• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Alasan Anak Broken Home Rentan Alami Depresi

Ini Alasan Anak Broken Home Rentan Alami Depresi

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Anak yang mengalami broken home kerap kali dituding sebagai biang kerok dari beragam masalah yang timbul di sekitarnya. Hal yang perlu digariswabahi, terperosok ke dalam jurang broken home bukan keinginan anak. Boleh dibilang, mereka hanyalah ‘korban’ dari situasi yang tak menyenangkan atau mengecewakan di dalam rumah. 

Broken home sering diartikan sebagai sebuah keluarga yang mengalami keretakan hingga berujung dengan perpisahan. Keretakan ini bisa dipicu berbagai hal seperti KDRT, pertengkaran, hingga perceraian. Nah, hal ini yang bisa menimbulkan beragam dampak pada anak, salah satunya masalah mental seperti depresi. 

Menurut sebuah studi yang dimuat dalam Centers for Disease Control and Prevention, umumnya broken home disebabkan oleh kematian salah satu atau kedua orangtua (58 persen) dan perceraian orangtua (17,8 persen). Lalu, benarkah broken home bisa memicu depresi pada anak? Apa sebabnya? 

Baca juga: Benarkah Anak Broken Home Lebih Berpotensi Terkena BPD?

Akibat Pengalaman Traumatis

Kondisi broken home sebenarnya tak hanya berkaitan dengan kenakalan anak saja, seperti yang selama ini awam pikirkan. Broken home pada anak bisa menimbulkan masalah yang lebih serius, yaitu gangguan mental seperti depresi. 

Nah, seperti penjelasan di atas, situasi broken home bisa dipicu oleh kematian salah satu atau kedua orangtua. Menurut para ahli, kehilangan orangtua akibat kematian bisa melibatkan beragam luapan emosi.

Kondisi ini bisa membuat menimbulkan perasaan bertanggung jawab atas kematian orangtua, sedih, cemas, hingga berujung pada depresi. Menurut studi dalam Journal of American Psychiatry, kehilangan sosok orangtua adalah hal yang traumatis bagi anak yang bisa menyebabkan depresi pada dirinya. 

Masih menurut studi di atas, anak-anak yang orangtuanya meninggal karena bunuh diri atau kecelakaan, berisiko lebih tinggi mengalami depresi daripada anak-anak yang orangtuanya meninggal setelah terserang penyakit. 

Baca juga: Ini Dampak yang Terjadi pada Anak yang Terpisah dari Orangtua

Dampak Perceraian yang Menyulitkan

Apa saja efek psikologis dari perceraian pada anak? Jawabannya beragam, tapi umumnya kondisi ini membuat anak dilanda stres hingga berujung pada depresi. Perceraian ini bisa memicu kemarahan, kesusahan, kecemasan, dan ketidakpercayaan dalam diri anak.

Menurut sebuah studi, anak-anak paling bergumul selama satu atau dua tahun pertama setelah perceraian. Setelah melewati fase ini, ada yang kembali bangkit dan pulih dari luka batin, ada pula yang masih bergelut dengan pengalaman menyedihkan tersebut. 

Ingat, perceraian menimbulkan gejolak emosional bagi seluruh keluarga. Namun, bagi anak-anak situasinya bisa sangat menakutkan, membingungkan, dan membuat frustrasi. Tiap anak-anak menyikapi atau memahami perceraian dengan berbeda, contohnya: 

  • Anak-anak kecil sering kesulitan memahami mengapa orangtua tidak tinggal serumah. Si Kecil khawatir jika orangtuanya akan berhenti saling mencintai suatu hari nanti, dan takut ayah dan ibunya akan berhenti mencintai dirinya. 
  • Anak di bangku sekolah dasar mungkin khawatir bahwa perceraian disebabkan oleh kesalahan mereka. Mereka takut kalau telah melakukan kesalahan hingga membuat orangtuanya berpisah.
  • Para remaja mungkin menjadi sangat marah akibat perceraian dan perubahan yang ditimbulkannya. Mereka mungkin menyalahkan salah satu orangtua atas perpisahan tersebut. Mereka mungkin membenci salah satu atau kedua orangtua atas pergolakan dalam keluarga.

Baca juga: 6 Cara Menjelaskan Perceraian Orangtua pada Anak

Hal yang perlu digarisbawahi, bagi beberapa anak perceraian orangtua bukanlah bagian yang tersulit. Sebaliknya, dampak yang ditimbulkan usai perceraian seperti pindah sekolah, pindah ke rumah baru, tinggal dengan orangtua tunggal, yang amat menyulitkan untuk dihadapi. Nah, sering kali kondisi ini bisa memicu stres hingga berujung pada depresi. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah depresi pada anak? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter atau psikolog melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, kamu bisa menghubungi dokter ahli kapan saja dan di mana saja. Praktis, kan? 



Referensi:
CDC - Stacks. Diakses pada 2020. Broken Homes and Mental Disorder
Verywell Family. Diakses pada 2020. The Psychological Effects of Divorce on Children
American Journal of Psychiatry. Diakses pada 2020. The Incidence and Course of Depression in Bereaved Youth 21 Months After the Loss of a Parent to Suicide, Accident, or Sudden Natural Deathc
Verywell Family. Diakses pada 2020. Teen Mental Health Causes and Dangers
Verywell Family. Diakses pada 2020.The Psychological Effects of Divorce on Children
Verywell Family. Diakses pada 2020. When Children Experience Depression After Death of a Parent