• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Penjelasan tentang Keto Flu saat Lakukan Diet Keto
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Penjelasan tentang Keto Flu saat Lakukan Diet Keto

Ini Penjelasan tentang Keto Flu saat Lakukan Diet Keto

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani : 02 Oktober 2020
Ini Penjelasan tentang Keto Flu saat Lakukan Diet Keto

Halodoc, Jakarta - Siapa yang tidak ingin kehilangan berat badan hingga belasan kilogram hanya dalam waktu beberapa bulan? Hampir banyak orang dengan berat badan yang berlebih pasti menginginkan hal ini. Nah, salah satu cara yang bisa mewujudkannya adalah diet keto.

Sejak beberapa tahun belakangan ini, diet ketogenik semakin populer sebagai cara alami untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan. Diet ini memiliki ciri khas, yakni membatasi asupan karbohidrat serta menggantinya dengan makanan tinggi lemak dan protein dalam jumlah yang sedang.

Meskipun diet ini dianggap aman bagi kebanyakan orang, tetapi tetap saja ada efek samping yang kurang menyenangkan dari diet ini. Salah satunya adalah keto flu, yang juga disebut flu karbohidrat. Keto flu adalah istilah yang diciptakan untuk menggambarkan gejala yang mereka alami saat memulai diet keto. Yuk, simak ulasannya lebih lanjut melalui ulasan berikut!

Baca juga: Penjelasan Panduan Aman Diet Keto untuk Pemula 

Apa Itu Keto Flu?

Keto flu adalah kumpulan gejala yang dialami beberapa orang saat pertama kali memulai diet keto. Gejala ini, yang bisa terasa mirip dengan flu, disebabkan oleh tubuh yang beradaptasi dengan pola makan baru yang mengandung sangat sedikit karbohidrat.

Mengurangi asupan karbohidrat akan memaksa tubuh membakar keton untuk energi, bukan glukosa. Keton adalah produk sampingan dari pemecahan lemak dan menjadi sumber bahan bakar utama saat mengikuti diet ketogenik. Biasanya, lemak disimpan sebagai sumber bahan bakar sekunder untuk digunakan saat glukosa tidak tersedia.

Peralihan ke pembakaran lemak untuk energi ini disebut ketosis. Itu terjadi selama keadaan tertentu, termasuk kelaparan dan puasa. Namun, ketosis juga bisa dicapai dengan menjalani pola makan yang sangat rendah karbohidrat.

Dalam diet ketogenik, karbohidrat biasanya dikurangi hingga di bawah 50 gram per hari. Penurunan drastis ini bisa mengejutkan tubuh dan dapat menyebabkan gejala seperti penarikan, mirip dengan yang dialami saat menyapih zat adiktif seperti kafein. 

Baca juga: Diet Keto Tanpa Hasil? Mungkin Ini Penyebabnya 

Ini Gejala Keto Flu

Gejala keto flu biasanya ringan, dimulai saat seseorang memulai diet, dan mungkin hanya berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu. Mereka mungkin mereda ketika tubuh memasuki keadaan ketosis. Keto flu dapat menyebabkan beberapa gejala, seperti: 

  • Mual.
  • Muntah.
  • Sakit kepala.
  • Kelelahan.
  • Pusing.
  • Kesulitan untuk olahraga.
  • Sembelit.

Peneliti lain telah melaporkan gejala tambahan, yang biasanya mencapai puncaknya antara hari ke-1 dan ke-4 dari diet:

Gejala jangka pendek tambahan, yang cenderung dapat dicegah atau mudah diobati, meliputi:

  • Dehidrasi.
  • Episode gula darah rendah, atau hipoglikemia.
  • Energi rendah.

Terlepas dari gejala tersebut, beberapa peneliti menyarankan bahwa diet keto dapat bermanfaat bagi penderita penyakit endokrin, seperti diabetes dan obesitas, atau penyakit saraf, termasuk epilepsi. Namun, jika diet keto ditujukan untuk menurunkan berat badan, sebaiknya diskusikan dahulu dengan dokter di Halodoc mengenai keamanannya. Pasalnya, bisa saja tubuhmu mengalami gejala seperti yang disebutkan di atas dalam tingkat yang lebih ekstrem. Jadi, pastikan diet keto yang kamu lakukan berada di bawah pengawasan dokter.

Baca juga: Mitos dan Fakta Tentang Diet Keto yang Harus Diketahui

Keto Flu Bisa Diatasi dengan Cara Ini

Diet keto dapat membantu seseorang menurunkan berat badan, tetapi beberapa orang menunda diet ini karena gejala keto flu yang cukup mengganggu dan mengkhawatirkan. Namun, flu ini bersifat sementara dan perawatan serta pengobatan dapat meredakannya.

Ada beberapa strategi yang dapat mengatasi keto flu, antara lain:

  • Makan Lemak yang Berbeda. Memilih lemak tertentu, seperti minyak zaitun, bisa mengurangi risiko gejala keto flu. Jika seseorang yang menjalani diet keto mengalami gejala perut, ahli diet dapat merekomendasikan untuk mengubah jenis lemak dalam makanannya. Kadar trigliserida rantai sedang yang tinggi, dari makanan seperti minyak kelapa, mentega, dan minyak inti sawit, dapat menyebabkan kram, diare, dan muntah. Makan lebih sedikit makanan ini dan lebih banyak yang memiliki trigliserida rantai panjang, seperti minyak zaitun, dapat membantu mencegah gejala perut pada orang yang menjalani diet keto.
  • Minum Obat. Dokter mungkin juga meresepkan histamin 2-receptor blocker atau penghambat pompa proton untuk orang yang mengalami refluks asam.
  • Makan Lebih Banyak Serat. Orang mungkin mengalami sembelit atau diare saat menjalani diet keto. Ahli diet mungkin merekomendasikan makan lebih banyak sayuran berserat tinggi atau mengonsumsi suplemen serat untuk penderita sembelit. Mereka mungkin menyarankan penggunaan pencahar bebas karbohidrat jika perubahan pola makan ini tidak berhasil.
  • Minum Air Lebih Banyak. Orang yang menjalani diet keto mungkin mengalami dehidrasi. Jika orang tersebut juga mengalami diare, risiko dehidrasi lebih tinggi. Dokter menganjurkan agar orang yang menjalani diet keto memastikan mengonsumsi cukup cairan dan elektrolit untuk mencegah dehidrasi.
  • Konsumsi Suplemen. Salah satu efek jangka panjang diet keto adalah kekurangan vitamin dan mineral. Seorang dokter mungkin menyarankan mengonsumsi suplemen vitamin untuk memastikan bahwa tubuh menerima jumlah kalsium, vitamin D, seng, dan selenium yang cukup. 
Referensi:
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2020. What is Keto Flu?
Healthline. Diakses pada 2020. The Keto Flu: Symptoms and How to Get Rid of It.
Medical News Today. Diakses pada 2020. Why Does the Keto Diet Cause Flu-like Symptoms?