• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kita Semua Vs Virus Corona, Siapa Pemenangnya?

Kita Semua Vs Virus Corona, Siapa Pemenangnya?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - “Dalam dua pekan terakhir, jumlah kasus COVID-19 di luar Tiongkok telah meningkat 13 kali lipat. COVID-19 bisa dikategorikan sebagai pandemi” ujar Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Maret 2020 lalu.

COVID-19 membuat negara adidaya jadi tak berdaya. Virus corona terbaru ini, SARS-CoV-2, telah memukul telak empat negara tiada ampun. Mulai dari Tiongkok, Italia, Iran, dan Korea Selatan. Kondisi ini jadi penanda ratusan negara terjangkit lainnya, yang kini sedang kesulitan melawan serangan virus baru ini. 

Pandemi bukanlah kata yang main-main. Virus corona yang jahat telah membuat dunia demam dan batuk-batuk. Sekelompok mikroorganisme yang tak terlihat mata, kini menghebohkan seisi dunia. 

Penyebaran COVID-19 bukan lagi sesuatu yang bisa dihentikan dengan mudah dan cepat. Namun, kita masih bisa menghambat penyebarannya. Ingat, kita. Kita harus mulai melakukannya, dari sekarang. 

Baca juga: WHO: Gejala Ringan Corona Bisa Dirawat di Rumah

Kata Kuncinya “Kita”

Orang yang terjangkit virus corona ini biasanya mengalami demam (87,9 persen) dan batuk (67,7 persen). Gejala ringan lainnya juga bisa terjadi, tetapi tidak terlalu banyak. Tingkat keparahan gejala yang dialami pengidapnya bermacam-macam. Akan tetapi, bagi beberapa orang yang terjangkit virus ini, bisa jadi tak menunjukkan gejala sama sekali. 

Sejauh ini 80 persen COVID-19 menyebabkan gejala ringan. Kira-kira hanya 1–3 persen kasusnya yang mengakibatkan kematian. Angka kematian ini kebanyakan terjadi pada lansia dan mereka yang mengidap penyakit kronis. 

Ingat virus corona sifatnya sangat mudah menular, bahkan lebih menular ketimbang flu. Setelah seseorang terinfeksi, rata-rata butuh 5–6 hari hingga timbul gejala atau rasa sakit (masa inkubasi 2–14 hari). Namun, pada periode ini orang tersebut sudah bisa menyebarkan virus corona ke orang lain. Bahkan, ketika dirinya merasa sehat-sehat saja. 

Itulah bagaimana virus ini bisa menyebar ke seluruh dunia dengan super cepat. Itu pula alasan WHO mengkategorikan COVID-19 sebagai pandemi. Namun, apa yang WHO katakan selanjutnya juga sama pentingnya: 

“Semua negara masih bisa mengubah ’arah’ pendemi ini” jelas Tedros Adhanom.

Apa yang dikatakan Tedros, bergantung pada hal-hal yang harus kita lakukan masing-masing. Ingat, kata kuncinya “kita”.

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Ini Hal yang Harus dan Jangan Dilakukan

Kita Bersama-sama, Turunkan Krisis

Mau tahu kondisi apa yang sangat mengerikan di tengah pandemi COVID-19? Penyakit ini bisa menjadi sangat berbahaya ketika semua orang tertular secara bersamaan, sehingga membanjiri fasilitas kesehatan. Sudah kebayang betapa kelamnya kondisi tersebut? 

Rumah sakit di manapun itu, mempunyai kapasitas merawat pasien, sesuai dengan tempat tidur atau ruangan yang mereka miliki. Contoh simpelnya seperti ini. 

  1. Katakanlah satu rumah sakit (RS) di daerahmu memiliki 20 tempat tidur. Beberapa kamar telah terisi oleh pasien lainnya. Mulai dari pasien stroke, serangan jantung, kecelakaan, dan lain-lain. Sebut saja pasien non-COVID-19.

  2. Seorang yang masih sehat beraktivitas seperti bisa. Menggunakan transportasi massal untuk pergi ke kantor, lalu tertular COVID-19. Namun, dirinya tak langsung merasa sakit. Bahkan, sampai beberapa hari.

  3. Hari selanjutnya, dirinya pergi ke pusat perbelanjaan atau tempat umum lainnya. Secara tidak sadar menularkannya ke empat orang lainnya. 

  4. Tiga orang mengalami gejala ringan. Sementara itu orang keempat, yaitu lansia mengalami gejala parah, sehingga harus dibawa ke RS. Dengan kata lain, 1 dari 20 kamar rumah sakit (yang sudah diisi oleh pasien lainnya, non-COVID-19) terisi oleh pasien COVID-19.

  5. Tiga orang lainnya yang masih merasa “sehat”, tetapi sudah terjangkit virus corona, beraktivitas seperti biasa. Menggunakan transportasi massal, menuju kantor, dan menulari beberapa orang lainnya pada hari tersebut.

  6. Beberapa orang lainnya yang baru tertular, menularkannya lagi pada orang lain. Begitulah seterusnya. 

  7. Dari banyaknya jumlah orang yang tertular, 20 persen dari mereka perlu menerima perawatan di RS. Lama-kelamaan proses di atas (tahap No.6) memperbanyak jumlah orang yang ke RS perharinya. 

  8. Ke-20 kamar RS di daerahmu pun terisi penuh. Kini, krisis pun dimulai. 

  9. Pasien COVID-19 yang parah tak bisa mendapatkan perawatan.

  10. Beberapa yang harusnya bisa diselamatkan, meninggal dunia.

  11. Orang dengan penyakit lainnya (non-COVID-19), seperti asma, diabetes, jantung, kanker, dan lain-lain, pun tak bisa mendapat perawatan, dan di antaranya bisa meninggal dunia.

Langkah 1–11 bisa terjadi di berbagai wilayah atau negara. Begitulah siklus COVID-19 yang bisa menyebabkan krisis pada fasilitas kesehatan. 

Lonjakan kasus yang parah ini menghasilkan kematian yang harusnya bisa dihindari. Pakar di luar sana menyebutnya sebagai avoidable deaths

Inilah yang terjadi di Korea Selatan, Iran, dan Italia. Semula hanya 100 kasus, tetapi bertambah 5.000 dalam kurun waktu kurang dari dua minggu. Kebanyakan pasien COVID-19 meninggal dunia karena tak bisa mendapatkan perawatan di RS. 

Krisis fasilitas kesehatan atau penuhnya RS memang berisikan kasus-kasus parah. Namun, disebabkan oleh orang-orang yang tak merasa sakit, dan menularkan penyakitnya di tempat umum. Artinya, orang-orang yang bisa mencegah avoidable death ini adalah mereka yang merasa sehat, tetapi telah terjangkit virus corona. Siapa mereka? Kita semua. 

Baca juga: Cek Risiko Tertular Virus Corona secara Online di sini

Kita Telah “Terinfeksi”

Untuk menghambat penyebaran virus corona, kita harus “menganggap” kalau tubuh telah tertular virus ini. Profesor infectious disease modelling, Graham Medley, di London School of Hygiene and Tropical Medicine mengatakan:

“Saya pikir cara paling baik (mencegah penularan virus corona) dengan membayangkan bahwa kamu mengidap virus tersebut, dan mengubah perilaku sehingga tak menularkannya kepada orang lain”

Dengan menghindari menggunakan kendaraan umum, tempat-tempat umum, kantor, atau bahkan berkumpul bersama teman-teman, artinya kita telah mengurangi kemungkinan untuk “tertular” dan “menularkan”. Kondisi ini disebut dengan social distance. 

Jika banyak dari kita yang melakukan tindakan ini, virusnya memang masih menyebar, tetapi kecepatannya lebih lambat. Seiring waktu banyak yang mungkin tertular, tetapi kasus parah yang muncul di RS per harinya menjadi sedikit. Kondisi inilah yang tidak akan membanjiri fasilitas kesehatan atau RS. 

Dengan begitu kamar-kamar atau fasilitas di RS masih tersedia. Alhasil, semua pasien, baik COVID-19 maupun bukan, bisa mendapat perawatan. Bahkan, angka kematian karena COVID-19 bisa berkurang.

Kita yang Menentukan Pilihan

Kesimpulanya kini ada dua skenario. Pertama, terjadinya krisis fasilitas kesehatan yang menyebabkan terjadinya avoidable death. Kondisi ini diakibatkan karena perilaku yang abai, lalai, masa bodoh, gegabah, ceroboh, seenaknya, sembrono—apa pun namanya.

Skenario kedua, RS yang fasilitas dan sumber dayanya masih tersedia. Mulai dari kamar hingga tenaga medis. Semua pasien COVID-19 dan non-COVID-19 bisa mendapatkan perawatan. Avoidable death bisa dihindari. 

Namun, skenario kedua ini hanya bisa terjadi jika kita, semua orang, melakukan perannya masing-masing. Itulah alasan para ahli memberi imbauan #FlattenTheCurve atau #RatakanKurvanya dengan social distancing, dan tinggal di rumah selama mungkin.

Itulah alasan berbagai perusahaan di banyak negara mengimbau karyawannya untuk bekerja dari rumah. Itu pula yang membuat berbagai kegiatan lainnya, seperti liga-liga olahraga dan lain-lain di banyak negara dibatalkan, untuk saat ini.

Mungkin kelihatannya berlebihan. Namun, cara ini sudah terbukti berhasil sebelumnya. 

Kita Semua Belajar dari Sejarah 

Pada 1918, pandemi flu Spanyol datang diam-diam dan mengejutkan penduduk Bumi. Kala itu 500 juta orang di seluruh dunia terinfeksi penyakit ini. Jumlah korbannya tak main-main, diperkirakan mencapai 50 juta kematian.

Social distancing bukanlah bualan belaka. Di tengah pandemi itu ada dua kota yang bisa menjadi pembelajaran kita bersama, yaitu Philadelphia dan St. Louis, Amerika Serikat. Kedua kota tersebut menangani dan merespons pandemi dengan cara yang berbeda.

Di Philadelphia, pemerintah dan pejabat kesehatan setempat mengizinkan pawai besar tetap berlangsung. Kegiatan masih berjalan dengan normal. Sementara itu, di St. Louis lain ceritanya.

Pemerintah setempat sudah siap bertempur melawan pandemi. Mereka menutup sekolah, teater, restoran, dan tempat umum lainnya. Lalu, bagaimana dampaknya?

Celakanya, pasien RS di Philadelphia membludak. Banyak dari mereka yang meninggal dunia karena krisis fasilitas kesehatan. Berbeda dengan St. Louis, kota itu mampu mencegah angka kematian yang berlebihan. 

Kisah Philadelphia dan St. Louis telah lewat, sudah menjadi sejarah. Namun, satu abad kemudian, kita ditemukan kembali dengan situasi yang hampir sama. Kita dihadapkan lagi dengan dua skenario. Skenario “akankah kamu terjangkit?” dan “kapan akan terjangkit?” virus corona. 

Kedua skenario ini bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati. Bahkan, mungkin untuk seseorang yang kita kenal. Oleh karena itu, kita harus bertindak, sekarang. Kita… bukan kami, kamu, dia, atau pula mereka. Namun, kita semua melawan virus corona. 

Nah, andaikan dirimu mencurigai diri atau anggota keluarga mengidap infeksi virus corona, atau sulit membedakan gejala COVID-19 dengan flu, segeralah tanyakan pada dokter. 

Kamu bisa bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Kamu tidak perlu ke rumah sakit dan meminimalkan risiko terjangkit berbagai virus dan penyakit.

Lewat aplikasi ini, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. 1918 Pandemic (H1N1 virus).
The Independent - UK and Worldwide News. Diakses pada 2020. Coronavirus: Pretend you are infected already to protect yourself, advises health professor. 
CNBC. Diakses pada 2020. These charts show how fast coronavirus cases are spreading — and what it takes to flatten the curve.
The New York Times. Diakses pada 2020.Which Country Has Flattened the Curve for the Coronavirus?
Live Science. Diakses pada 2020. Coronavirus: What is 'flattening the curve,' and will it work?
Vox. Diakses pada 2020. Why fighting the coronavirus depends on you.
WHO. Diakses pada 2020. Report of the WHO-China Joint Mission on Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).