
Ini Cara Mencegah Badai Sitokin saat Terinfeksi COVID-19
“Badai sitokin menjadi salah satu efek samping serius yang rentan terjadi pada pengidap COVID-19. Pengobatan sesegera mungkin menjadi langkah penting yang harus dilakukan untuk mencegah penyakit berkembang lebih parah.”

Halodoc, Jakarta – Badai sitokin menjadi salah satu komplikasi yang berisiko terjadi pada pengidap COVID-19. Sitokin sendiri adalah sejenis protein yang punya peran penting dalam hubungannya dengan imunitas tubuh. Ketika seseorang dalam kondisi sehat, protein sitokin membantu kekebalan tubuh memerangi virus dan bakteri yang menyebabkan infeksi.
Meski punya peran yang sangat penting untuk tubuh, apabila kadarnya terlalu tinggi, sitokin justru bisa menghadirkan efek yang berbahaya untuk organ tubuh. Lalu, bisakah kondisi ini dicegah? Jika memungkinkan, bagaimana cara pencegahannya?
Badai Sitokin pada Pengidap COVID-19, Bisakah Dicegah?
Sitokin memiliki peran utama untuk memberikan tanda pada imunitas tubuh agar segera memulai perlindungan. Meski begitu, saat sitokin yang dikeluarkan kadarnya terlalu tinggi, imunitas tubuh tidak hanya membatasi terjadinya penyebaran virus, tetapi juga memiliki risiko untuk merusak organ dan jaringan.
Oleh karena itulah, badai sitokin atau kadar sitokin yang terlalu tinggi kerap dijadikan sebagai penyebab kematian paling utama pada orang-orang yang terinfeksi virus corona. Terdapat tiga tahapan progresif dari infeksi COVID-19, yaitu fase infeksi awal, tahapan paru, dan tahapan hiper-inflamasi.
Tentunya, dibutuhkan perawatan intensif sesegera mungkin guna mencegah munculnya badai sitokin. Penanganan yang dilakukan pada fase infeksi awal yang menunjukkan gejala ringan atau tidak menunjukkan adanya gejala, bertujuan untuk mencegah terjadinya kerusakan yang lebih buruk lagi.
Studi dalam Frontiers in Immunology menyebutkan, obat antivirus bisa diresepkan guna membantu menghambat penyebaran virus dan menghancurkan penggandaan virus. Selain itu, obat juga membantu mengurangi terjadinya kerusakan pada sel yang disebabkan karena virus corona.
Penanganan ini juga bisa digabungkan dengan terapi imunoregulator sehingga terjadinya badai sitokin bisa dicegah. Terapi tersebut bertugas untuk menghambat terjadinya respons inflamasi hiperaktif. Sampai sekarang, telah dilakukan beberapa pengujian klinis guna menyelidiki lebih lanjut potensi intervensi, dalam kaitannya dengan pengendalian badai sitokin pada pengidap COVID-19.
Penanganan yang Dapat Dilakukan pada Badai Sitokin
Sayangnya, belum ada cara pasti yang bisa dilakukan untuk mendeteksi apakah seorang pengidap COVID-19 sedang terserang badai sitokin. Meski begitu, tes darah bisa membantu memberikan tanda pada dokter ketika pengidap mengalami fase hiper-inflamasi.
Tak hanya itu, dokter juga bisa mengetahui kondisi pengidap, misalnya apakah pengidap tetap mengalami kesulitan bernapas padahal sudah mendapatkan bantuan oksigen. Gejala ini kerap kali menjadi tanda bahwa tubuh sedang mengalami kelebihan kadar sitokin.
Perlu diketahui bahwa seseorang dengan kondisi COVID-19 yang mengalami badai sitokin bisa menjadi lebih buruk dan sakit. Sebagian besar akan mengalami sesak napas dan demam, lalu berkembang menjadi kesulitan bernapas dan harus dibantu dengan ventilator.
Kondisi ini umumnya akan terjadi antara enam atau tujuh hari setelah penyakit muncul. Selama beberapa waktu terakhir, intubasi ventilator dan oksigenasi membran ekstrakorporeal atau ECMO, menjadi bentuk penanganan yang bisa diberikan oleh pengidap COVID-19 yang turut terkena badai sitokin.
Tak hanya itu, dokter tentu akan memperhatikan bagaimana pengidap memberikan respons terhadap bentuk penanganan lainnya. Misalnya pemberian obat pengikat protein, terapi sel induk, dan infus plasma antibodi. Tak jarang, dokter mungkin akan memberikan obat untuk membantu memblokir interleukin-6 atau IL-6, yang menjadi mediator inflamasi utama yang berperan dalam badai sitokin.
Apabila kamu merasakan adanya gejala COVID-19, jangan ragu untuk menjalani tes sesuai dengan anjuran dokter. Pakai aplikasi Halodoc untuk tanya jawab dengan dokter atau cek kebutuhan medis lebih lengkap. Kamu dapat download Halodoc di App Store atau Play Store.







