• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Alasan WHO Minta Negara Tunda Booster Vaksin COVID-19
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Alasan WHO Minta Negara Tunda Booster Vaksin COVID-19

Ini Alasan WHO Minta Negara Tunda Booster Vaksin COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 06 Agustus 2021
Ini Alasan WHO Minta Negara Tunda Booster Vaksin COVID-19

“Varian Delta telah membuat kepanikan lagi banyak negara karena penyebarannya yang lebih cepat. Oleh karena itu, banyak negara yang berencana memberikan booster vaksin kepada penduduknya. Salah satunya adalah Indonesia, yakni penggunaan vaksin Moderna untuk para tenaga kesehatan. Namun, WHO meminta negara menundanya hingga akhir September mendatang.”

Halodoc, Jakarta – Sejak awal 2021, beberapa vaksin memang sudah siap digunakan oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Namun dengan hadirnya vaksin, bukan berarti pandemi COVID-19 ini akan langsung berakhir. Masalah distribusi masih menjadi penghalang untuk banyak negara, terutama negara ekonomi lemah untuk mendapatkan vaksin.

Namun dengan hadirnya varian delta yang disebut-sebut mampu menurunkan keefektifan virus, banyak negara terutama yang negara yang ekonominya kuat berencana untuk melakukan booster vaksin. Oleh karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta seluruh negara melakukan moratorium penyuntikan dosis penguat atau booster vaksin, setidaknya hingga akhir September mendatang. Kira-kira apa alasannya? Berikut ulasannya!

Baca juga: Begini Skema Booster Vaksin COVID-19 di Indonesia 

Alasan WHO Minta Tunda Booster Vaksin

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa alasan penangguhan itu harus dilakukan sampai paling tidak sekitar sepuluh persen penduduk di setiap negara sudah menerima vaksin corona.

Tedros menyebutkan bahwa ia sangat memahami keinginan pemerintah di seluruh negara untuk melindungi penduduknya dari varian Delta. Namun, ia sebagai perwakilan WHO tidak bisa menerima jika ada negara yang tidak kebagian vaksin karena vaksin tersebut digunakan untuk booster. 

Permintaan akan dosis ketiga atau booster vaksin belakangan ini memang semakin meningkat terutama setelah terjadi lonjakan kasus COVID-19 di dunia akibat penyebaran virus corona varian Delta. Sejumlah negara juga telah melakukan uji coba dan meyakini suntikan dosis booster vaksin ini bisa menambah efikasi.

Jika kamu sudah menerima dosis vaksin pertama atau kedua dan kemudian merasakan efek samping yang tidak biasa setelahnya, sebaiknya segera periksakan diri ke rumah sakit. Kamu juga bisa buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui Halodoc supaya lebih mudah dan praktis.

Baca juga: Hindari Corona Varian Delta, Batasi Aktivitas di Luar Rumah

Hanya 10 Negara yang Sebanyak 75 Persen Penduduknya Sudah Menerima Vaksin

Akibat varian Delta yang semakin cepat menyebar, hal ini telah memicu kenaikan permintaan vaksin Covid-19 dari negara-negara yang memiliki uang untuk membelinya. Sementara bagi negara-negara yang kondisi keuangannya tidak stabil, maka mereka harus kecewa karena kesulitan memenuhi target vaksinasi penduduk.

Direktur Vaksin, Imunisasi dan Biologi WHO, Katherine O’Brien menyebutkan bahwa kini  semuanya perlu fokus pada orang-orang yang paling rentan, paling berisiko terkena penyakit parah dan kematian, untuk mendapatkan dosis pertama dan kedua. Sebab jika dilihat data dari WHO,  baru ada sekitar 10 negara saja yang 75 persen penduduknya sudah mendapatkan dua dosis vaksin corona.

Sementara itu, di negara-negara berpenghasilan rendah, hanya satu persen penduduk yang sudah menerima setidaknya satu dosis vaksin corona. Angka ini jauh lebih kecil jika dibanding dengan negara-negara berpenghasilan tinggi, yang tercatat setengah dari populasinya sudah mendapatkan vaksin. WHO juga menargetkan pada pertengahan 2022 setiap negara sudah memvaksin penduduknya hingga 70 persen. 

Baca juga: Gejala Varian Baru COVID-19, Tak Lagi Didominasi Demam

Negara-Negara yang Mulai Lakukan Booster Vaksin

Sementara itu, beberapa negara dengan penghasilan tinggi kini sudah memulai penyuntikan vaksin booster. Salah satunya adalah Israel, yang mana pada pekan lalu, Presiden Israel Isaac Herzog menerima suntikan ketiga vaksin COVID-19. Ini dilakukan sebagai bagian kampanye untuk memberikan dosis booster kepada orang berusia di atas 60 tahun. Langkah ini ditempuh semata-mata untuk menahan laju varian Delta yang disebut lebih menular.

Amerika Serikat juga sudah menandatangani kesepakatan dengan Pfizer Inc., dan BioNTech asal Jerman untuk membeli kembali 200 juta dosis tambahan vaksin COVID-19 yang diperuntukkan untuk diberikan kepada anak-anak dan kemungkinan untuk booster vaksin.

Referensi:
CNN Indonesia. Diakses pada 2021. WHO Minta Seluruh Negara Tunda Booster Vaksin Covid-19.
Wall Street Journal. Diakses pada 2021. WHO Calls for Halt to Covid-19 Booster Shots to Tackle Shortfall in Developing World.