• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Tahapan Pengujian dan Perkembangan Global Vaksin Corona

Ini Tahapan Pengujian dan Perkembangan Global Vaksin Corona

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Para ilmuwan sudah memutar otak dan mencoba beragam cara untuk mengalahkan virus corona terbaru SARS-CoV-2. Virus durjana penyebab pagebluk COVID-19 ini masih terus menghantui masyarakat global. Menurut para ahli, kemungkinan besar kita hanya akan dapat mengakhiri pandemi ini melalui kekuatan vaksin.

Hmm, apa kabarnya vaksin COVID-19? Pada 16 Maret 2020 lalu, vaksin pertama telah diuji di Amerika Serikat. Jauh sebelum pembuatan vaksin virus corona, para ilmuwan telah melakukan pengujian vaksin lain dengan cukup cepat. 

Contohnya vaksin SARS memakan waktu 20 bulan, vaksin Ebola sekitar 7 bulan, dan vaksin virus Zika selama 6 bulan. Bagaimana dengan vaksin COVID-19? Calon vaksin ini mengalahkan rekor-rekor vaksin sebelumnya. Formulasi vaksin corona ini dibuat dalam 65 hari. Namun, perjalanan vaksin ini masih sangat panjang untuk dapat mengakhiri pandemi COVID-19.

Lantas, seperti apa sih perkembangan vaksin virus corona hingga saat ini? Berapa jumlah farmasi raksasa yang terlibat di dalamnya? Lalu, bagaimana proses pembuatan sebuah vaksin dari hulu sampai hilir, hingga dapat digunakan oleh semua populasi manusia?

Melalui beragam sumber yang telah dihimpun, Halodoc mencoba menjawab berbagai pertanyaan seputar vaksin virus corona. 

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Ini Hal yang Harus dan Jangan Dilakukan


Perjalanan Panjang Sebuah Vaksin

Tahapan membuat sebuah vaksin biasanya membutuhkan penelitian dan pengujian bertahun-tahun sebelum mencapai fase klinik. Namun, ada pengecualian untuk kasus COVID-19, para ilmuwan berlomba untuk menciptakan vaksin yang aman dan efektif pada tahun depan.

Sampai kemarin (8/9), setidaknya terdapat 37 vaksin dalam uji klinis pada manusia. Sementara itu, setidaknya 91 vaksin masih masuk dalam tahap praklinis dan sedang dalam penelitian aktif pada hewan.

Kira-kira seperti apa tahap pembuatan sebuah vaksin? Prosesnya cukup kompleks dan memakan waktu yang cukup lama. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ada enam tahap untuk membuat sebuah vaksin, yaitu:

  1. Tahap eksplorasi
  2. Tahap praklinis
  3. Perkembangan klinis
  4. Tinjauan peraturan dan persetujuan
  5. Manufaktur
  6. Kontrol kualitas

Nah, untuk kasus COVID-19, kini vaksinnya masih berada di tahap dua dan tiga, yaitu tahap praklinis dan uji klinis. Di kedua tahap ini, sebuah vaksin harus melewati berbagai kali proses pengujian. 

  • Uji Praklinis: Para ilmuwan menguji vaksin baru pada sel dan memberikannya pada hewan seperti tikus atau monyet untuk melihat apakah vaksin tersebut menghasilkan respons imun. Terdapat 91 vaksin COVID-19 di tahap ini. 
  • Uji Klinis I (safety trials): Para ilmuwan memberikan vaksin kepada sejumlah kecil orang untuk menguji keamanan dan dosis, serta untuk memastikan bahwa fungsi dalam vaksin tersebut merangsang sistem kekebalan.
  • Uji Klinis II (expanded trials): Ilmuwan memberikan vaksin pada ratusan orang yang dibagi menjadi beberapa kelompok, seperti anak-anak dan orang tua. Tujuannya untuk melihat apakah vaksin bekerja berbeda pada tubuh mereka. Uji coba ini selanjutnya menguji keamanan vaksin dan kemampuan untuk merangsang sistem kekebalan.
  • Uji Klinis III (efficacy trials): Memberikan vaksin pada ribuan orang dan menunggu untuk melihat berapa banyak yang terinfeksi, dibandingkan dengan sukarelawan yang menerima plasebo. Uji coba ini dapat menentukan apakah vaksin melindungi tubuh dari virus corona. Pada bulan Juni, Food and Drug Administration (FDA) mengatakan bahwa vaksin virus corona harus melindungi setidaknya 50 persen orang yang divaksinasi agar dianggap efektif. Selain itu, uji coba tahap ini berperan besar untuk mengungkapkan bukti efek samping yang relatif jarang, dan mungkin terlewatkan dalam penelitian sebelumnya.
  • Fase Gabungan: Salah satu cara untuk mempercepat pengembangan vaksin adalah dengan menggabungkan fase. Beberapa vaksin virus corona sekarang dalam uji coba fase I/II, misalnya, di mana mereka diuji untuk pertama kalinya pada ratusan orang.
  • Persetujuan Dini atau Terbatas (early or limited approval): Tiongkok dan Rusia telah menyetujui vaksin tanpa menunggu hasil uji klinis III. Namun, menurut para ahli, proses yang terburu-buru bisa menimbulkan risiko yang serius. 
  • Persetujuan:  Regulator di setiap negara meninjau hasil uji coba dan memutuskan apakah akan menyetujui vaksin atau tidak. Selama pandemi, vaksin dapat menerima otorisasi penggunaan darurat sebelum mendapatkan persetujuan resmi. Setelah vaksin dilisensikan, peneliti terus memantau orang yang menerimanya untuk memastikannya aman dan efektif.

Hingga saat ini setidaknya terdapat 24 vaksin yang masuk tahap uji klinis I, 14 vaksin di uji klinis II, 9 vaksin di tahap uji klinis III, dan 3 vaksin di tahap persetujuan dini atau terbatas. Sayangnya, belum ada sama sekali vaksin virus corona yang telah melalui tahap persetujuan. 

Baca juga: Kasusnya Meningkat , Ini 8 Cara Perkuat Sistem Imun Tangkal Virus Corona


Beragam Pendekatan pada Vaksin COVID-19

Sampai saat ini, para ilmuwan sedang mengembangkan lebih dari 100 vaksin virus corona dengan menggunakan berbagai teknik. Beberapa di antaranya sudah aman, tapi sebagian lainnya belum pernah disetujui untuk penggunaan medis sebelumnya. 

Kebanyakan dari vaksin ini menargetkan apa yang disebut protein permukaan (spike protein), yang menutupi virus dan membantunya menyerang sel manusia. Namun, sistem imunitas tubuh kita dapat mengembangkan antibodi yang menempel pada spike protein dan menghentikan serangan virus.

Nah, vaksin SARS-CoV-2 yang sukses akan ‘mengajarkan’ sistem kekebalan tubuh kita untuk membuat antibodi melawan virus tanpa menyebabkan penyakit.

Berbicara vaksin corona, tentunya juga membicarakan berbagai pendekatan untuk menciptakannya. Berikut ini jenis vaksin corona yang telah diujikan pada manusia dan di dalam sel hewan. 

1.Whole-Virus Vaccines

Vaksin yang mengubah seluruh partikel virus corona dengan berbagai cara (dihancurkan, dipanaskan, radiasi, atau dengan bahan-bahan kimia) untuk memicu respons imun.

Vaksin jenis ini terbagi menjadi dua, yaitu: inactivated and live attenuated vaccines. Contohnya seperti vaksin influenza, cacar air, campak, gondongan, dan rubella. Perusahaan yang tengah mengembangkan vaksin COVID-19 jenis ini salah satunya Sinovac.

2.Vaksin Rekombinan Genetik

Vaksin yang menggunakan (satu atau lebih) bagian dari kode genetik virus corona untuk memicu respons kekebalan. Vaksin genetik terbagi menjadi dua, yaitu vaksin DNA dan RNA. Belum ada vaksin DNA dan RNA yang disetujui pada manusia. Namun, para ahli tengah menguji vaksin DNA pada penyakit Zika dan Flu, dan RNA pada penyakit MERS. 

Contoh perusahaan farmasi yang mengembangkan vaksin DNA untuk COVID-19 adalah Inovio. Sedangkan vaksin RNA yaitu Moderna, Pfizer and BioNTech, CureVac.

3.Vaksin Vektor Viral

Vaksin yang menggunakan virus untuk mengirimkan gen virus corona ke dalam sel dan memicu respon imun. Vaksin jenis ini pernah dikembangkan untuk vaksin Ebola dan terbukti aman pada manusia. Perusahaan yang mengembangkan vaksin in contohnya, Johnson & Johnson, CanSino, hingga University of Oxford. 

4.Vaksin Berbasis Protein

Vaksin corona jenis ini menggunakan protein virus corona atau fragmen protein untuk memicu respon imun. Vaksin berbasis protein ini contohnya digunakan pada vaksin HPV (Human papillomavirus). Perusahaan yang tengah mengembangkan vaksin corona berbasis protein yaitu Medicago, Doherty Institute, dan lainnya.

Baca juga: Kita Semua Vs Virus Corona, Siapa Pemenangnya?


Bisa Berujung pada Kegagalan

Tersedianya vaksin virus corona untuk masal tentu menjadi harapan jutaan penduduk Bumi, apalagi di tengah-tengah pandemi yang amat mengkhawatirkan seperti saat ini. Namun, sebenarnya perjalanan vaksin corona dari hulu sampai hilir tak sesimpel yang awam bayangkan.

Menurut Anthony Fauci, direktur dari National Institute of Allergy and Infectious Diseases, proses pembuatan dan perjalanan vaksin virus corona masih panjang. Semua vaksin potensial harus melalui jalan yang sulit, jalan panjang dan berkelok, yang penuh tantangan dan cobaan. Hal ini tetap bisa terjadi meski bila tes keamanan di awal berjalan dengan baik.

Kira-kira masih membutuhkan waktu satu hingga satu setengah tahun agar vaksin ini bisa tersedia untuk masyarakat global. Ingat, waktu ini sudah terbilang super cepat untuk membuat sebuah vaksin.

Ambil contoh di AS, biasanya sebuah calon vaksin butuh waktu satu dekade untuk membuatnya dari awal sampai akhir. Sialnya, sekitar 90 persen gagal menyelesaikan. 

Nah, ancaman yang brutal dari virus corona memaksa komunitas ilmiah dunia berlomba dan bekerja sama untuk mengembangkan vaksinnya. Semakin lama vaksin ditemukan, maka kemungkinan angka kematian akibat COVID-19 akan melambung tinggi. Kini COVID-19 (09/09, 09:46 WIB) setidaknya virus jahat ini telah menyerang 27,477,869, dan menewaskan 896,127 jiwa. 

Pada Februari lalu, ketua Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, vaksin COVID-19 akan siap dalam 18 bulan ke depan. WHO bersama berbagai negara melakukan berbagai upaya dengan menggunakan perangkat dan sumber daya yang tersedia untuk melawan virus jahat ini. 

Masalahnya, menurut WHO proses pencarian vaksin untuk virus baru biasanya memakan waktu beberapa tahun. Itu pula terkadang berujung pada kegagalan. Namun, dengan perkembangan teknologi saat ini, vaksin virus corona bisa lebih cepat ditemukan, sekitar 18 bulan ke depan. 

Baca juga: Timeline Virus Corona, Dari Desember 2019 Hingga Kini


Uji Klinis 3 Sangat Krusial

Lalu, seperti apa pendapat terbaru WHO mengenai gencarnya riset vaksin SARS-CoV-2? “(WHO) tidak berharap ada vaksinasi (vaksin COVID-19) dalam skala luas hingga pertengahan 2021,” ujar juru bicara WHO, Margaret Harris, di Geneva, Jumat (4/09).

Margaret Harris menekankan pentingnya pemeriksaan keamanan, terutama pada fase uji klinis ketiga. Menurutnya, di tahap ini akan memakan waktu lebih lama untuk melihat seberapa efektif dan aman. 

Pernyataan juru bicara WHO ini seakan-akan ‘menyentil’ vaksin milik Rusia. Berdasarkan hasil uji klinis fase 1 dan 2, vaksin Sputnik V milik Rusia memang mampu menghasilkan antibodi terhadap virus SARS-CoV-2. Namun, vaksin ini belum selesai melakukan uji klinis tahap 3. 

Persoalannya, Rusia telah mengumumkan kalau vaksin ini bisa digunakan oleh publik. Padahal, uji klinis 3 merupakan fase yang amat krusial dalam pembuatan vaksin. Para ahli yang tidak terlibat dalam pembuatan Sputnik V mengatakan, hanya lewat uji klinis III yang dapat memastikan apakah sebuah vaksin benar-benar mampu mencegah COVID-19. 

Mau tahu lebih jauh mengenai COVID-19? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, kamu bisa menghubungi dokter ahli kapan saja dan di mana saja. Praktis, kan? 


Referensi:
The New York Times. Diakses pada 2020. Coronavirus Vaccine Tracker
The New York Times. Diakses pada 2020. Different Approaches to a Coronavirus Vaccine
CDC. Diakses pada 2020. Vaccine Testing and the Approval Process
WHO. Diakses pada 2020. Coronavirus disease (COVID-19) pandemic
The Conversation Diakses pada 2020. Here’s why the WHO says a coronavirus vaccine is 18 months away
The Guardian. Diakses pada 2020. When will a coronavirus vaccine be ready? 
The GISAID Global Initiative on Sharing All Influenza Data. Diakses pada 2020. COVID-19 Dashboard by the Center for Systems Science and Engineering (CSSE) at Johns Hopkins University
Netflix. Diakses pada 2020. Coronavirus Explained - The Race for a Vaccine
CNN. Diakses pada 2020. Widespread Covid-19 vaccination not likely available until mid-2021, World Health Organization says
CNN. Diakses pada 2020. Vaksin Corona Rusia Kontroversial Sukses Picu Respons Imun