisasi pada anak yang diberikan pada rentang usia yang direkomendasikan:

  • Imunisasi Hepatitis B (HB-O) untuk bayi yang usianya kurang dari 24 jam.
  • Imunisasi BCG, Polio 1 untuk bayi usia satu bulan.
  • Imunisasi DPT-HB-Hib, Polio 2 untuk bayi usia dua bulan.
  • Imunisasi DPT-HB-Hib 2, Polio 3 untuk bayi usia tiga bulan.
  • Imunisasi DPT-HB-Hib 3, Polio 4, dan IPV untuk bayi usia empat bulan.
  • Imunisasi Campak/MR untuk bayi usia sembilan bulan.
  • Imunisasi DPT-HB-Hib lanjutan dan MR lanjutan untuk anak usia 18 bulan.
  • Imunisasi DT dan campak/MR untuk anak kelas 1 SD/Madrasah dan sederajat.
  • Imunisasi TD untuk anak kelas 2 SD/Madrasah dan sederajat.
  • Imunisasi TD untuk anak kelas 5 SD/Madrasah dan sederajat.

Persiapan sebelum Imunisasi Anak

Orangtua adalah sosok yang paling mengenal anak. Namun, memang tidak dapat dimungkiri banyak orangtua yang gugup saat anaknya hendak diimunisasi. Beberapa orangtua juga ada yang lebih gugup ketimbang anak itu sendiri. 

Hal terpenting untuk diingat adalah bahwa pengalaman anak akan dibentuk oleh bimbingan orangtua. Sebelum janji temu dan saat janji temu, cobalah untuk rileks dan memberikan nada tenang dan positif kepada anak. 

Biasanya, untuk anak yang masih kecil, pastikan anak cukup istirahat sebelum diimunisasi.  Untuk bayi, cobalah untuk memberi makan bayi satu sampai dua jam sebelum janji imunisasi. Tidurkan  bayi dua sampai empat jam sebelum janji imunisasi.

Kenakan pakaian yang nyaman untuk anak dan mudah dilepas supaya mempermudah proses imunisasi. Apabila diperlukan, ada baiknya orangtua memperiapkan sesuatu seperti mainan atau apapun itu yang bisa mengalihkan perhatian anak sebagai hiburan. 

Prosedur Imunisasi Anak

Imunisasi akan diberikan kepada anak sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan anak menurut rentang usia yang direkomendasikan. Pemberian imunisasi bisa dilakukan dengan cara injeksi atau suntikan dan melalui oral.

Perawat atau dokter akan bertanya kepada orangtua mengenai riwayat kesehatan anak sebelum memberikan vaksin. Ini akan mencakup pertanyaan tentang obat yang dikonsumsi anak, kondisi kesehatan yang dimiliki atau dialami anak, serta alergi apa pun yang mungkin dipunya anak. Perawat akan memandu orangtua tentang apa yang aman untuk anak, berdasarkan riwayat kesehatan anak. Penting buat orangtua untuk memberi tahu perawat mengenai alergi baik anak sebelum maupun sesudah menerima vaksin apapun. 

Jika anak sakit atau demam pada hari janji imunisasinya, pastikan untuk memberi tahu perawat sebelumnya. Perawat akan menilai apakah anak masih harus menerima imunisasi hari itu, atau apakah lebih baik untuk menjadwal ulang.

Hal yang Perlu Dilakukan setelah Imunisasi Anak

Setelah imunisasi, biasanya anak akan mengalami beberapa efek samping yang sifatnya umum, ringan, dan sementara. Berikut adalah beberapa tips untuk mengelola efek samping setelah imunisasi:

  • Demam

Tanyakan kepada dokter mengenai obat yang direkomendasikan sebagai penurun demam jika anak demam karena efek imunisasi.

  • Pembengkakan, Kemerahan, atau Rasa Sakit 

Kompres dengan kain basah dingin di area pembengkakan. Jika pembengkakan dirasa sangat mengganggu, segera diskusikan dengan dokter. Selain itu, anak-anak di bawah usia 18 tahun tidak boleh mengonsumsi aspirin. Pasalnya, aspirin dapat meningkatkan risiko penyakit langka seperti Sindrom Reye.

  • Rewel 

Kadang-kadang bayi mungkin merasa lelah, mudah marah, dan tidak mau makan beberapa jam setelah imunisasi. Pegang dan peluk anak saat dibutuhkan, dan ingatlah untuk menjaga suhu pada tingkat yang nyaman.

  • Reaksi Alergi Parah 

Reaksi alergi parah setelah imunisasi sangat jarang terjadi. Biasanya, tim medis akan meminta orangtua dan anak untuk tetap tinggal selama 15 menit untuk memantau efek dari imunisasi. Supaya ketika timbul reaksi alergi bisa dengan segera ditangani.