• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Inilah 3 Aktivitas Seksual yang Bisa Menularkan Sifilis

Inilah 3 Aktivitas Seksual yang Bisa Menularkan Sifilis

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Sebagai salah satu penyakit menular seksual (PMS), sifilis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum, yang umumnya menyebar lewat aktivitas seksual. Meski pada beberapa kasus dapat juga menular melalui pajanan cairan tubuh (seperti darah) dan dari ibu ke janin dalam kandungan. Perlu diketahui bahwa bakteri penyebab sifilis tidak bisa menular lewat penggunaan barang-barang pribadi, alat makan, dudukan toilet, atau kontak fisik biasa seperti berjabat tangan atau berpelukan.

Jadi, dapat dikatakan bahwa salah satu cara termudah dan terumum dari penularan sifilis adalah aktivitas seksual. Lantas, aktivitas seksual yang seperti apa sih yang bisa menularkan penyakit ini? Menurut US National Library of Medicine, National Institute of Health, berikut beberapa jenis aktivitas seksual yang bisa menularkan sifilis:

1. Penetrasi Mr P ke Miss V

Saat melakukan hubungan seksual, bakteri T. pallidum pada alat kelamin dapat menyebar langsung ketika terjadi penetrasi Mr P ke Miss V. Risiko penularan juga dapat meningkat jika cairan orgasme salah satu pengidap terkena kelenjar getah bening, karena bakteri jadi lebih rentan menyebar ke seluruh tubuh.

Baca Juga: 5 Penyakit Kelamin yang Biasa Mengidap Anak Muda

2. Seks Oral

Seks oral adalah aktivitas seksual yang dilakukan dengan memberi rangsangan pada Mr P, Miss V atau anus dari pasangan, dengan menggunakan bibir, mulut, dan lidah. Aktivitas seks ini memang sering dianggap aman dari risiko penularan penyakit menular seksual. Padahal, seks oral juga bisa menularkan penyakit menular seksual (termasuk sifilis), jika dilakukan tanpa menggunakan kondom.

3. Seks Anal

Berbeda dengan oral, seks anal adalah aktivitas seksual yang dilakukan dengan memasukkan Mr P ke dalam lubang anus. Meski sering dikaitkan dengan hubungan homoseksual, seks anal juga sebenarnya banyak dilakukan oleh para heteroseksual. Aktivitas seksual seperti ini berisiko karena selain menyebabkan alat kelamin luka, seks anal juga dapat meningkatkan risiko penularan bakteri dan virus penyebab penyakit menular seksual.

Itulah 3 jenis aktivitas seksual yang dapat menularkan sifilis. Terapkanlah aktivitas seksual yang aman agar terhindar dari penyakit ini. Sebagai upaya pencegahan, selalu gunakan kondom ketika berhubungan seks (terutama jika tidak yakin bahwa pasangan seksual bebas dari penyakit) dan hindari bergonta-ganti pasangan. Agar lebih mudah dan cepat, beli kondomnya lewat aplikasi Halodoc saja. Diantar dalam 1 jam, lho. Yuk, download aplikasinya!

Baca Juga: 6 Tanda Fisik Jika Mengidap Penyakit Seksual

Jenis Sifilis Berdasarkan Tahapan Gejalanya  

Gejala sifilis muncul secara bertahap. Mulai dari primer, sekunder, laten, dan tersier. Selain tahapan gejala itu, ada juga sifilis kongenital, yang menyerang ibu hamil. Berikut akan dijelaskan satu persatu:

1. Sifilis Primer

Ditandai dengan munculnya luka pada alat kelamin. Luka tersebut biasanya muncul di area bibir, mulut, amandel, atau jari, dan terjadi setelah 10 - 90 hari bakteri masuk ke dalam tubuh. Gejala lain yang juga dapat muncul adalah pembengkakan kelenjar di area leher, ketiak, atau pangkal paha.

2. Sifilis Sekunder

Setelah luka mulai hilang, gejala sifilis sekunder biasanya akan muncul. Tahapan gejala ini ditandai dengan ruam kemerahan pada tubuh, terutama di telapak tangan dan kaku. Gejala juga dapat muncul pada kulit kelamin di area Miss V atau sekitar anus, serta sakit kepala, nyeri sendi, demam, penurunan berat badan, rambut rontok, dan pembengkakan limpa.

3. Sifilis Laten

Pada tahapan ini, bakteri sifilis ada dalam tubuh, tetapi tidak menimbulkan gejala. Bakteri sifilis pada tahap ini tetap bisa ditularkan melalui hubungan seksual atau pajanan cairan tubuh.

Baca Juga: 5 Penyakit Kelamin Berbahaya yang Perlu Diketahui

4. Sifilis Tersier

Gejala pada tahapan ini muncul beberapa tahun setelah infeksi pertama terjadi. Di tahap ini, bakteri sifilis menyebar ke organ tubuh lain (seperti otak, jantung, pembuluh darah, hati, tulang dan sendi), sehingga pengidapnya rentan mengalami kebutaan, stroke, atau penyakit jantung.

5. Sifilis Kongenital

Merupakan jenis sifilis yang ditularkan dari ibu ke janin. Risiko penularan sebenarnya dapat berkurang jika ibu hamil pengidap sifilis konsumsi obat sebelum kehamilan berusia 4 bulan. Namun jika tidak segera diobati, ibu hamil pengidap sifilis rentan mengalami keguguran, bayi lahir mati, kematian mendadak bayi setelah dilahirkan, serta bayi lahir prematur dan mengidap sifilis bawaan.

 

Referensi:
US National Library of Medicine, National Institute of Health. Diakses pada 2020. Syphilis Transmission: A Review of the Curet Evidence. Sex Health, 12(2), pp. 103-9.
Center for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Basic Fact Sheet. Syphilis - CDC Fact Sheet.
National Health Service UK. Diakses pada 2020. Syphillis
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Syphilis.