• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Alasan Gen Z Lebih Terbuka saat Mengalami Depresi
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Alasan Gen Z Lebih Terbuka saat Mengalami Depresi

Ini Alasan Gen Z Lebih Terbuka saat Mengalami Depresi

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 24 Maret 2021
Ini Alasan Gen Z Lebih Terbuka saat Mengalami DepresiIni Alasan Gen Z Lebih Terbuka saat Mengalami Depresi

Halodoc, Jakarta - Generasi Z, disebut juga Gen Z, mengacu pada mereka yang lahir pada 1997 hingga 2012. Mereka adalah generasi pertama yang sepenuhnya dibesarkan kecanggihan digital, gawai, dan internet, serta tumbuh dengan pengalaman dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Cara Gen Z menghadapi depresi pun berbeda. 

Secara khusus, gen Z terhubung secara global dengan beragam orang dan sebagian besar berkomunikasi melalui teknologi dan media sosial. Mereka tumbuh di masa-masa penuh gejolak yang mencakup berbagai pemicu stres. Namun, generasi ini secara konsisten membuktikan dirinya sebagai generasi lebih terbuka saat berbicara tentang depresi dan kesehatan mental.

Baca juga: Depresi Bisa Terjadi pada Orang dalam Segala Usia

Gen Z Lebih Sadar Akan Depresi dan Masalah Kesehatan Mental

Dalam laporan yang dirilis oleh American Psychological Association (APA) yang berjudul Stress in America: Generation Z pada Oktober 2019, dilaporkan bahwa Gen Z lebih mungkin menerima pengobatan atau menjalani terapi kesehatan mental, dibandingkan dengan Generasi Milenial, Generasi X, Generasi Baby Boomer, dan Generasi Y. 

Lebih lanjut, Gen Z juga cenderung melaporkan kesehatan mental mereka, dibandingkan dengan generasi lain yang lebih tua, yaitu Milenial dan Gen X. Gen Z secara umum lebih sadar dan menerima masalah kesehatan mental, sehingga mereka terbuka tentang masalah psikologis dan cara mengelola stres.

Namun, apa alasan Gen Z lebih terbuka tentang kesehatan mental mereka? Ada beberapa alasan di balik hal ini. Salah satu yang utama adalah karena Gen Z lebih “dekat” dengan internet dan media sosial. Ketika ada orang yang berbicara tentang perjuangan melawan depresi mereka misalnya, hal ini membuat Gen Z paham bahwa isu tentang kesehatan mental bukanlah hal yang buruk. 

Media sosial dan internet telah menghubungkan Gen Z dengan cerita orang lain, baik itu orang asing di internet, atau selebritas dan influencer. Semua faktor ini mungkin memudahkan Gen Z untuk berbicara secara terbuka tentang perjuangan kesehatan mental mereka dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Menormalisasi pembicaraan tentang depresi dan kesehatan mental membuat Gen Z memiliki kemampuan untuk menangani masalah mereka dan melanjutkan hidup daripada tetap buntu. Generasi ini tidak ingin tertahan oleh masalah kesehatan mental. 

Baca juga: Cyberbullying Bisa Sebabkan Depresi dan Bunuh Diri

Sebaliknya, mereka ingin mendapatkan perawatan, sehingga mereka memiliki kesehatan mental yang baik untuk bisa hidup dengan lebih baik. Mereka tidak ingin ditahan oleh masalah kesehatan mental, karena mereka telah melihat bahwa memiliki kesehatan mental yang baik dan mengatasi depresi adalah hal yang mungkin.

Mengapa Ada Lebih Sedikit Stigma Kesehatan Mental di Antara Gen Z?

Alasan lain Gen Z lebih terbuka saat mengalami depresi daripada generasi sebelumnya karena ada lebih sedikit stigma di sekitar mereka yang meminta bantuan. Tidak seperti Millenials dan Gen X yang masih termasuk generasi di mana berbicara tentang masalah kesehatan mental atau meminta bantuan dianggap tidak biasa.

Gen Z adalah bagian dari kelompok yang tidak merasakan stigma yang sama. Ini menimbulkan pertanyaan, mengapa stigma tentang depresi dan kesehatan mental di antara generasi ini berkurang? Berikut ini kemungkinan alasannya:

1.Perawatan Kesehatan Mental Adalah Normal

Gen Z telah tumbuh di dunia di mana mendapatkan perawatan untuk masalah psikologis itu normal dan dianggap wajar. Meminta pertolongan untuk kesehatan mental dipandang sebagai kekuatan dan bukan kelemahan di antara Gen Z, sama seperti pergi ke dokter karena patah tulang akan dipandang sebagai hal yang cerdas untuk dilakukan.

2.Media Sosial Berperan Besar

Media sosial telah membantu menormalkan masalah depresi dan kesehatan mental dan mengurangi stigma di antara Gen Z, melalui keterkaitan dan pemahaman bersama. Gen Z memiliki perasaan dukungan sosial melalui koneksi online mereka yang tidak dimiliki oleh generasi sebelumnya.

Gen Z tumbuh di zaman di mana mendapatkan bantuan dipromosikan dan dinormalisasi, misalnya melihat iklan untuk terapi online di media sosial. Sementara Baby Boomers umumnya baru kenal internet di usia 40-an dan 50-an, dan beberapa generasi Milenial tumbuh dengan Internet tetapi yang lainnya tidak.

Media sosial dan Internet sebagian besar merupakan kekuatan pendorong di balik perubahan perspektif tentang depresi dan kesehatan mental di kalangan Gen Z. Bersama dengan pandangan yang berubah secara bertahap di media arus utama dan persepsi publik.

Baca juga: Tanda dan Gejala Depresi yang Wajib Kamu Ketahui

3.Call Out Culture

Gen Z telah tumbuh di dunia di mana stigma dianggap tidak dapat diterima. Hal ini terutama terlihat dalam bagaimana bahasa telah berubah. Misalnya, istilah-istilah tertentu yang merujuk pada depresi dan kesehatan mental menjadi tidak dapat diterima untuk digunakan karena konotasi negatifnya.

Itulah sedikit penjelasan mengenai mengapa Gen Z lebih terbuka mengenai depresi dan masalah kesehatan mental. Jika kamu atau orang terdekat ada yang mengalami gejala depresi atau masalah kesehatan mental lainnya, ajak dan dukung mereka untuk mendapatkan perawatan.

Mendapatkan perawatan untuk masalah kesehatan mental juga bisa melalui aplikasi Halodoc, lho. Ada banyak psikolog dan dokter spesialis kesehatan jiwa di Halodoc yang siap membantu kamu atau orang terdekat yang mengalami masalah seputar kesehatan mental. Jadi, jangan lupa download aplikasinya, ya!

Referensi:
Very Well Mind. Diakses pada 2021. Why Gen Z Is More Open to Talking About Their Mental Health.
American Psychological Association. Diakses pada 2021. Stress in America: Generation Z.