• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Trauma pada Anak Bisa Ganggu Karakternya saat Dewasa?

Trauma pada Anak Bisa Ganggu Karakternya saat Dewasa?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Menurut data yang dihimpun oleh National Child Traumatic Stress Network, 78 persen anak mengalami pengalaman traumatis sebelum menginjak usia 5 tahun. 20 persen dari anak yang mengalami pengalaman traumatik tersebut menjalani perawatan. 

Masih menurut lembaga yang sama, kebanyakan orang dewasa yang mengalami post traumatic stress disorder atau PTSD cenderung mengalami pengalaman traumatis saat anak-anak. Apakah itu pelecehan, kesulitan berinteraksi dengan orang lain, dan pengalaman sulit lainnya.

Trauma Masa Kecil Dibawa Ketika Dewasa

Mengalami pelecehan atau penelantaran saat masih kecil dapat memiliki dampak yang signifikan pada kualitas hidupnya saat dewasa kelak. Dampaknya dapat dirasakan di beberapa bidang, seperti kesehatan emosional, kesehatan fisik, kesehatan mental, dan cara dia memandang dirinya sendiri.

Menurut International Society for Traumatic Stress Studies, orang-orang yang selamat dari pelecehan saat anak-anak seringkali mengalami perasaan cemas, khawatir, malu, bersalah, tidak berdaya, putus asa, sedih, dan marah.

Bertahan dari pelecehan atau trauma sebagai seorang anak kerap dikaitkan dengan depresi, keinginan untuk bunuh diri, penyalahgunaan narkoba dan alkohol, serta kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

Baca juga: Trauma Kanak-Kanak Bisa Pengaruhi Karakter saat Dewasa

Tidak hanya melukai perkembangan mental, anak-anak yang terkena pelecehan dan trauma dapat mengembangkan apa yang disebut “respons stres yang meningkat”. Ini dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk mengatur emosi, menyebabkan gangguan tidur, menurunkan fungsi kekebalan tubuh, dan meningkatkan risiko sejumlah penyakit fisik sepanjang masa perkembangan dewasa kelak.

Pengalaman traumatik bisa disebut sebagai sesuatu yang “membunuh” pelan-pelan. Soalnya, perasaan buruk bisa datang tiba-tiba ketika secara tidak sengaja terpapar oleh pemicunya. Pada saat peristiwa traumatis terjadi, pikiran akan membuat banyak asosiasi dengan perasaan, pemandangan, suara, bau, dan sentuhan yang berhubungan dengan trauma. 

Ini membuat sensasi serupa dapat memicu ingatan akan pengalaman buruk tersebut. Berbagai hal dapat memicu ingatan yang ingin dilupakan. Bisa dengan membaca cerita tentang trauma orang lain dan menonton program televisi yang menggambarkan peristiwa traumatis yang mirip dengan pengalaman masa lalu.

Kalau kamu pernah mengalami sesuatu yang traumatik dan butuh curhat ataupun saran profesional, kontak saja Halodoc. Dokter ataupun psikolog yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk kamu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja.

Tanda Anak Mengalami Trauma

Sesuatu yang sifatnya traumatis biasanya sulit untuk diceritakan, tetapi kerap memengaruhi perubahan pada perilaku. Respons anak-anak terhadap trauma dapat bervariasi, orang tua bisa tanggap dengan cara memerhatikan perubahan sikap pada anak. 

Baca juga: Konten Prank Diminati, Kenapa Orang Senang Melihat yang Lain Susah?

Berikut adalah perubahan perilaku yang biasanya dilakukan anak setelah mengalami peristiwa tidak menyenangkan.

  1. Mengikuti orang tua di sekitar rumah.

  2. Tiba-tiba mengalami masalah dengan keterampilan dasar, seperti tidur, makan, pergi ke toilet.

  3. Perubahan suasana hati di mana anak tidak menikmati rutinitas atau kegiatan sehari-hari yang mereka sukai atau mungkin terlihat lebih “tertutup”, lesu, dan menarik diri

  4. Meningkatnya rasa takut, misalnya anak menjadi lebih gelisah atau lekas kaget dan mengembangkan ketakutan baru

  5. Mimpi buruk yang intens.

  6. Lebih banyak keluhan fisik yang tidak ditemukan penyebabnya, seperti sakit perut atau sakit kepala, kelelahan, dan masalah lainnya.

Referensi:

International Society for Traumatic Stress Studies. Diakses pada 2019. Effects of Childhood Trauma on Adults
Better Health Channel. Diakses pada 2019. Trauma and children - two to five years